“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang tertindas, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim.’”
(QS. An-Nisā’: 75)
DUNIA hari ini sedang diuji bukan dengan ketidaktahuan, tetapi dengan kesadaran yang tidak berbuah tindakan.
Kita hidup di zaman di mana setiap peluru terekam, setiap jeritan disiarkan langsung, dan setiap anak yang syahid sempat tersenyum di depan kamera sebelum menjadi angka statistik di layar berita. Dua tahun sudah, Gaza menjadi simbol dari pertanyaan yang tak pernah dijawab manusia modern: Bagaimana mungkin genosida bisa terjadi di depan mata dunia yang paling “terhubung” sepanjang sejarah?
—
Dua Tahun di Hadapan Kamera Dunia
Sejak 7 Oktober 2023, Gaza bukan lagi sekadar wilayah; ia telah menjadi layar dunia. Setiap drone, setiap ponsel, dan setiap akun media sosial menjadi saksi sejarah paling kelam abad ini.
Dalam rentang dua tahun, lebih dari 40.000 warga Palestina terbunuh—sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak. Rumah sakit dihancurkan, masjid diratakan, dan kamp pengungsi dibakar dengan napalm modern.
Sebuah laporan dari Watson Institute, Universitas Brown, mencatat: Amerika Serikat telah mengalirkan 21,7 miliar dolar bantuan militer ke Israel sejak perang dimulai. Sebuah angka yang tidak hanya mencerminkan kebijakan luar negeri, tetapi juga keterlibatan moral.
Pakar geopolitik John Mearsheimer, penulis The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy, pernah mengatakan: “Amerika tidak lagi bertindak sebagai mediator perdamaian, tetapi sebagai mitra ideologis Israel. Dukungan itu bukan karena strategi, tapi karena keyakinan.”
Keyakinan itulah yang melahirkan buta nurani.
Dan sementara itu, jurnalis Palestina merekam genosida mereka sendiri.
Mereka seperti para sahabat di medan Uhud—yang tetap menegakkan panji meski panglima gugur. Di antara mereka ada Yahya Barzaq, yang merekam detik-detik terakhir anak-anak Gaza bermain di reruntuhan sekolah. Ada Motaz Azaiza, yang menyiarkan dengan suara gemetar: “Kami tidak butuh simpati, kami butuh dunia yang berhenti berbohong.”
—
Ketika Bahasa Menjadi Alat Penyangkalan
Media Barat, bukannya menegur, malah memoles kejahatan dengan kata.
Kata “genosida” dihapus, diganti dengan “konflik”.
“Pembunuhan anak-anak” diganti dengan “kerusakan tambahan”.
“Pengeboman rumah sakit” disebut “menargetkan Hamas”.
Dalam sirah, kebohongan seperti ini disebut tahrīf, distorsi makna.
Kaum Quraisy melakukannya saat mereka menyebut kebatilan sebagai tradisi, dan kebenaran sebagai fitnah. Begitulah juga kekuatan modern menamai ulang kejahatan agar tampak sah.
Pakar hukum internasional Israel, Raz Segal, sudah menyebut sejak awal: “Ini bukan perang, ini genosida yang tersurat.”
Namun media Barat hanya menjadikannya catatan pinggir, bukan tajuk utama.
Padahal, dalam Al-Qur’an Allah telah memperingatkan: “Dan janganlah kamu mencampuradukkan yang hak dengan yang batil, dan jangan kamu sembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 42)
Kebenaran yang disembunyikan adalah bentuk partisipasi.
Dan media yang menolak menyebut genosida dengan namanya, sesungguhnya sedang menulis ulang sejarah kejahatan dengan tinta yang sama seperti penjajah menulis deklarasi kemerdekaannya.
—
Saksi yang Tak Diinginkan — Para Jurnalis Palestina
Mereka tidak bersenjata.
Hanya kamera dan doa.
Namun justru karena itulah Israel memburu mereka satu per satu.
Lebih dari 150 jurnalis Palestina gugur dalam dua tahun perang. Sebagian besar di antara mereka terbunuh bersama keluarga mereka, di rumah yang mereka ubah menjadi studio perlawanan. Mereka seperti para sahabat Rasul ﷺ yang menulis wahyu di tengah ancaman pembunuhan Quraisy—menjaga kalimat Allah dengan darah dan tinta yang sama.
Dalam sirah Nabawiyah, Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Tinta para ulama lebih berharga daripada darah para syuhada.” Tapi di Gaza, tinta dan darah itu menyatu.
Para jurnalis Gaza menjadi saksi, seperti Bilal bin Rabah yang tetap menyeru Ahad, Ahad! di tengah siksaan. Mereka tahu dunia menonton, tapi tidak mendengar. Mereka tahu dunia menangis, tapi tidak bertindak. Dan di situlah kemuliaan mereka: menegakkan kebenaran bukan demi disiarkan, tapi agar Allah menjadi saksi.
—
Dunia yang Terlibat, Barat yang Membisu
Sementara media menulis narasi, pemerintahan Barat mengirim senjata.
AS, Jerman, dan Inggris terus menyuplai bom yang kemudian menimbun tubuh anak-anak Palestina.
Scott Ritter, mantan inspektur senjata PBB dan analis militer AS, berkata: “Israel tidak mungkin bertahan 48 jam tanpa dukungan militer Amerika. Ini bukan perang Israel, ini proyek bersama.”
Bahkan Amnesty International dan Human Rights Watch telah menyimpulkan bahwa Israel melakukan tindakan genosida, namun pemerintah-pemerintah Barat tetap memilih istilah “tuduhan”.
Itulah bahasa diplomasi yang kehilangan jiwa.
Dalam sejarah Islam, kita pernah melihat bentuk kemitraan semacam ini.
Namanya Hizb al-Ahzab—koalisi Quraisy, Yahudi, dan suku-suku yang mengepung Madinah.
Mereka ingin melenyapkan kaum Muslim bukan karena politik, tapi karena eksistensi Islam menantang tatanan zalim mereka.
Dan seperti Rasulullah ﷺ saat itu, rakyat Gaza hari ini menghadapi dunia yang bersatu dalam kebisuan.
Sayyid Qutb menulis dalam Fi Zhilal al-Qur’an: “Ketika dunia bersekongkol melawan orang-orang beriman, itu bukanlah kekalahan. Itu hanyalah fase di mana Allah menyeleksi siapa yang benar dalam imannya.”
Barangkali Gaza hari ini adalah Uhud baru bagi umat manusia—tempat di mana Allah menguji siapa yang beriman kepada keadilan, dan siapa yang beriman kepada propaganda.
—
Dari Madinah ke Gaza — Sirah yang Berulang
Blokade Gaza adalah pengepungan modern.
Seperti Madinah pada tahun kelima Hijriah, ketika seluruh kabilah mengepung umat Islam dengan niat melenyapkan mereka.
Rasulullah ﷺ menanam parit, sabar, dan berdoa.
Hari ini, rakyat Gaza menanam terowongan, sabar, dan berdoa.
Imam Ibnu Hisyam menulis: “Tatkala mereka dikepung, kaum mukminin hanya berkata: ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita, dan Allah serta Rasul-Nya benar adanya.’” (QS. Al-Ahzab:22)
Janji itu kini terulang di Gaza.
Mereka tidak punya sekutu di dunia, tapi mereka punya langit yang sama yang menaungi Madinah dulu.
Dan seperti Nabi ﷺ, mereka menolak tunduk pada perjanjian yang menggadaikan kehormatan.
Pakar sirah kontemporer, Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, menyebut: “Setiap pengepungan terhadap umat Islam adalah ujian untuk menyingkap siapa yang berdiri di sisi Nabi dan siapa yang berdiri di sisi Quraisy modern.”
Israel hanyalah wajah baru dari imperialisme lama—Firaun yang menamakan penindasan sebagai keamanan.
Dan seperti Musa menghadapi Firaun, Gaza hari ini menantang peradaban yang mengaku demokratis namun memperdagangkan darah anak-anak.
Antara Militerisme dan Moralitas
Para analis militer menilai perang Gaza bukan sekadar pertarungan antara tentara dan kelompok bersenjata.
Ini adalah ujian moral dunia.
Kolonel pensiunan AS Douglas Macgregor mengatakan: “Israel telah kehilangan legitimasi moral. Tidak ada kemenangan strategis yang dapat menggantikan kekalahan moral di depan dunia.”
Dan dalam Islam, kemenangan tanpa moral bukanlah kemenangan.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Kemenangan datang bukan karena jumlah dan kekuatan, tetapi karena keimanan dan kesabaran.”
Begitulah Gaza menang di mata Allah, meski kalah di peta dunia.
Barat terus menolak fakta genosida bukan karena kurang bukti, tapi karena mengakuinya berarti menyalib nilai-nilai yang mereka banggakan sendiri: kemanusiaan, kebebasan, hukum internasional.
Mereka lebih memilih hidup dalam paradoks daripada mengakui bahwa dunia yang mereka ciptakan sedang berlumuran darah anak-anak Gaza.
—
Epilog: Dunia yang Akan Dihisab oleh Kesaksiannya Sendiri
“Pada hari itu Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan bersaksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Yāsīn: 65)
Suatu hari, dunia ini akan bersaksi terhadap dirinya sendiri—terhadap apa yang direkam, disiarkan, tapi diabaikan.
Setiap kamera yang merekam mayat anak-anak Gaza akan menjadi saksi, dan setiap jurnalis yang dibungkam akan menjadi penuntut di hadapan Allah.
Ketika sejarah ditulis ulang oleh para penindas, Gaza menulis sejarahnya sendiri dengan darah dan iman.
Dan di tengah reruntuhan, mereka masih mengumandangkan azan—sebuah pernyataan bahwa peradaban belum mati, selama masih ada manusia yang berani berkata La ilaha illallah di hadapan tank dan kamera dunia.
“Janganlah kamu mengira bahwa Allah lalai terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Dia hanya menangguhkan mereka sampai hari di mana mata mereka terbelalak.” (QS. Ibrāhīm: 42)
Dunia boleh membisu, media boleh menutup mata, tapi langit telah mencatat.
Dan ketika langit bersuara, semua kebohongan akan hancur.
—
Gaza bukan hanya tempat di bumi, tapi juga cermin bagi nurani dunia.
Siapa yang menolak menyebut genosida dengan namanya, sedang menulis bagian kelam dari sejarah umat manusia.
Dan siapa yang tetap bersuara untuk Gaza, sesungguhnya sedang menulis dirinya di sisi kebenaran — sebagaimana Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya di parit Madinah: sedikit jumlahnya, tapi besar di sisi Allah.
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
