Jaminan, Lobi, dan Cinta Tanah: Kisa­h Gencatan Senjata Gaza

Nasrulloh Baksolahar
8 Min Read
Foto: Freepik

MATAHARI mulai merambat di langit Gaza. Debu masih menggantung, udara masih perih. Tapi di tengah reruntuhan, ada suara yang bergetar penuh harap: “Mereka bilang Israel tak akan melanggar gencatan.”

Kalimat itu muncul di sela-sela pembicaraan diplomatik global, di balik meja perundingan di Doha, Kairo, dan Ankara. Di sanalah janji-janji dibuat, lalu diuji oleh senjata, batang tubuh, dan jiwa manusia.

—

1. Lobi di Balik Layar: Turki, Qatar, dan Mesir Bekerja Untuk “Ya” Hamas

Turki belum lama ini mengumumkan bahwa perwakilannya akan bergabung dalam tim mediasi Gaza yang bertemu di Doha. Qatar pun telah memanggil Hamas dan Turki untuk membahas rencana perdamaian AS di ibu kota Doha.

Kantor berita Bloomberg melaporkan bahwa sayap politik Hamas bertemu dengan pejabat Qatar, Mesir, dan Turki di Doha untuk membahas usulan perdamaian AS.

Langkah ini menunjukkan tekanan diplomatik — bahwa negara-negara regional memberikan dorongan keras kepada Hamas agar menerima gencatan senjata. Di balik meja hitam dan ruang konferensi, suara-suara diplomat berbisik: “Kalau Anda tolak, semua proyeksi Anda runtuh.”

Qatar sendiri memiliki sejarah panjang sebagai fasilitator dialog antara AS–Israel dan Hamas. Dalam analisis strategi diplomatik Qatar, negara ini muncul sebagai mediator yang seolah berada di dua sisi sekaligus — dekat dengan AS dan Israel, namun juga berhubungan erat dengan Hamas.

Negara kecil ini secara aktif melobi Washington, menanam pengaruh di kampus-kampus AS, dan menggunakan media untuk membangun reputasinya sebagai “penjembatan perdamaian.” Ini menjadikan Qatar sebagai aktor yang sangat penting — hampir tak tergantikan — di meja perundingan Gaza.

—

2. Jaminan Trump: Kata yang Dipertaruhkan

Dalam momen publik yang dramatis, Axios melaporkan bahwa Donald Trump memberikan jaminan pribadi bahwa ia tidak akan membiarkan Israel melanggar gencatan senjata — janji itu disampaikan lewat mediator yang berhadapan langsung dengan Hamas.

Jaminan itu bukanlah sekadar retorika kosong: opsi yang diajukan termasuk pembentukan satgas militer AS yang memantau implementasi perjanjian.

Trump menyebut bahwa Israel telah setuju pada “initial withdrawal line,” dan begitu Hamas menyetujui, gencatan senjata akan segera mulai berlaku.

Dalam laporan Time, proses perundingan itu tidak sepenuhnya menyerahkan kesepakatan ke diplomat karier, melainkan ke tim khusus yang dipimpin oleh Steve Witkoff dan Jared Kushner — mereka-lah yang mendekat ke Hamas dengan diplomasi intensif.

Tapi jaminan bermakna hanya jika ada konsekuensi nyata bila dilanggar. Sejarah menunjukkan bahwa “janji” sering rusak — dan itulah keraguannya muncul di benak banyak pengamat Arab dan warga Palestina.

—

3. Mengapa Hamas Terima? Risiko & Keyakinan

Media Reuters menyebut bahwa Hamas menerima gencatan senjata meskipun belum mendapatkan penarikan penuh Israel—mereka menaruh kepercayaan pada Trump agar dia menegakkan komitmen yang telah dijanjikan.

Salah satu alasan adalah bahwa kepemilikan sandera kini menjadi beban — alih-alih aset. Di balik layar, tekanan dari Qatar, Mesir, dan Turki mempersempit ruang gerak Hamas. Jika terus menolak, mereka akan kehilangan dukungan diplomatik dan politik dari dunia Arab yang lebih besar.

Maka pilihan yang diambil Hamas adalah beralih dari posisi konfrontatif ke posisi yang lebih pragmatis: setuju dengan syarat jaminan keamanan, syarat penarikan, dan jaminan tidak diserang setelah gencatan—meski itu semua belum jelas secara teknis.

Namun langkah itu tidak tanpa risiko. Jika Trump gagal menahan Israel dari pelanggaran, Hamas berada di posisi yang sangat rentan—dituding berkhianat oleh pengikutnya, atau kehilangan legitimasi di mata rakyat Gaza.

—

4. Realitas Gencatan & Kembalinya Rakyat Gaza

Setelah kabinet Israel menyetujui rencana Trump, gencatan senjata akhirnya diberlakukan.

Di Gaza, ribuan warga segera kembali ke rumah mereka yang hancur. The Guardian melaporkan banyak yang datang ke lokasi yang sudah tak dikenali, puing-puing di mana dulu ada dinding, pintu, rumah tangga.

Reuters menyebut kemajuan Israel yang mulai menarik pasukannya memberikan celah bagi warga untuk berjalan kembali, meski banyak area masih berada di bawah kontrol militer.

Dalam kesunyian reruntuhan, mereka mematri doa dan kaki mereka di atas tanah yang mereka cintai. “Kami kembali bukan karena rumah masih utuh,” seorang warga Gaza mengatakan kepada Guardian, “tapi karena tanah ini tak pernah berhenti memanggil kami pulang.”

Dalam perjanjian awal, disepakati pula bahwa warga Gaza tidak akan dipindahkan secara paksa keluar dari wilayah mereka — sebuah poin penting agar pengembalian orang tidak dianggap sebagai pengusiran terselubung.

Tapi kondisi mereka tetap sulit: listrik padam, air terbatas, bangunan rusak; bahkan jika mereka pulang, rumah mereka mungkin tak layak huni.

—

5. Bayang-Bayang Ketidakpercayaan: Masa Lalu yang Membayangi

Kita tidak bisa menuliskan bab perdamaian ini tanpa menunggu bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Dalam opini Jonathan Freedland di The Guardian, ia mengingat gencatan yang diumumkan Januari lalu, yang akhirnya dibatalkan oleh Israel dalam waktu kurang dari tiga bulan.

Freedland bahkan menyebut bahwa pencapaian terbaru ini terasa rapuh karena sejarah mengajarkan betapa cepatnya kata “perjanjian” bisa dilupakan oleh kekuasaan ketika dipukul kenyataan militer atau tekanan politik.

Dan memang, dalam laporan Washington Post, poin-poin kesepakatan yang paling berat—seperti disarmament Hamas, pemerintahan transisi, atau kontrol keamanan pasca konflik—belum dibahas secara rinci.

Maka banyak pihak bertanya: apakah jaminan Trump cukup untuk menahan Israel? Apakah lobi Turki-Qatar-Mesir cukup kuat untuk memastikan kepatuhan? Atau, apakah kita sedang menyaksikan sebuah jeda sebelum gelombang baru?

BACA JUGA:  2 Tahun Genosida Gaza yang Terdokumentasi dengan Baik: Dunia Menyaksikan Langsung tapi Terus Membisu

6. Narasi Rakyat sebagai Jaminan Terkuat

Dalam kerapuhan itu, rakyat Gaza menjadi aktor paling nyata—mereka yang berjalan pulang ke tanah mereka, membangun tenda di antara puing, menyalakan lilin di kegelapan malam. Dalam tiap langkah kaki itu ada narasi yang lebih kuat dari pasal diplomatik: mereka menolak diam ketika tanah mereka akan diambil dari mereka.

Trump bisa menjamin dengan kata-kata, mediator bisa mengawasi dengan meja rapat, tapi rakyat Gaza menjamin satu hal yang tak bisa digantikan: kehadiran mereka di tanah mereka sendiri.

Dan dalam pepatah Arab lama tertulis: “Tanah yang dicintai adalah akar jiwa. Siapa pun yang menolak kembali ke akar itu, kehilangan setengah hidupnya.”

—

7. Epilog: Kepercayaan dalam Bayang-Bayang

Pada akhirnya, gencatan senjata ini bukanlah titik akhir, melainkan tahap ujian. Janji Amerika dan lobi regional membuka pintu, tapi hanya tindakan nyata dan pengawasan kuat yang bisa menjaganya tetap terbuka.

Turki, Qatar, dan Mesir telah menyusun irama diplomatik agar Hamas menari menurut nada perdamaian. Trump telah mengikat dirinya dengan jaminan pribadi, “Saya tidak akan membiarkan Israel melanggar.” Tapi jaminan manusia tidak pernah cukup untuk menahan sejarah yang telah terbiasa diulang.

Warga Gaza telah pulang, meskipun rumah mereka telah hilang. Mereka tidak pulang karena janji dunia, tetapi karena panggilan pribadi mereka kepada tanah dan sejarah.

Di antara meja diplomasi yang sunyi dan retorika yang gemerlap, satu hal tetap: rakyat berpulang, sendirian atau tidak. Dan bila dunia gagal menepati janji, rakyat Gaza tetap punya satu jaminan: bahwa mereka adalah penjaga tanah mereka sendiri. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *