“Dan janganlah kamu mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Dia menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” — QS. Ibrahim [14]: 42
—
Prolog: Asap di Gaza, Bayang-Bayang dari Tokyo
ASAP kembali mengepul di langit Gaza.
Seperti asap yang dahulu membubung dari Tokyo pada Maret 1945, ketika Jenderal Curtis LeMay memerintahkan pengeboman api yang menewaskan seratus ribu jiwa dalam satu malam.
LeMay, dengan kejujuran yang dingin, berkata pada anak buahnya: “Jika kita kalah, kita semua akan diadili sebagai penjahat perang.”
Kalimat itu bukan pengakuan dosa, melainkan pengakuan atas hukum dunia yang pincang — bahwa keadilan hanya berlaku bagi yang kalah, dan kemenangan adalah satu-satunya pengampunan.
Delapan puluh tahun berlalu, dan dunia tampak belum berubah.
Israel mengebom kamp pengungsi Nuseirat pada Oktober 2025, setelah membunuh lebih dari lima puluh ribu warga sipil Gaza. Presiden AS menyerukan penghentian serangan, tapi senjata terus berbicara.
Bangunan runtuh, bayi-bayi dibungkus kain putih, dan dunia hanya bisa “menyesalkan”.
Namun di balik debu dan darah, bangkit satu pertanyaan lama:
Apakah moralitas masih punya tempat di medan perang?
—
1. Dari LeMay ke Blair: Keadilan yang Pilih Kasih
Jenderal Curtis LeMay mati sebagai pahlawan, bukan terdakwa di Den Haag.
Tony Blair, yang turut menyeret Irak ke jurang perang berdasarkan kebohongan senjata pemusnah massal, justru diberi gelar kebangsawanan oleh Ratu Inggris.
“Perang Irak menewaskan lebih dari sejuta orang,” tulis The Lancet pada 2006, “dan memecah tatanan sosial Timur Tengah selama satu generasi.”
Namun Blair tidak diadili. Ia bahkan menjadi “penasihat damai” untuk Timur Tengah — paradoks yang lebih sinis dari lelucon politik mana pun.
Profesor Noam Chomsky pernah menyebutnya sebagai “arsitektur keadilan yang dibangun bukan untuk mengekang kekuasaan, tetapi untuk menyucikannya.”
Mahkamah Pidana Internasional (ICC), yang didirikan pada 2002, memang menyatakan diri menegakkan hukum bagi genosida dan kejahatan perang. Tetapi faktanya, sebagaimana dikatakan seorang diplomat Eropa: “ICC dibangun untuk Afrika dan musuh-musuh Washington, bukan untuk Washington dan sekutunya.”
Keadilan, rupanya, memiliki paspor.
Dan hanya yang lemah yang diinterogasi di ruang sidang.
—
2. Proporsionalitas: Sebuah Fiksi Hukum
Dalam hukum humaniter internasional, ada istilah proporsionalitas:
kerugian warga sipil tidak boleh berlebihan dibandingkan keuntungan militer.
Namun siapa yang menentukan “berlebihan”? Siapa yang menakar “keuntungan”?
Dalam praktiknya, yang menjatuhkan bomlah yang memegang timbangan.
Ketika LeMay membakar Tokyo, ia menyebutnya “strategi moral.”
Ketika desa-desa Vietnam dihancurkan, mereka berkata, “Kita harus menghancurkan desa itu untuk menyelamatkannya.”
Kini, di Gaza, seluruh blok apartemen diratakan untuk “menghabisi satu militan.”
Puluhan ribu nyawa menjadi “efek samping” dari operasi militer.
Dan setiap bom dijatuhkan atas nama “proporsionalitas.”
Proporsionalitas bukan lagi konsep hukum, tapi retorika licin untuk membenarkan kehancuran.
—
3. Netanyahu dan Sistem yang Bekerja Sebagaimana Mestinya
Benjamin Netanyahu adalah wajah modern dari impunitas global.
Ia memimpin pemerintahan yang telah mengebom rumah sakit, sekolah, dan kamp pengungsi. ICC telah mengeluarkan surat perintah penangkapannya bersama Menteri Pertahanan Yoav Gallant — namun ia tetap bebas bepergian, termasuk ke Washington.
Mengapa? Karena kekuasaan adalah imunitas.
Sebagaimana dikatakan Edward Said, “Israel tidak hanya bertindak di luar hukum; ia menciptakan hukum baru bagi dirinya.”
Israel bisa melanggar Konvensi Jenewa, menolak resolusi PBB, bahkan memutus listrik dan air bagi 2 juta orang di Gaza — dan dunia tetap ragu untuk menyebutnya “kejahatan perang.”
Itulah paradoks keadilan modern: yang memiliki senjata paling kuat tidak membutuhkan hukum, karena dialah yang menulisnya.
—
4. Paradoks Netanyahu: Penggali Kubur Narasi Israel
Namun sejarah memiliki cara yang aneh untuk menulis keadilannya sendiri.
Serangan 7 Oktober 2023 memang mengguncang dunia,
tapi balasan Israel-lah yang mengguncang nurani global.
Di tengah kehancuran Gaza, lahir kesadaran baru:
bahwa Israel bukan lagi simbol keamanan Yahudi, melainkan simbol kolonialisme yang hidup di abad modern.
Profesor John Esposito menulis, “Kebrutalan yang disiarkan langsung dari Gaza telah mengubah citra Israel dari korban menjadi pelaku.”
Kasus genosida yang diajukan Afrika Selatan ke Mahkamah Internasional menjadi titik balik sejarah.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menambahkan IDF ke dalam daftar aib pelanggar hak anak.
Negara-negara seperti Spanyol, Irlandia, dan Norwegia mengakui Palestina di tengah perang.
Dan untuk pertama kalinya, opini publik global berbalik arah.
Ironinya?
Semua itu terjadi karena kebijakan Netanyahu sendiri.
Dalam upayanya “menghapus Hamas,” ia justru menghidupkan kembali kesadaran dunia terhadap Palestina.
Dalam keinginannya memadamkan perlawanan, ia menyalakan api simpati global yang tak lagi padam.
—
5. Dari Gaza ke Dunia: Perhitungan yang Tak Terelakkan
Ribuan demonstrasi berkumandang di London, Berlin, New York, dan Jakarta.
Kaum muda, bahkan di kampus-kampus Amerika, turun ke jalan dengan poster bertuliskan: From the river to the sea, Palestine will be free.”
Survei Pew Research Center mencatat penurunan drastis dukungan terhadap Israel, terutama di kalangan generasi muda Barat.
Mereka tumbuh di era media sosial yang memperlihatkan wajah perang tanpa sensor.
Dan mereka tidak melihat “terorisme,” mereka melihat anak-anak yang kehilangan rumah.
Profesor Ilan Pappé, sejarawan Israel, menulis: “Gaza adalah cermin yang memantulkan wajah sejati Zionisme: proyek pemukim kolonial yang telah kehilangan moralitasnya sendiri.”
Maka paradoks pun menjadi nyata:
Netanyahu, dengan kebijakan ekstremnya, menjadi jembatan yang menghubungkan simpati global kepada Palestina — sesuatu yang tak pernah berhasil dicapai oleh diplomasi Arab selama puluhan tahun.
—
6. Spiritualitas dalam Bayang Perang
Namun di atas semua analisis dan politik, ada sesuatu yang lebih tinggi:
dimensi spiritual dari penderitaan dan keteguhan.
> “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” — QS. Al-Baqarah [2]: 155
Rakyat Gaza bukan hanya bertahan secara fisik, tapi juga spiritual.
Ketika rumah mereka hancur, mereka berkata, “Hasbunallāh wa ni‘mal wakīl.”
Ketika anak-anak mereka syahid, mereka berkata, “Inna lillāhi wa inna ilaihi rāji‘ūn.”
Mereka mengajarkan pada dunia bahwa kekalahan di bumi tidak selalu berarti kekalahan di langit.
Bahwa jihad tidak hanya berarti pertempuran bersenjata,
tetapi juga kesabaran tanpa keputusasaan.
Sayyid Qutb, dalam Fi Zhilal al-Qur’an, menulis tentang makna kemenangan sejati: “Kemenangan bukanlah ketika musuh dikalahkan,
melainkan ketika iman tetap hidup di dada orang-orang beriman.”
—
7. Dunia dalam Bayang Pengadilan Langit
Mungkin benar, sebagaimana dikatakan Jenderal LeMay,
“Yang kalah akan diadili.”
Tetapi ada satu pengadilan yang tidak bisa dihindari siapa pun —
pengadilan Allah.
“Pada hari itu, semua jiwa akan diberi balasan atas apa yang telah dikerjakannya, tidak ada kezaliman sedikit pun.” — QS. Ghafir [40]: 17
Netanyahu, Blair, Bush, LeMay — mungkin tidak akan pernah duduk di kursi terdakwa di Den Haag.
Namun mereka tidak akan pernah lolos dari mahkamah yang lebih tinggi.
Sebab setiap bom yang jatuh ke tubuh anak-anak Gaza bukan sekadar kejahatan perang,
tetapi juga dosa terhadap kemanusiaan yang ditiupkan Allah ke dalam ruh Adam.
BACA JUGA: Terima Surat Hamas: Trump Perintahkan Penghentian Perang, Netanyahu Terkejut dan Curiga?
8. Epilog: Menulis Ulang Makna Kemenangan
Kemenangan hari ini bukan lagi soal siapa yang memiliki senjata,
tetapi siapa yang mampu menjaga hati tetap hidup di tengah kehancuran.
Israel mungkin menang dalam statistik militer,
tapi ia kalah dalam hati manusia.
Dan sejarah telah menunjukkan:
tidak ada kekuatan yang bisa bertahan tanpa legitimasi moral.
Romawi, Inggris, Soviet — semua runtuh oleh beban dosa mereka sendiri.
Palestina, meski terkepung, telah memenangi sesuatu yang lebih abadi:
pengakuan moral dunia dan janji langit bahwa kezaliman tak akan kekal.
“Dan Kami telah menetapkan dalam Zabur setelah (Kami tulis) dalam Lauh Mahfuzh, bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” — QS. Al-Anbiya [21]: 105
—
Penutup Reflektif
Mungkin beginilah cara Allah menegakkan keadilan dalam dunia yang buta:
bukan dengan menghukum para tiran segera,
tetapi dengan memperlihatkan kebusukan mereka di hadapan seluruh umat manusia.
Netanyahu, Blair, dan LeMay akan tercatat bukan sebagai pemenang,
tetapi sebagai cermin gelap bagi nurani dunia.
Dan Gaza — yang hancur, yang berdarah, yang tetap bertakbir —
akan menjadi simbol bahwa kekuatan tidak pernah mengalahkan kebenaran.
Sebab sejarah, pada akhirnya, selalu berpihak pada mereka yang berdiri di sisi yang benar.
Dan segala puji bagi Allah,
yang menjadikan darah para syuhada sebagai tinta untuk menulis bab berikutnya dalam kisah kemenangan iman. []
SUMBER: MIDDLE EAST MONITOR
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
