LANGKAHNYA tertatih memasuki pekuburan itu. Tiga hari berturut-turut ia datang menziarahi saudaranya. Angin sore selalu bertiup pelan, menebarkan bau tanah basah yang bercampur dengan aroma dedaunan kering. Suasana sepi hanya dipecahkan oleh desiran daun bambu yang beradu. Di hadapan nisan yang sederhana itu, ia duduk lama, merenungi perjalanan hidup yang kini berakhir dalam diam.
Hari pertama, ia datang dengan hati yang masih terasa berat. Tangannya menyentuh tanah merah yang baru ditimbun. Doa ia panjatkan sambil menahan sesak di dada. “Inilah akhir dari segala kebanggaan dunia,” bisiknya dalam hati. Malam itu ia pulang dengan wajah penuh air mata, merasakan kehilangan yang menusuk sampai ke sumsum.
Hari kedua, ia kembali dengan langkah lebih tenang. Namun di balik ketenangan itu ada rindu yang kian dalam. Ia merenung pada firman Allah ﷻ: “Dan sungguh, azab itu akan menimpa mereka, di dalam kubur dan setelah dibangkitkan.” (QS. Ghāfir: 46)
Dan ia teringat sabda Rasulullah ﷺ: “Sesungguhnya kubur itu adalah awal dari tahapan akhirat. Barangsiapa selamat darinya, maka sesudahnya lebih mudah. Dan barangsiapa tidak selamat darinya, maka sesudahnya lebih berat.” (HR. Tirmidzi)
Kalimat itu menggema di benaknya, menambahkan rasa takut yang membalut rindunya. Ia tahu, kematian bukanlah akhir, melainkan pintu menuju hari pembalasan.

Hari ketiga, ia kembali dengan hati yang ingin segera pulang namun kaki enggan melangkah. Setelah selesai berdoa dan hendak beranjak, tiba-tiba terdengar suara keras berdebuk dari dalam kubur saudaranya. Suara itu membuatnya kaget setengah mati. Jantungnya berdegup tak karuan, wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar hebat, hingga hampir saja ia kehilangan kesadaran. Dengan langkah goyah, ia pulang dalam keadaan panik dan penuh tanda tanya.
Malam itu, ketika tubuhnya terbaring gelisah, ia bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat saudaranya datang dengan wajah berseri. Sontak ia meloncat mendekatinya. Air matanya menetes tanpa henti. Dengan penuh haru ia berkata, “Saudaraku, engkau datang berkunjung.”
Rasulullah ﷺ bersabda: “Mimpi seorang mukmin adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun saudaranya menjawab dengan suara tenang, “Bagaimana mungkin, saudaraku. Perjalanan sudah jauh. Kami telah tinggal di alam kami, dan tak ada lagi kunjungan.”
“Saudaraku, bagaimana keadaanmu?” tanyanya dengan penuh harap.
“Baik,” jawabnya, “betapa taubat itu mengumpulkan semua kebaikan.”
Ia menunduk, terisak. Lalu ia bertanya lagi, “Bagaimana keadaan saudara kita yang lain?”
Saudaranya menjawab, “Ia berada bersama para imam dari kalangan orang-orang yang sangat berbakti.”
Hening sejenak. Dengan suara bergetar, ia kembali bertanya, “Apakah ada pesan untuk kami?”
Saudaranya menatapnya penuh kasih dan berkata: “Barangsiapa mempersembahkan sesuatu dari dunia, maka dia akan mendapatkan pahalanya. Untuk itu, manfaatkan saat memiliki sebelum engkau tak memiliki. Manfaatkanlah dengan baik ketika engkau punya sebelum engkau jatuh miskin.”
Mendengar itu, ia terbangun dari tidur dengan tubuh penuh keringat dingin. Nafasnya memburu, matanya sembab. Malam terasa panjang, seakan detik demi detik menekannya dengan berat. Ia ingat sabda Rasulullah ﷺ:
“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya untuk apa ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan, dan tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)
Sejak saat itu, ia mengambil keputusan besar. Semua gemerlap dunia yang pernah ia genggam dilepaskan. Harta kekayaannya dibagi-bagikan, dan ia memilih hidup sederhana, fokus pada taat kepada Allah ﷻ. Ia merasakan kedamaian yang tak pernah ia temukan sebelumnya.
Wasiat Sang Ayah
Tahun demi tahun berlalu. Ia memiliki seorang anak lelaki yang tumbuh menjadi sosok gagah dan tampan. Si anak menekuni dunia perdagangan, mengikuti jejak ayahnya dahulu. Bisnisnya berkembang, dan ia pun dikenal sebagai saudagar muda yang cukup berhasil.
Namun ajal tak pernah menunggu kesiapan manusia. Suatu hari, sang ayah terbaring lemah di ranjangnya. Nafasnya berat, wajahnya pucat, namun cahaya keimanan memancar di matanya. Sang anak duduk di sisinya, menggenggam tangan ayahnya dengan penuh kasih.
“Wahai ayah,” katanya lirih, “apakah ayah tidak berwasiat?”
Sang ayah tersenyum lemah, lalu berkata, “Putraku, demi Allah, sungguh ayah tidak punya harta apa-apa lagi yang mesti diwasiatkan. Akan tetapi, ayah punya satu permintaan kepadamu. Jika nanti ayah meninggal dunia, makamkanlah ayah di samping makam paman-pamanmu itu. Tuliskan di pusara ayah kalimat berikut:
‘Bagaimana hidup ini menyenangkan bagi orang yang berujung pada kuburan, tempat tinggal yang akan lapuk oleh tanah.
Melenyapkan keelokan wajah yang selama ini dipelihara, menghancurkan jasad dan seluruh persendian tulangnya.’
Dan setelah itu, ziarahilah makam ayah selama tiga hari berturut-turut, lalu doakan ayah.”
Suasana kamar itu mendadak sunyi. Si anak merasa dadanya diremas. Di luar, langit mendung, angin bertiup lirih, seolah turut mengantar beratnya suasana. Air matanya menetes deras, bukan hanya karena takut kehilangan ayahnya, tapi juga karena menyadari bahwa wasiat itu jauh lebih berharga daripada segala harta dunia.
Ziarah Sang Anak
Hari itu pun tiba. Sang ayah berpulang ke rahmat Allah. Si anak dengan penuh takzim melaksanakan permintaan terakhir ayahnya. Ia memakamkannya di samping paman-pamannya, lalu menuliskan kalimat yang diminta di pusara.
Hari pertama ia datang menziarahi makam ayahnya. Ia duduk lama di sana, membacakan doa. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi tanah merah yang masih basah. Hatinya bergetar, tubuhnya seakan ikut terkubur bersama ayahnya.
Hari kedua ia datang lagi. Kali ini ia lebih banyak merenung. Angin sore berhembus, menggerakkan dedaunan yang rontok satu per satu. Ia merasa dunia ini hanya persinggahan yang singkat. Kata-kata ayahnya menggema di telinga: “Bagaimana hidup ini menyenangkan bagi orang yang berujung pada kuburan…”
BACA JUGA: Kiat Membuat Kisah Fabel Islami dari Al-Qur’an dan Sirah Nabawiyah untuk Anak
Hari ketiga, ia kembali. Kali ini air matanya lebih sedikit, namun hatinya terasa dipeluk oleh ketenangan. Doa yang ia panjatkan seakan menembus langit, membawa rindunya kepada Sang Pencipta. Ia merasa ayahnya tidak benar-benar hilang, melainkan telah berpindah ke alam yang lebih kekal.
Penutup
Tiga hari itu mengubah hidupnya. Ia kini menyadari bahwa wasiat ayahnya bukan hanya pesan pribadi, melainkan warisan iman yang harus ia jaga. Ia tahu, perjalanan hidupnya masih panjang, namun setiap langkah kini terasa berbeda: lebih hati-hati, lebih sadar bahwa semua akan berakhir di kuburan.
Bagaimana kelanjutan kisah anaknya itu?
Apakah ia mampu menjaga wasiat itu sepanjang hidupnya, ataukah ia akan diuji dengan gemerlap dunia seperti ayahnya dahulu? []
BERSAMBUNG
Sumber: Ibnul Jauzy, 500 kisah orang Saleh Penuh Hikmah, Pustaka Al-Kautsar
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

