DI Mekah, ketika penderitaan Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya memuncak, Allah SWT menurunkan kisah Nabi Yusuf a.s. sebagai penghibur hati dan bekal spiritual. Kisah ini bukan sekadar sejarah; ia adalah cermin pengalaman manusiawi—penuh ujian, pengkhianatan, dan keteguhan iman.
Allah SWT berfirman dalam Surat Yusuf ayat 3:
“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.”
Turunnya kisah ini sangat relevan. Rasulullah ﷺ sedang menghadapi tekanan dari kaumnya sendiri; hanya enam puluh orang yang setia mendampingi beliau. Kondisi ini mirip Yusuf, yang dilempar ke sumur oleh saudara-saudaranya, dijual sebagai budak, dan dipenjara tanpa alasan.
—
Sumur atau Penjara: Tingkat Kesulitan Yusuf
Pertanyaannya: mana yang lebih berat bagi Yusuf, sumur atau penjara? Di penjara ia berada selama sembilan tahun, sementara di sumur hanya tiga hari. Namun tiga hari itu terasa lebih sulit, karena Yusuf masih anak-anak, jauh dari perlindungan orang tua, dan menghadapi kesepian serta ketakutan.

Sama seperti Rasulullah ﷺ yang menghadapi permusuhan di Mekah, Yusuf menghadapi ujian manusiawi yang berat, tapi tetap teguh dan tidak serampangan. Kesabaran Yusuf mengajarkan satu hal: liku-liku kehidupan mesti dihadapi dengan keteguhan akhlak, iman, dan kesabaran.
Allah menegaskan dalam Surat Yusuf ayat 90: “Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
—
Doa Rasulullah ﷺ di Tengah Penderitaan
Tahun ke-10 kenabian dikenal sebagai Tahun Kesedihan, karena Rasulullah ﷺ kehilangan pamannya, Abu Thalib, dan istrinya, Siti Khadijah. Untuk meringankan penderitaan sahabatnya, beliau memerintahkan mereka berhijrah ke Habasyah. Beliau sendiri pergi ke Thaif, tetapi yang diterimanya hanyalah pengusiran dan lemparan batu hingga berdarah.
Dalam kesedihan itu, Rasulullah ﷺ berdoa:
“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadu atas lemahnya kekuatanku, sedikitnya upayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih, Engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Rabbku. Kepada siapa Engkau serahkan aku? Kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku? Ataukah kepada musuh yang Kau beri kuasa atasku?”
“Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli. Namun, keselamatan (rahmat)-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menerangi kegelapan, dan dengan-Nya menjadi baik urusan dunia dan akhirat, dari turunnya murka-Mu kepadaku atau jatuhnya kemurkaan-Mu atasku.”
“Bagi-Mu segala keridhaan hingga Engkau ridha. Tiada daya dan upaya kecuali dengan-Mu.”
Doa ini memancarkan tiga hal:
1. Kerendahan hati Rasulullah ﷺ sebagai hamba, bukan sekadar pemimpin besar.
2. Kepasrahan total kepada Allah, tidak peduli perlakuan manusia, asal Allah tidak murka.
3. Kecintaan beliau ﷺ kepada umat, tidak mendoakan kebinasaan Thaif, bahkan berharap generasi mereka kelak beriman.
—
Persamaan Penderitaan Yusuf dan Rasulullah ﷺ
Yusuf a.s. dimusuhi oleh saudara-saudaranya, begitu pula Rasulullah ﷺ dimusuhi oleh kaumnya sendiri, terutama Abu Lahab, pamannya. Abu Lahab menentang risalahnya, menghina, menyiksa, hingga melakukan blokade sosial dan ekonomi. Allah SWT menurunkan Surat Al-Lahab untuk menegaskan kerasnya permusuhan ini.
Kisah Yusuf yang dikisahkan kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar penghibur hati, tetapi juga bekal strategis untuk hijrah ke Madinah. Dua tahun setelah kisah itu dikisahkan, Allah memerintahkan kaum Muslimin berhijrah. Mirip Yusuf yang meninggalkan Palestina menuju Mesir, jauh dari ayah dan keluarganya.
—
Pelajaran Kesabaran dan Akhlak Yusuf
Allah SWT menekankan bahwa kesabaran dan keikhlasan adalah kunci menghadapi ujian hidup. Ulama berkata:
“Tidaklah seseorang yang tengah ditimpa kesedihan kemudian membaca kisah Nabi Yusuf, melainkan ia akan bahagia.”
Yusuf a.s. adalah sosok penyabar, tetap semangat, tidak kehilangan cita-cita, dan tidak putus asa meski semua kesulitan menimpa dirinya. Di sisi lain, ketika kebahagiaan datang, ia tetap rendah hati, tidak membalas kejahatan saat kekuasaan berada di tangannya.
—
Hidup Bergulir Antara Kesulitan dan Kesenangan
Kisah Yusuf mengajarkan: hidup manusia selalu bergulir antara kesulitan dan kebahagiaan. Tidak ada yang hanya diliputi kesedihan, begitu pula tidak ada yang hanya menikmati kesenangan. Semua adalah ujian dari Allah SWT yang membentuk karakter, kesabaran, dan keteguhan hati manusia.
—
Fokus pada Pengalaman Kemanusiaan Yusuf
Poin penting: kisah Yusuf menyoroti pengalaman kemanusiaannya, bukan mukjizatnya. Mukjizat Yusuf bukan kemampuan supranatural, tetapi keteguhan sikapnya menghadapi liku-liku hidup, dari sumur, penjara, hingga akhirnya menjadi penguasa Mesir.
Allah SWT menegaskan dalam Surat Yusuf ayat 87: “Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.”
—
BACA JUGA: Menangisnya Mereka yang Membaca Al-Qur’an
Kesuksesan Dunia dan Akhirat Yusuf
Akhir perjalanan Yusuf adalah kesuksesan sempurna: menjadi penguasa Mesir, menyelamatkan rakyat dari kelaparan, dan mengelola pemerintahan dengan bijak. Di akhirat, kesuksesannya tercermin dari keberhasilan menolak godaan istri majikannya dan tetap menjaga kehormatan.
Allah SWT merangkum pencapaian Yusuf dalam Surat Yusuf ayat 101:
“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian tabir mimpi. Ya Tuhanku, Pencipta langit dan bumi, Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku bersama orang-orang saleh.”
Kisah ini mengajarkan bahwa kesabaran, akhlak mulia, dan keteguhan iman akan membawa manusia pada kesuksesan dunia dan akhirat. Rasulullah ﷺ meneladani hal ini dalam menghadapi kesulitan dakwah di Mekah, menguatkan hati untuk hijrah, dan menegakkan risalah meski dibenci dan diusir oleh kaumnya sendiri.
Membaca kisah Yusuf bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi meresap ke dalam jiwa sebagai panduan spiritual dan moral, bagaimana menghadapi ujian, menjaga kesabaran, dan tetap rendah hati dalam keberhasilan. Allah selalu menyiapkan jalan bagi hamba-Nya yang sabar, berakhlak mulia, dan bergantung sepenuhnya kepada-Nya. []
Sumber: Amru Khalid, Khowathir Qur’aniyah, Penerbit Al-I’tishom
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

