Kasidah Maulid di Nusantara: Antara Cinta, Syair, dan Sejarah

8 Min Read
Foto: Freepik

“ANAKKU, tahukah engkau apa itu kasidah?” Seorang guru tua membuka percakapan di serambi pesantren, dengan nada lembut. “Kasidah, dari bahasa Arab qaṣīdah, artinya syair atau puisi yang disusun dengan rima, bait, dan irama tertentu. Tetapi dalam tradisi Islam, kasidah bukan hanya lantunan kata, melainkan doa, cinta, bahkan perjalanan ruhani.”

Sang murid mengangguk. Lalu bertanya, “Kalau begitu, apa bedanya kasidah dengan sirah Nabawiyah?”

Guru tersenyum. “Sirah Nabawiyah adalah catatan sejarah kehidupan Nabi ﷺ, ditulis dengan pendekatan sejarah, kronologi, fakta, dan riwayat. Adapun kasidah maulid, ia lahir dari hati yang merindu. Bukan sekadar menceritakan, tetapi memuji, melantunkan cinta, dan mengekspresikan kegembiraan atas hadirnya Sang Kekasih Allah ke dunia. Kasidah maulid adalah syair cinta, sementara sirah adalah kisah perjalanan.”

—

Mengapa Ulama Menulis Kasidah Maulid?

Sejarah mencatat, banyak ulama besar menulis kitab maulid dan kasidah, bukan untuk menggantikan sirah, tetapi melengkapinya.
Sirah Nabawiyah memberikan kita “pengetahuan”, sementara kasidah maulid memberi kita “rasa”.

Rasa cinta kepada Nabi ﷺ tidak cukup dituturkan secara dingin dalam kronologi sejarah. Ia butuh bahasa jiwa, irama yang menyentuh, doa yang merasuk. Maka lahirlah karya-karya maulid: Al-Burdah, Barzanji, Diba’i, Simthud Durar, dan lainnya.

Ulama sadar, umat tidak semua adalah sejarawan. Banyak dari mereka adalah petani, nelayan, perajin, atau pedagang. Mereka butuh sarana untuk mendekat kepada Nabi ﷺ melalui cara yang indah, menyentuh, dan mudah diingat: lewat kasidah.

—

Al-Burdah: Selimut Kasih yang Menghangatkan

Kisahnya bermula di Mesir, abad ke-13 M. Imam al-Busiri (1255–1294 M), seorang penyair besar yang juga seorang sufi, jatuh sakit parah.
Dalam keadaan lemah, ia menulis kasidah memuji Nabi ﷺ, penuh dengan doa dan permohonan syafaat. Suatu malam, ia bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ, yang kemudian menyelimutinya dengan burdah—jubah Nabi. Sejak saat itu ia sembuh, dan kasidahnya diberi nama Qasidah al-Burdah.

Tema utama Burdah adalah pujian kepada Nabi, cinta, kerinduan, pengakuan dosa, dan harapan syafaat.

Kutipannya terkenal: “Aku mengadu kepada Nabi ﷺ dalam bait-baitku, lalu beliau menutupiku dengan burdah (selimut).”

Sejak itu, Burdah dibacakan dari Mesir hingga ke Maghrib, dari Syam hingga ke Jawa. Ia menjadi kasidah paling terkenal di dunia Islam.

—

Mawlid al-Barzanji: Kalung Permata dari Madinah

Beberapa abad kemudian, di Madinah, lahirlah karya al-Barzanji, berjudul al-‘Iqd al-Jawāhir fī Mawlīd al-Nabī al-Azhār (“Kalung Permata dalam Kisah Mawlid Nabi yang Bercahaya”).

Ditulis oleh Imam Ja‘far ibn Hasan al-Barzanji (w. 1764–1766 M), seorang ulama berdarah Kurdi yang bermukim di Madinah. Kitab ini berisi kisah lahir Nabi ﷺ, doa, syair, dan pujian.

Tema utamanya adalah cinta dan kegembiraan atas lahirnya Nabi.

Di akhir bait, sering kita dengar lantunan:

“Aṭṭir Allāhumma qabrahu l-karīm…” (“Ya Allah, harumkan kuburnya yang mulia…”)

Barzanji menjadi kitab maulid paling populer di Nusantara. Hampir setiap kampung di Jawa, Sumatera, Sulawesi, hingga Maluku, mengenal “membaca Barzanji” saat maulid, aqiqah, atau walimah.

—

Ibn Dihyah dan Kitab al-Tanwīr

Lebih awal lagi, pada abad ke-13, ada Abu al-Khattab Ibn Dihyah al-Kalbi (w. 1235 M). Ia menulis kitab al-Tanwīr fī Mawlid al-Sirāj al-Munīr, ketika tinggal di Irbil, Irak.

Kitab ini ditulis untuk mendukung Sultan al-Muzaffar Abu Sa‘īd Kaukabri, penguasa Irbil dari Dinasti Zangid, yang merayakan maulid Nabi dengan meriah. Ibn Dihyah mengumpulkan dalil, hadits, dan doa sebagai legitimasi ilmiah perayaan tersebut.

Ia membuka kitabnya dengan kalimat penuh makna:  “Segala puji bagi Allah yang menerangi wujud dengan kelahiran junjungan kita Muhammad, dan menjadikan kelahirannya sebagai pelepas dari segala duka dan kesempitan.”

Inilah salah satu karya awal yang menjadi fondasi tradisi maulid.

—

Simthud Durar: Ungkapan Cinta dari Hadhramaut

Di abad ke-19, muncul karya Simthud Durar dari tangan al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi (w. 1915 M), ulama besar Hadhramaut.

Kitab ini penuh dengan pujian, doa, dan kisah lahir Nabi. Disusun dengan gaya sastra tinggi, penuh irama indah.

Kutipannya yang sering terdengar:  “Allāhumma ṣalli wa sallim ‘alayh, wa ‘alā ālihi, wa ṣaḥbihi, wa sallim.”

Simthud Durar menjadi bacaan utama di banyak majelis maulid di Indonesia, Malaysia, Yaman, dan Afrika Timur. Ia menjadi pengikat hati antara umat dan Rasulullah ﷺ.

—

Maulid Diba’i: Kisah yang Ringkas dan Merakyat

Lebih awal, abad ke-16, ada Maulid Diba’i, karya al-Imam al-Hafizh Abd al-Rahman ad-Diba’i (w. 1537 M) dari Zabidi, Yaman.

Kitab ini sederhana, tetapi penuh dengan kisah kelahiran Nabi, doa, dan pujian. Ringkas, mudah dipahami, dan cepat menyebar ke seluruh dunia Islam.

Di Nusantara, Maulid Diba’i sering dibacakan di masjid-masjid desa, kadang disertai hadrah dan rebana.

—

Latar Belakang dan Penyebaran di Nusantara

Mengapa kasidah maulid begitu kuat hidup di Nusantara?

Pertama, karena tradisi lisan dan seni suara sangat dekat dengan masyarakat Nusantara. Orang Jawa punya tembang, orang Bugis punya syair, orang Melayu punya pantun. Kasidah maulid menemukan ruang subur di hati masyarakat yang memang cinta syair.

Kedua, karena ajaran cinta Nabi ﷺ mudah diterima melalui puisi dan irama. Ulama yang datang dari Yaman membawa Simthud Durar dan Diba’i, sementara para haji membawa Barzanji dari Hijaz. Perlahan, kasidah maulid menjadi bagian dari identitas Islam Nusantara.

Ketiga, karena maulid selalu dikaitkan dengan perayaan sosial: kenduri, selamatan, walimah, aqiqah. Dengan membaca kasidah maulid, umat merasakan kebersamaan, cinta, dan doa dalam satu majelis.

—

Persamaan dan Perbedaan Kasidah & Sirah Nabawiyah

Persamaan: Sama-sama berbicara tentang Nabi ﷺ. Sama-sama ingin mengenalkan, memuliakan, dan menumbuhkan cinta kepada beliau.

Perbedaan: Sirah adalah fakta sejarah; kasidah adalah ekspresi cinta. Sirah menekankan kronologi, kasidah menekankan spiritualitas.

Jika sirah adalah buku pelajaran, maka kasidah adalah nyanyian hati.
Jika sirah memberi ilmu, kasidah memberi rasa.

—

Refleksi: Mengapa Kita Membaca Kasidah?

Sang guru menutup pelajarannya, “Anakku, kita membaca kasidah maulid bukan sekadar mengingat sejarah. Kita membaca untuk menghidupkan cinta. Nabi ﷺ adalah cahaya, dan cahaya itu tidak cukup hanya kita ketahui, ia harus kita rasakan.”

Sang murid termenung. Ia sadar, setiap bait kasidah maulid adalah doa, setiap irama adalah rindu, dan setiap kata adalah jalan pulang menuju Rasulullah ﷺ.

—

Kesimpulan

Kasidah maulid lahir dari hati para ulama dan sufi, sebagai ekspresi cinta kepada Nabi ﷺ. Dari Burdah di Mesir, Barzanji di Madinah, Diba’i dan Simthud Durar di Yaman, hingga menyebar ke kampung-kampung di Nusantara.

Ia bukan sekadar bacaan, tetapi pengalaman spiritual, budaya, dan sejarah yang menyatukan umat dalam cinta kepada Rasulullah ﷺ. []

Sumber: Abdul Hadi, Islam, Cakrawala Estetika dan Budaya, Pustaka Firdaus

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *