Ledakan Setiap Delapan Menit
BAYANGKAN sebuah kota kecil yang setiap delapan menit sekali dihantam dentuman bom. Waktu tidak lagi dihitung dengan detik jam dinding, melainkan dengan ritme kehancuran: delapan menit, lalu serpihan beton; delapan menit, lalu jeritan anak-anak; delapan menit, lalu debu menutupi langit. Begitulah yang digambarkan PBB lewat juru bicaranya, Stephane Dujarric, tentang Gaza hari ini.
“Serangan udara setiap delapan atau sembilan menit,” katanya, seperti mencatat jadwal kereta. Bedanya, ini bukan transportasi, melainkan teror.
Namun, di balik ritme penghancuran ini, muncul paradoks yang justru menggerogoti sang penyerang. Surat kabar Israel Maariv menyebut militernya “mendekati titik ledakan”. Sebuah pasukan yang melancarkan ribuan bom, tetapi justru kian kelelahan, kehilangan arah, dan terperangkap dalam labirin politik serta moralnya sendiri.
—
Gaza: Dari Reruntuhan ke Keteguhan
Di lapangan, data OCHA menyebutkan 16.500 orang mengungsi hanya dalam satu hari dari Gaza Utara ke Selatan. Ratusan ribu masih bertahan di kota, dikelilingi ketidakamanan, kelaparan, dan blokade. Layanan medis lumpuh, organisasi kemanusiaan dicegah masuk, hanya tujuh dari lima belas permintaan bantuan yang difasilitasi Israel.
Namun, ada sesuatu yang selalu luput dari hitungan statistik: daya tahan. Gaza bukan sekadar lokasi geografis, tetapi ruang spiritual di mana kesabaran menjadi senjata. Seperti kata seorang pekerja kemanusiaan yang dilaporkan Anadolu Agency, “Mereka kehilangan rumah, tapi tidak kehilangan arah.”
BACA JUGA: Luka-Luka Anak Gaza Sama dengan Luka para Tentara di Perang Afghanistan dan Irak
Kelelahan Sang Penjajah
Di sisi lain, Maariv menuliskan sebuah pengakuan getir: militer Israel kelelahan. Avi Ashkenazi, koresponden militernya, menuding operasi di Gaza dijalankan “oleh para amatir”, tanpa kepemimpinan profesional, dan berdampak “sangat negatif bagi negara dan tentara”.
Seperti film perang klasik yang berbalik arah, pasukan yang semula digambarkan superior justru mulai goyah oleh beban yang mereka ciptakan sendiri. Sosiolog Israel, Baruch Kimmerling, pernah mengingatkan: “Pendudukan bukan hanya menghancurkan yang diduduki, tapi juga pelan-pelan membusukkan pendudukan itu sendiri.”
Inilah yang mulai tampak. Israel menembakkan misil setiap delapan menit, tapi justru setiap delapan menit pula reputasi moralnya runtuh, energinya terkuras, dan kebangkrutannya semakin dekat.
—
Antara Ben-Gurion dan Netanyahu
Ashkenazi membandingkan kondisi sekarang dengan ucapan David Ben-Gurion tahun 1955 yang menyebut PBB sebagai “negara-negara yang lelah”. Ironisnya, kini justru Israel sendiri yang terjebak kelelahan politik dan militer. Tekanan datang dari Eropa, Australia, bahkan beberapa negara Arab.
Netanyahu berdiri di podium PBB, tapi sebagian besar delegasi keluar ruangan. Sebuah panggung kosong yang menyimbolkan isolasi.
—
Pertanyaan yang Menggantung
Fenomena ini mengingatkan kita pada film perang Hollywood klasik Apocalypse Now. Sebuah pasukan yang memiliki segala teknologi, namun perlahan larut dalam kegilaan, kehilangan tujuan, dan akhirnya tenggelam dalam keletihan.
Atau dalam dunia tinju: Muhammad Ali melawan George Foreman pada 1974, “The Rumble in the Jungle”. Ali memilih tidak banyak memukul, melainkan bersandar pada tali ring, membiarkan Foreman menghantamnya tanpa henti. Foreman kelelahan karena terlalu banyak menyerang, sementara Ali tetap tegak, hingga akhirnya dengan satu pukulan, ia menumbangkan lawannya.
Apakah Gaza hari ini sedang memainkan strategi “rope-a-dope” ala Ali? Apakah Israel, dengan ribuan serangan tiap delapan menit, sedang memukul dirinya sendiri menuju kelelahan?
—
Sejarah yang Berulang: Dari Vietnam ke Afghanistan
Para sejarawan militer sering mengingatkan: banyak imperium kalah bukan karena kurang senjata, melainkan karena daya tahan lawan. Amerika Serikat membombardir Vietnam dengan “Operation Rolling Thunder”, menjatuhkan bom lebih banyak dari Perang Dunia II. Tapi hasilnya? Vietnam tetap tegak, sementara tentara Amerika pulang dalam kelelahan moral.
Begitu pula Uni Soviet di Afghanistan. Puluhan ribu serangan, helikopter Mi-24, tank T-72, tapi Mujahidin bertahan di pegunungan. Sepuluh tahun berlalu, yang kalah bukanlah mereka yang miskin senjata, melainkan mereka yang kelelahan menanggung perang tanpa akhir.
Apakah Gaza hari ini adalah Vietnam abad ke-21 bagi Israel?
—
Suara Pakar dan Refleksi
Sejarawan Inggris A.J.P. Taylor pernah menulis, “Kekuatan militer besar sering kalah bukan di medan perang, tetapi di ruang moral dan politik.” Pernyataan ini terasa nyata hari ini: Israel mungkin bisa menghancurkan gedung, tetapi tidak bisa menghancurkan tekad rakyat.
Pakar militer Martin van Creveld, seorang akademisi Israel sendiri, pernah mengatakan: “Perang melawan gerakan perlawanan jarang bisa dimenangkan dengan kekuatan militer semata.” Pernyataan ini kini kembali menghantui bangsanya.
—
Dari Jabalia ke Dunia
Maariv juga menyinggung asal-usul Hamas di kamp pengungsi Jabalia pada Intifada Pertama 1988. Dari titik miskin itulah tumbuh gerakan yang kini menjadi lawan tangguh. Bagi Israel, ini adalah ironi terbesar: semakin mereka menghancurkan Gaza, semakin subur pula lahirnya perlawanan baru.
Seperti mitologi Yunani tentang Hydra: satu kepala dipenggal, dua kepala baru tumbuh. Gaza hari ini seperti Hydra itu: dihantam tiap delapan menit, tapi melahirkan generasi baru tiap detiknya.
BACA JUGA: Perahu-perahu Penerobos Benteng Laut Gaza
Film yang Masih Diputar
Jika sejarah adalah layar bioskop besar, maka adegan ini sedang diputar: Israel sebagai pasukan modern yang menghujani serangan, Gaza sebagai kota kecil yang bertahan. Penonton dunia menyaksikan, dan lambat laun, simpati condong ke pihak yang teraniaya.
Seperti Braveheart, di mana William Wallace bukan sekadar melawan Inggris, tapi membangkitkan kesadaran bangsanya. Atau seperti The Battle of Algiers, film klasik yang menggambarkan bagaimana Prancis menguasai Aljazair dengan kekuatan brutal, tapi akhirnya harus angkat kaki.
Apakah Gaza akan menjadi babak lain dari film itu?
—
Epilog: Detik-Detik yang Menentukan
Delapan menit. Bagi Israel, itu adalah jadwal pengeboman. Bagi Gaza, itu adalah ritme doa. Antara ledakan dan doa, dunia menyaksikan siapa yang lebih bertahan.
Mungkin inilah yang dimaksud Muhammad Ali ketika berkata: “Aku tidak pernah kalah. Aku hanya kehabisan waktu.” Gaza tidak pernah kalah; ia hanya menunggu waktunya.
Israel bisa menembakkan ribuan bom. Tapi seperti dalam tinju, serangan tanpa henti bisa menjadi bumerang. Foreman tumbang, Soviet mundur, Amerika meninggalkan Vietnam. Dan sejarah, dengan sabar, sedang menunggu giliran Israel. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
