MALAM itu lengang.
Jam dinding berdetak pelan.
Suara sendok jatuh di dapur memecah keheningan.
“Ibu kehilangan uang!” teriaknya.
Nada suaranya tajam.
Empat anak berlari ke dapur.
Wajah-wajah terkejut.
Uang lima ratus ribu rupiah, yang disimpan di atas lemari, hilang.
Ibu berdiri, matanya menyapu mereka.
“Siapa yang mengambilnya?”
Tak ada yang menjawab.
Hening, hanya napas yang terdengar.
BACA JUGA: 10 Orang Terkaya di Dunia saat Ini, Siapa Aja?
Satu per satu dicurigai
Dina, anak pertama.
Ia paling tinggi.
Ia menunduk, memegang ujung bajunya.
“Aku di kamar, Bu. Belajar.”
Tapi suaranya pelan, ragu.
Rian, anak kedua.
Tubuhnya tegap, wajahnya keras.
“Aku main bola di halaman. Aku bahkan tidak masuk dapur.”
Nada bicaranya yakin.
Lila, anak ketiga.
Tubuhnya kurus, mata selalu gelisah.
“Aku cuma bikin teh tadi sore. Setelah itu ke ruang tamu.”
Ia menggigit kuku.
Bimo, anak keempat, paling kecil.
Ia memeluk boneka tuanya.
“Bukan aku, Bu… aku takut.”
Air matanya mengalir.
Ibu menghela napas.
“Jangan ada yang berbohong. Uang itu untuk belanja besok.”
Petunjuk di dapur
Ibu memeriksa sekitar.
Kursi bergeser ke arah lemari.
Gelas teh masih ada di meja, belum dicuci.
Di lantai, ada serpihan kertas kecil.
“Siapa yang tadi di dapur paling akhir?” tanya ibu.
Lila spontan menunjuk Dina.
“Tadi aku lihat Dina buka lemari.”
Dina terkejut.
“Itu tidak benar!”
Wajahnya merah.
Rian ikut bicara.
“Kalau bukan Dina, siapa lagi? Dia satu-satunya yang bisa menjangkau lemari itu tanpa kursi.”
Semua mata menatap Dina.
Kecurigaan menumpuk.
Bimo semakin keras menangis.
Ibu diam.
Ia tidak langsung menuduh.
Ia tahu, kebenaran tidak selalu ada di mulut yang paling lantang.
Ketegangan memuncak
“Aku tidak ambil!” teriak Dina.
Air matanya jatuh.
“Tapi kalian semua malah menyalahkanku.”
Rian melotot.
“Kalau bukan kamu, buktikan!”
Ibu menunduk, memperhatikan serpihan kertas di lantai.
Ia memungutnya.
Ternyata itu bekas pembungkus permen.
Wangi manis masih terasa.
Mata ibu menyipit.
Ia ingat sesuatu.
Pagi tadi, ia melihat salah satu anak memasukkan permen ke dalam saku.
“Bimo…” suara ibu lembut.
“Kenapa kamu menangis dari tadi?”
Bimo kaget.
Ia menunduk.
Boneka di pelukannya jatuh.
Dari bawah boneka, terlihat ujung lembaran uang.
Semua terdiam.
Mata melebar, tak percaya.
Kebenaran terungkap
Bimo gemetar.
“Aku… aku cuma mau beli permen, Bu. Aku takut bilang… aku sembunyikan di boneka.”
Suaranya pecah.
Dina, Rian, dan Lila saling pandang.
Rasa curiga yang sejak tadi menekan, kini berubah jadi hening.
Ibu menghela napas panjang.
“Jadi kamu pelakunya.”
Bimo menangis keras.
“Aku minta maaf, Bu… aku takut dimarahi.”
Ibu berlutut, menatapnya dalam-dalam.
“Bimo, dengarkan baik-baik. Ibu tahu kamu yang ambil, karena ada tiga hal.”
BACA JUGA: Tebak 10 Hal Ini: Apa atau Siapa Aku?
Pertama, kursi bergeser.
“Hanya kamu yang butuh kursi untuk menjangkau.”
Kedua, serpihan permen.
“Kamu satu-satunya yang tadi pagi punya permen di saku.”
Ketiga, tangismu.
“Anak yang bersalah akan lebih gelisah daripada yang dituduh.”
Semua diam.
Kebenaran jelas.
Penutup
Malam itu berakhir dengan tangisan kecil Bimo.
Bukan tangisan penolakan, tapi penyesalan.
Ibu memeluknya, lembut namun tegas.
“Uang bisa dicari lagi, Nak. Tapi kejujuran… sekali hilang, sulit kembali.”
Tiga anak lainnya terdiam, belajar dari kejadian itu.
Dan sejak malam itu, setiap kali mereka menatap dapur, mereka selalu ingat:
Kejujuran lebih berharga daripada lima lembar uang seratus ribu. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
