Tabuh berbunyi gemparkan alam sunyi
Berkumandang suara adzan
Mendayu memecah sepi
Selang seli sahutan ayam
Tetapi insan kalaupun ada hanya
Mata yang jelek dipejam lagi
Hatinya penuh benci
Berdengkurlah kembali
Begitulah peristiwa di Subuh hari
Suara insan di alam mimpi
Ayo bangunlah tunaikan perintah Allah
Sujud mengharap keampunanNya
Bersyukurlah, bangkitlah segera
Moga mendapat keridhoannya
Begitulah peristiwa di Subuh hari
Setiap pagi, setiap hari
Peristiwa Shubuh – Raihan
ADA sebuah masa ketika lantunan nasyid begitu akrab di telinga umat Islam, terutama di Indonesia dan Malaysia. Nada sederhana, lirik yang sarat makna, serta harmonisasi suara vokal membuatnya begitu mudah diterima. Nasyid bukan sekadar hiburan, melainkan juga media dakwah yang halus namun dalam. Di era 1990-an hingga awal 2000-an, nasyid menjadi fenomena. Kaset-kaset dan CD grup nasyid laris di pasaran, konser nasyid digelar di berbagai kampus dan masjid, bahkan ada yang disiarkan langsung di televisi nasional.
Namun, sekarang suasana itu nyaris hilang. Generasi muda muslim lebih mengenal lagu religi pop ala Ramadhan, musik islami kekinian dengan sentuhan EDM, atau bahkan lebih akrab dengan musik K-Pop ketimbang nasyid. Nama-nama besar seperti Raihan, Izzatul Islam, Snada, The Fikr, atau Edcoustic perlahan memudar dari ruang dengar masyarakat. Pertanyaannya, kenapa nasyid sekarang seolah mati?
Masa Kejayaan Nasyid di Tahun 90-an
Sejarah modern nasyid tak bisa dilepaskan dari geliat dakwah kampus dan kebangkitan Islam di era 80-an dan 90-an. Nasyid awalnya berkembang di Malaysia, dibawa oleh grup-grup seperti Raihan yang merilis album legendaris Puji-Pujian pada tahun 1996. Album ini meledak di pasaran, bahkan disebut-sebut terjual lebih dari 3 juta kopi di seluruh dunia. Raihan berhasil membawa nasyid ke panggung internasional, tampil di Inggris, Kanada, hingga Timur Tengah.
Fenomena ini kemudian merambah ke Indonesia. Grup-grup seperti Snada, The Fikr, dan Izzatul Islam mulai meramaikan pasar musik Islami. Nasyid menjadi pilihan utama dalam acara dakwah kampus, pengajian remaja, hingga festival Ramadhan. Formatnya sederhana: harmoni vokal, kadang diiringi perkusi ringan atau rebana, tanpa instrumen musik modern yang berlebihan.
Selain itu, nasyid membawa suasana yang unik. Ia menawarkan kesyahduan, kesederhanaan, sekaligus semangat dakwah. Bagi generasi 90-an, menyanyikan nasyid seperti Perjalanan (Snada) atau Kembali (Edcoustic) adalah cara mengekspresikan identitas muslim yang modern tapi tetap religius.
Pergeseran: Dari Nasyid ke Lagu Religi Pop
Namun, memasuki era 2000-an, peta musik Islami mulai bergeser. Industri musik melihat potensi besar pasar lagu religi, terutama menjelang Ramadhan. Lahir lah gelombang baru lagu religi pop yang dibawakan oleh musisi mainstream. Opick dengan Tombo Ati, Ungu dengan Andai Ku Tahu, Wali dengan Cari Berkah, hingga Rhoma Irama dengan lagu-lagu islami klasiknya, semuanya ikut meramaikan.
Berbeda dengan nasyid yang terkesan sederhana, lagu religi pop dikemas lebih modern. Ada aransemen orkestra, band penuh, hingga video klip yang tayang di televisi nasional. Lagu-lagu ini diputar setiap hari menjelang buka puasa, menjadi soundtrack iklan sirup atau busana muslim. Akhirnya, posisi nasyid yang awalnya eksklusif sebagai musik dakwah kampus tergeser oleh lagu religi pop yang lebih universal dan komersial.
Perubahan ini membuat nasyid semakin kehilangan panggung. Media televisi dan radio lebih memilih memutar lagu-lagu religi pop yang dianggap lebih menjual, sementara nasyid tetap bertahan di kalangan terbatas: mahasiswa, komunitas masjid, dan pesantren.
Faktor Generasi: Anak Muda Tak Lagi Kenal Nasyid
Masalah terbesar nasyid saat ini adalah hilangnya regenerasi pendengar. Generasi Z dan Alpha tumbuh di era digital, di mana musik mudah diakses lewat YouTube, Spotify, dan TikTok. Mereka terbiasa dengan musik cepat, catchy, dan penuh visualisasi.
Bagi mereka, nasyid terdengar “kuno”, monoton, dan tidak sesuai selera. Padahal, esensi nasyid yang berupa lirik mendalam dan semangat ukhuwah seharusnya tetap relevan. Sayangnya, karena kurang inovasi, nasyid gagal menembus telinga generasi baru.
Selain itu, sebagian generasi muda tidak punya memori emosional terhadap nasyid. Jika generasi 90-an punya nostalgia saat menyanyikan nasyid bersama di acara kampus atau pesantren, anak muda sekarang lebih mengenal musik islami lewat cover lagu religi pop di YouTube atau musik islami ala Maher Zain yang dikemas modern.
Mengapa Nasyid Bisa Mati?
Ada beberapa faktor utama yang membuat nasyid seolah mati hari ini:
1- Kurangnya Inovasi
Banyak grup nasyid terjebak pada format lama: harmoni vokal tanpa instrumen. Meskipun ini menjaga orisinalitas, namun membuatnya sulit bersaing dengan musik modern.
2- Minim Dukungan Industri
Perusahaan rekaman lebih tertarik memasarkan lagu religi pop yang lebih komersial. Nasyid jarang mendapat ruang promosi di media arus utama.
3- Keterbatasan Panggung
Jika dulu nasyid lekat dengan dakwah kampus, kini kultur dakwah kampus pun berubah. Generasi baru lebih memilih podcast, kajian online, atau musik islami kontemporer.
4- Tidak Ada Regenerasi Grup
Nama-nama besar nasyid berhenti berkarya atau kehilangan popularitas, sementara grup baru sulit muncul. Akhirnya, pasar kosong tanpa penerus.
5- Perubahan Selera Musik
Generasi digital lebih menyukai musik cepat, penuh instrumen, dengan visualisasi menarik. Nasyid yang sederhana sulit menyaingi.
Bisakah Nasyid Bangkit Lagi?
Meski kini meredup, bukan berarti nasyid benar-benar mati. Justru ada peluang besar jika para pelaku nasyid mampu beradaptasi dengan zaman. Beberapa strategi yang bisa ditempuh antara lain:
1- Menggunakan Platform Digital
Nasyid perlu masuk ke ruang-ruang digital: YouTube, Spotify, TikTok, dan Instagram. Lagu-lagu nasyid bisa dikemas dengan video kreatif, bahkan challenge di media sosial agar mudah viral.
2- Menggandeng Musik Modern
Bukan berarti harus meninggalkan orisinalitas, tapi nasyid bisa dikolaborasikan dengan musik akustik, EDM ringan, atau bahkan lo-fi yang sedang digandrungi anak muda.
3- Kolaborasi Lintas Generasi
Bayangkan jika grup nasyid klasik seperti Snada berkolaborasi dengan musisi muda islami. Hal ini bisa menjadi jembatan antara generasi 90-an dan Gen Z.
4- Mengangkat Isu Kekinian
Lirik nasyid jangan hanya berkutat pada ukhuwah atau ibadah. Bisa juga mengangkat isu sosial: ekologi, perdamaian, kesehatan mental, hingga perjuangan Palestina. Dengan begitu, nasyid kembali relevan.
5- Menghidupkan Kembali Festival Nasyid
Dulu festival nasyid marak di kampus dan sekolah. Jika kegiatan ini dihidupkan kembali, generasi muda bisa mengenal nasyid dan menemukan keseruannya.
Refleksi: Nasyid, Identitas yang Jangan Hilang
Nasyid bukan sekadar genre musik, tapi juga bagian dari identitas dakwah Islam modern. Ia menjadi saksi bagaimana generasi muslim di era 90-an mengekspresikan diri dengan cara yang santun, bermakna, dan penuh semangat ukhuwah. Jika hari ini nasyid nyaris hilang, itu bukan sekadar perubahan selera musik, tapi juga hilangnya sebuah warisan budaya dakwah.
Mungkin benar bahwa nasyid telah mati di panggung utama industri musik, tetapi ia masih hidup di hati mereka yang pernah merasakan kehangatannya. Dan sebagaimana musik selalu berevolusi, nasyid pun punya peluang untuk lahir kembali dalam wajah baru.
Pertanyaannya bukan lagi “kenapa nasyid mati?”, melainkan “apakah kita mau menghidupkannya kembali?” Karena selama masih ada generasi yang rindu dakwah melalui harmoni suara, nasyid tak akan benar-benar mati. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
