DALAM perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ, kita mengenal banyak kisah menegangkan antara kebenaran dan kebatilan. Di antara sosok yang paling keras menentang Nabi adalah Abu Jahal, tokoh Quraisy yang penuh kesombongan dan kebencian terhadap Islam. Namun siapa sangka, di balik segala kekufurannya, pernah terjadi peristiwa menakjubkan: doanya dikabulkan oleh Allah. Mengapa bisa begitu? Bukankah Allah hanya mengabulkan doa hamba-hamba yang beriman?
Kajian ini mengupas dengan jernih dan penuh hikmah bagaimana Allah ﷻ, dengan kebesaran dan kehendak-Nya yang mutlak, dapat mengabulkan doa siapa pun—bahkan dari seorang musuh besar Islam. Ustadz Dr. Firanda Andirja menjelaskan bahwa terkabulnya doa bukanlah tanda keridhaan Allah, melainkan bisa jadi ujian atau istidraj—kenikmatan yang justru menjerumuskan seseorang semakin jauh dari kebenaran.
BACA JUGA: Ustadz Adi Hidayat: Katakan ‘Aku Punya Allah!’
Dari sinilah kita belajar bahwa ukuran keberhasilan bukanlah dikabulkannya doa, tetapi apakah doa itu mendekatkan kita kepada Allah atau tidak.
Melalui kisah ini, kita diajak untuk menata kembali makna doa dalam hidup. Bahwa doa bukan sekadar permintaan agar dunia kita mudah, tetapi sarana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Allah mengabulkan doa siapa saja sesuai kehendak-Nya, namun hanya doa orang beriman dan ikhlas yang benar-benar menjadi rahmat, bukan bencana terselubung. Kajian singkat ini akan membuka mata kita tentang betapa luasnya hikmah di balik setiap pengabulan doa — baik bagi mukmin maupun kafir.
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
