“DAN janganlah kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak (ketakutan).” —QS. Ibrahim: 42
—
I. Fajar yang Dicekik
Saat fajar menyingkap kabut debu di atas reruntuhan Kota Gaza, jalan yang dulu menjadi denyut kehidupan kini membisu di bawah larangan militer. Jalan pesisir Al-Rashid—urat nadi terakhir yang menghubungkan utara, tengah, dan selatan Gaza—telah ditutup oleh tank-tank Israel. Jalur itu dulunya adalah koridor harapan: tempat ambulans berpacu melawan waktu, konvoi bantuan berderak menuju kamp pengungsian, dan keluarga mencari napas aman.
Kini, jalan itu menyusut menjadi koridor satu arah ke selatan, dikawal prajurit bersenjata, dikepung rasa takut. Sekitar 600.000 penduduk masih terjebak di Kota Gaza, enggan atau tak mampu melarikan diri. Seakan kota itu bukan lagi rumah, melainkan kurungan besar di tepi laut.
“Mereka mengira akan menghancurkan Gaza dengan besi dan api. Tetapi setiap bom yang mereka jatuhkan justru menanamkan sebuah doa di dada anak-anak yang selamat.”
—
II. Suara dari Reruntuhan
Di daerah al-Jalaa, Umm Mohammed al-Jarousha, seorang ibu tiga anak, menyaksikan tank melintas di depan rumahnya. Ia disuruh pindah ke selatan, tas anak-anaknya digeledah tanpa belas kasih.
“Aku tidak tahu ke mana harus pergi. Aku kembali. Tapi kini hidup kami terhambat. Rumah sakit tutup, makanan langka, dan obat-obatan telah lenyap,” katanya lirih.
Kesaksiannya seperti gema dari sejarah: ketika Quraisy mengepung rumah Nabi ﷺ di Mekah, menyangka bisa memadamkan cahaya Islam dengan pedang. Tetapi Allah berfirman:
“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir membencinya.”
—QS. Ash-Shaff: 8
Gaza hari ini mengulang ironi itu: musuh mengira bisa memadamkan kehidupan dengan kepungan, padahal kepungan itu menyalakan tekad untuk bertahan.
—
III. Hidup di antara Kematian
Abu Mustafa, seorang warga Gaza, bercerita sambil gemetar: ia mengubur tetangganya dengan tangannya sendiri, sementara anak-anaknya menatap. Putra sulungnya terbunuh, jasadnya masih tertimbun reruntuhan.
“Tentara Israel menghukum kami, meski mereka tahu tidak ada militan di Kota Gaza,” ujarnya.
Ia menolak pergi ke selatan. “Aku hanya akan lolos dari kematian,” katanya.
Ucapannya mengingatkan sabda Rasulullah ﷺ: “Akan datang suatu zaman ketika yang paling sabar di antara mereka dalam agamanya seperti menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi)
Gaza hari ini adalah tangan-tangan yang menggenggam bara itu: luka, kehilangan, ketakutan, tetapi juga keimanan yang tidak padam.
—
IV. Kota yang Tercekik
Rumah sakit Al-Shifa, simbol daya tahan Gaza, kini lumpuh. Tidak ada bahan bakar, obat-obatan menipis, ambulans terhenti. Dokter-dokter roboh kelelahan.
“Kami tidak lagi bicara soal layanan kesehatan,” kata Monir al-Borsh dari Kementerian Kesehatan. “Kami hanya berusaha menyelamatkan nyawa orang.”
Sekolah-sekolah penuh sesak, toko roti kehabisan tepung, air bersih jadi barang langka. Anak-anak berjalan berjam-jam hanya untuk sepotong roti.
Seorang ayah, Ahmed al-Turk, berkata getir: “Kami perlahan-lahan terhapus. Dunia sedang berdebat, sementara kami menguburkan korban tewas.”
Firman Allah menggemakan kepedihan itu: “Dan mereka merencanakan tipu daya, dan Kami pun membuat perencanaan. Dan mereka tidak menyadari.” —QS. An-Naml: 50
Tipu daya Israel adalah pengepungan. Perencanaan Allah adalah sejarah, yang selalu berpihak pada yang tertindas.
—
V. Pengepungan sebagai Doktrin
Analis politik Hani al-Masri melihat penutupan Al-Rashid bukan sekadar strategi militer, melainkan bagian dari upaya memaksa pengungsian massal. Jalan itu dijadikan koridor satu arah, bukan untuk menyelamatkan, tapi untuk mendorong rakyat keluar dari tanah mereka.
Inilah wajah baru dari pembersihan etnis—ethnic cleansing—yang dipoles dengan bahasa keamanan.
Hadis Nabi ﷺ seakan menggambarkan wajah mereka: “Seorang mukmin tidak akan digigit dari lubang yang sama dua kali.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bangsa Palestina tahu sejarah Nakba 1948. Mereka tahu jalan yang ditawarkan bukanlah penyelamatan, melainkan penghapusan. Karena itu, mereka bertahan di reruntuhan, menolak diusir dari tanah yang diwariskan nenek moyang mereka.
—
VI. Dunia yang Membisu
Parlemen Eropa mengecam. PBB mengingatkan. Aktivis HAM berteriak tentang hukum internasional. Tetapi di Gaza, suara-suara itu terdengar hampa.
Sebab roti tidak muncul dari resolusi, air tidak mengalir dari pidato, dan obat tidak tiba dari kecaman.
Mahmoud Basal, juru bicara pertahanan sipil Gaza, berkata: “Ini bukan perang antar-tentara. Ini genosida lambat. Orang-orang diubah menjadi angka-angka dalam daftar pengungsian.”
Al-Qur’an memberi bahasa bagi penderitaan ini: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah, mereka itulah yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya.” —QS. Al-Baqarah: 11-12
—
VII. Gaza yang Tidak Terhapus
Pertanyaan pun menggantung: mungkinkah Gaza benar-benar terhapus?
Secara politik, militer, bahkan logistik, mungkin saja kota itu runtuh. Tetapi secara moral, spiritual, dan historis—tidak. Gaza telah menjadi simbol. Dan simbol tidak bisa dibom, tidak bisa dipenjara, tidak bisa dicekik.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang tegak di atas kebenaran. Mereka tidak akan dirugikan oleh orang yang menghinakan mereka atau menentang mereka, sampai datang keputusan Allah, sedang mereka tetap seperti itu.” (HR. Muslim)
Hadis ini sering dikaitkan para ulama dengan ahl al-ribat—orang-orang yang menjaga perbatasan Islam. Gaza, dengan segala penderitaannya, adalah simbol itu.
BACA JUGA: Pengepungan Rumah Rasulullah ﷺ saat Hijrah dan Bumihangus Gaza
VIII. Doa yang Membelah Kepungan
Pada akhirnya, tulisan ini bukan hanya laporan. Ia adalah doa, yang melintasi blokade, menembus dinding beton, melewati dengungan drone.
Doa dari seorang ibu yang menidurkan anaknya tanpa roti.
Doa dari seorang ayah yang mengubur putranya tanpa kain kafan.
Doa dari seorang anak yang menggambar matahari di dinding reruntuhan.
Allah mendengar doa itu. Seperti firman-Nya: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” —QS. Al-Baqarah: 186
—
IX. Penutup: Gaza adalah Cermin Dunia
Gaza adalah ujian bagi dunia: apakah manusia masih punya hati, ataukah kita semua telah menjadi batu.
Setiap penutupan jalan, setiap bom yang jatuh, setiap anak yang meninggal di pangkuan ibunya, adalah pertanyaan yang dilemparkan Allah kepada hati manusia: Apakah engkau masih peduli?
Dan setiap jawaban, akan menjadi saksi di Hari Perhitungan.
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
—
Gaza yang dicekik tidak akan terhapus. Ia akan tetap hidup sebagai doa, sebagai luka, sebagai simbol. Sebab Gaza bukan sekadar kota, melainkan cermin yang memperlihatkan siapa kita: apakah manusia, ataukah hanya bayangan dari kebisuan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
