MALAM telah turun. Lampu-lampu rumah meredup. Namun di kamar anak-anak kita, justru suara masih riuh: “Ayah, sebentar lagi… aku belum mengantuk.” Kalimat itu mungkin sederhana, tetapi di baliknya tersimpan sebuah persoalan besar. Menunda tidur bukan hanya soal kebiasaan kecil, melainkan cermin dari bagaimana kita mendidik anak tentang kedisiplinan, kesehatan, dan keutuhan jiwa.
Mari kita berbincang dengan hati: bagaimana Islam, sains, dan teladan ulama memberi panduan agar anak-anak tidak terjebak dalam bahaya menunda tidur?
—
Waktu Tidur yang Sehat: Urutan Berdasarkan Usia
Para pakar kesehatan anak menyebutkan bahwa kebutuhan tidur berbeda sesuai tahap usia. Tidur bukan sekadar istirahat, melainkan fondasi pertumbuhan otak, tubuh, dan jiwa.
Bayi (0–1 tahun): 14–17 jam sehari.
Balita (1–3 tahun): 11–14 jam sehari.
Anak prasekolah (3–5 tahun): 10–13 jam sehari.

Anak sekolah dasar (6–12 tahun): 9–12 jam sehari.
Remaja (13–18 tahun): 8–10 jam sehari.
Tidur yang cukup bagaikan air yang menyuburkan pohon muda. Jika kurang, daun-daunnya layu sebelum sempat mekar.
—
Risiko Bila Anak Kurang Tidur
Kurang tidur bagi anak membawa risiko yang tidak main-main. Dari sisi medis, ia menurunkan daya tahan tubuh, mengganggu hormon pertumbuhan, dan membuat otak sulit konsentrasi. Dari sisi psikologis, anak mudah marah, sulit diatur, bahkan rentan depresi.
Allah ﷻ sendiri mengingatkan tentang fungsi malam: “Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. An-Naba’ [78]: 10–11).
Malam adalah pakaian jiwa. Ketika anak menolak tidur, sebenarnya ia menolak anugerah Allah yang menenangkan tubuh dan jiwanya.
—
Bagaimana Agar Anak Tidak Menunda Tidur?
Sering kali kita menegur: “Tidurlah cepat, besok sekolah.” Namun teguran tanpa strategi hanya menghasilkan perlawanan. Maka, ada beberapa cara yang bisa ditempuh orang tua.
1. Lakukan pembicaraan khusus
Bicaralah lembut pada anak tentang manfaat tidur. Ceritakan bagaimana tidur menumbuhkan badan dan menjaga semangat ibadah. Ibnu Qayyim menulis dalam Tuhfatul Maudūd: anak perlu diberi pemahaman dengan cara yang lembut, agar hatinya mau menerima kebenaran.
2. Jadikan olahraga sebagai kebiasaan rutin
Anak yang cukup bergerak di siang hari lebih mudah tidur nyenyak di malam hari. Rasulullah ﷺ menganjurkan anak-anak untuk bermain, berlari, bahkan memanah. Semua itu bukan sekadar olahraga, melainkan cara menyalurkan energi agar malamnya tenang.
3. Biasakan anak tidur siang
Tidur siang sebentar — qailulah — adalah sunnah. Nabi ﷺ bersabda: “Tidurlah siang, karena setan tidak tidur siang.” (HR. Thabrani). Anak yang terbiasa tidur siang lebih mudah mengatur ritme biologisnya, sehingga tidak terlalu letih di malam hari.
4. Bagikan pengalaman sebelum tidur
Alih-alih membiarkan anak bersama gawai, jadikan waktu sebelum tidur sebagai momen emas. Ceritakan kisah Rasulullah, para sahabat, atau pengalaman hidup orang tua. Kisah ibarat lampu kecil yang menuntun anak melewati gelap.
5. Atur tidur secara konsisten
Disiplin waktu tidur perlu rutinitas. Ulama salaf seperti Hasan al-Bashri menekankan bahwa membiasakan anak dengan jadwal teratur adalah bagian dari tarbiyah. Bila sejak kecil ia dilatih, kelak kedisiplinan itu akan menempel hingga dewasa.
—
Kisah Rasulullah ﷺ, Sahabat, dan Ulama tentang Waktu Tidur
Rasulullah ﷺ memiliki pola tidur yang sederhana namun penuh keberkahan. Beliau tidur awal malam, lalu bangun di sepertiga malam terakhir untuk shalat tahajud. Aisyah r.a. meriwayatkan, “Rasulullah tidak pernah begadang, kecuali karena urusan penting.” (HR. Bukhari).
Kebiasaan ini menanamkan pelajaran: jangan habiskan malam untuk hal sia-sia. Begadang tanpa tujuan membuat tubuh lelah, hati keras, dan pikiran kusut.
Para sahabat pun meneladani hal itu. Umar bin Khattab dikenal menjaga tidurnya agar bisa bangun qiyamullail. Bahkan, sebagian ulama besar menulis wasiat kepada anaknya agar jangan menjadikan malam sebagai tempat bermain, melainkan tempat menenangkan jiwa.
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengingatkan, “Tidur adalah rahmat bagi tubuh, tetapi berlebihan atau menguranginya sama-sama merusak.” Kata-kata ini relevan bagi anak-anak kita hari ini yang sering kali tidur larut karena gawai atau televisi.
—
Kisah Ulama dalam Mendisiplinkan Waktu Tidur
Ada kisah indah dari Abdullah bin Mubarak, seorang ulama besar. Ia mendidik murid-muridnya dengan kedisiplinan: siang belajar, malam ibadah, dan tidur secukupnya. Ketika ada murid yang suka begadang tanpa manfaat, beliau menegur dengan lembut: “Engkau sedang menuaikan masa depanmu dengan sia-sia.”
Demikian pula Imam Syafi‘i. Ibunya, Fatimah, sangat menjaga ritme hidup anaknya sejak kecil. Ia memastikan Syafi‘i kecil tidur cukup agar tubuhnya sehat, sehingga bisa kuat menghafal Al-Qur’an dan hadits. Tidur yang teratur menjadi rahasia besar kecerdasannya.
BACA JUGA: Karakter Utama Bapak dalam Mendidik Anaknya
Refleksi: Tidur sebagai Madrasah Jiwa
Tidur bukanlah kemalasan, melainkan bagian dari ibadah jika diniatkan dengan benar. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa sebelum tidur, menghadap ke kanan, dan berwudhu. Dengan itu, tidur anak menjadi madrasah jiwa, bukan sekadar lelap tubuh.
Maka, ketika anak menunda tidur, jangan hanya marah. Jadikan ia kesempatan untuk menanamkan nilai. Katakan padanya: “Nak, tidurmu adalah kekuatanmu. Tidurmu adalah bekal ibadahmu. Tidurmu adalah tanda syukurmu kepada Allah.”
Jika kita mampu menjadikan tidur sebagai bagian dari pendidikan iman, maka setiap malam bukan hanya berakhir dengan lelap, tetapi juga dengan cahaya.
—
Penutup
Menunda tidur adalah masalah kecil yang menyimpan konsekuensi besar. Ia bisa mengganggu kesehatan, menurunkan prestasi, bahkan melemahkan ibadah. Namun dengan kasih sayang, komunikasi, disiplin, dan teladan, anak-anak akan belajar bahwa tidur adalah nikmat yang harus dijaga.
Seperti pohon yang tumbuh dengan air, anak kita akan tumbuh dengan tidur yang cukup. Dan di malam-malam sunyi, semoga mereka belajar arti kehidupan dari kisah-kisah yang kita bisikkan sebelum mata mereka terpejam. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
