Saat Ilmu Sejarah Membaca Senjakala Israel

Nasrulloh Baksolahar
11 Min Read
Foto: Freepik

Negeri yang Menang Perang, tapi Kalah Jiwa

DUA tahun telah berlalu sejak Badai Al-Aqsha — peristiwa yang mengguncang jantung politik dan spiritual Timur Tengah. Israel menang di medan senjata, tetapi kalah di medan makna. Kemenangan yang dulu selalu dirayakan dengan parade bendera kini terasa hambar, sebab setiap keberhasilan militer justru menambah kesepian moral di dalam negeri.

Israel bukan hanya berperang dengan Hamas. Ia kini berperang dengan dirinya sendiri — melawan bayangan masa lalunya, luka moral yang ia ciptakan sendiri, dan krisis identitas yang makin menelan generasinya.

Menurut Haaretz (2025), Israel tengah mengalami “krisis kepercayaan terbesar dalam sejarahnya.” Rakyat kehilangan kepercayaan pada pemerintah, tentara kehilangan arah, dan lembaga-lembaga negara saling curiga. The Times of Israel melaporkan bahwa lebih dari 500.000 warga telah meninggalkan negara itu sejak 2023, bukan karena kekalahan militer, tetapi karena keletihan spiritual dan sosial.

Inflasi meroket, pariwisata mati total, dan nilai shekel jatuh hingga titik terendah dalam dua dekade. Reuters (Agustus 2025) menulis bahwa biaya perang Gaza telah menelan 300 miliar dolar AS — setara dengan 60% dari PDB tahunan Israel.
Namun, angka-angka itu hanya gejala lahiriah. Yang runtuh sebenarnya bukan ekonomi, melainkan moral kolektif.

Menurut BBC dan The Guardian, gelombang protes di Tel Aviv dan Yerusalem setiap pekan menjadi simbol retaknya jantung zionisme itu sendiri. Spanduk-spanduk bertuliskan:

“Bukan atas nama kami.”
“Hentikan darah di Gaza — kembalikan jiwa kami.”

Paradoks sejarah sedang terjadi di depan mata: ideologi yang lahir dari trauma Holocaust kini memproduksi trauma baru.
Rasa takut dan solidaritas yang dulu menyatukan mereka kini berubah menjadi pertentangan etis — antara yang ingin mempertahankan identitas dengan kekerasan, dan yang ingin menyelamatkan kemanusiaan dengan penyesalan.

—

Ibnu Khaldun: Ketika Ashabiyyah Memudar

Jika Ibnu Khaldun hidup di abad ini, mungkin ia akan menatap Israel dengan sorot mata yang tenang — lalu menulis satu kalimat di tepi Muqaddimah:

“Setiap kekuasaan yang menegakkan dirinya di atas ketakutan akan tumbang oleh ketakutan yang ia ciptakan sendiri.”

Bagi Ibnu Khaldun (1332–1406), sejarah bukan sekadar deretan peristiwa, melainkan ilmu tentang hukum sosial yang mengatur naik-turunnya peradaban.
Dalam Muqaddimah, ia menyebut kunci utama kejayaan suatu bangsa: ashabiyyah — semangat kolektif, solidaritas moral, dan energi spiritual yang membuat suatu komunitas mampu bertahan.

“Kekuatan suatu dinasti bergantung pada kekuatan ashabiyyah-nya. Ketika ashabiyyah melemah karena kemewahan dan kezaliman, peradaban itu akan hancur.”

Ashabiyyah bukan sekadar persatuan politik. Ia adalah nyala iman sosial — semangat yang memadukan idealisme dan kesederhanaan.
Bangsa padang pasir yang sederhana menaklukkan kota karena memiliki solidaritas dan keberanian. Tapi ketika mereka menetap, menikmati kemewahan, mereka kehilangan daya hidupnya. Maka datanglah generasi baru yang lebih kuat, menggulingkan mereka, dan siklus berulang.

Membaca Israel dalam Cermin Khaldunian

Israel berdiri di atas trauma — dan trauma itu dulu menjadi ashabiyyah-nya: rasa senasib sepenanggungan pasca Holocaust. Solidaritas global Yahudi menghidupkan energi luar biasa untuk membangun negara baru. Namun, dua generasi kemudian, energi itu berubah menjadi arogansi.
Kemewahan, kekuasaan teknologi, dan dominasi regional menjadikan mereka bangsa yang sombong — terjebak pada apa yang oleh Ibnu Khaldun disebut sebagai fase kemewahan dan penindasan.

Kini ashabiyyah itu hancur: bukan hanya karena perang, tapi karena kehilangan legitimasi moral.
Sebagian Yahudi Ortodoks menolak negara Israel karena dianggap melanggar Taurat. Kalangan liberal memprotes genosida di Gaza.
Bahkan militer — pilar paling sakral dalam masyarakat Israel — kini terbelah antara mereka yang setia pada Netanyahu dan mereka yang menolak menjadi “tentara penjagal.”

Ibnu Khaldun akan menyebut fase ini sebagai umur senja sebuah dinasti: ketika kekuatan lahiriah masih tampak besar, tapi fondasi spiritual dan sosial telah rapuh.

“Perubahan keadaan manusia adalah bagian dari kehendak Allah; siapa yang memahami sebabnya, ia memahami sunnah sejarah.”

—

Oswald Spengler: Senja Peradaban dan Kematian Jiwa

Oswald Spengler (1880–1936), filsuf Jerman yang menulis Der Untergang des Abendlandes (Kejatuhan Dunia Barat), melihat sejarah sebagai makhluk hidup.
Setiap peradaban, baginya, memiliki siklus biologis: lahir, tumbuh, matang, menua, lalu mati.

“Peradaban bukanlah kemajuan, melainkan akhir dari budaya. Ketika budaya menjadi peradaban, jiwa telah mati — hanya tubuh yang berjalan.”

Israel hari ini, dalam pandangan Spengler, adalah tubuh yang masih berjalan tapi tanpa jiwa.
Negara itu masih memiliki mesin teknologi, nuklir, ekonomi digital, dan kekuatan militer — namun kehilangan ruh spiritual yang dulu menjadi alasan kelahirannya.

Dari Budaya ke Mesin

Spengler membedakan antara Kultur (budaya) dan Zivilisation (peradaban). Budaya adalah masa ketika manusia hidup dengan visi dan makna; peradaban adalah masa ketika manusia hanya hidup dengan mekanisme.
Budaya menciptakan makna, sedangkan peradaban hanya mengulang fungsi.

Israel kini telah menjadi mesin: negara yang berpikir dalam logika algoritma, bukan nurani.
Drone, kecerdasan buatan, dan sistem militer presisi tinggi — semua mengesankan, tapi justru menegaskan kekosongan makna di balik kecanggihan.

Spengler akan melihat perang Gaza bukan sebagai kemenangan, tetapi sebagai tanda biologis senja budaya.
Sebab bangsa yang telah kehilangan belas kasih, kehilangan rasa malu, dan menggantikan moral dengan algoritma, sedang menuju kematian spiritual — sebagaimana Roma di akhir masa kejayaannya.

—

Arnold Toynbee: Gagal Menjawab Tantangan

Arnold J. Toynbee (1889–1975) dalam A Study of History menulis bahwa peradaban tumbuh atau runtuh bukan karena kekuatan militer, tapi karena cara mereka menanggapi tantangan.

“Sejarah umat manusia adalah kisah tentang respons terhadap tantangan — alam, sosial, dan spiritual.”

Toynbee menamainya challenge and response. Ketika sebuah masyarakat menghadapi tekanan keras, mereka bisa memilih dua jalan:

Menjawab dengan kreativitas dan moral, lalu tumbuh.

Atau menolak tantangan itu dengan kekerasan, lalu runtuh.

Israel kini berada pada simpang jalan ini.
Tantangan moral akibat genosida Gaza bukan sekadar ujian politik, tapi ujian peradaban.
Alih-alih menjawabnya dengan introspeksi moral, Israel merespons dengan peningkatan kekerasan, sensor media, dan represi terhadap kritik internal.

Hilangnya “Minoritas Kreatif”

Toynbee menyebut bahwa peradaban akan hancur ketika “minoritas kreatif” — yakni kelompok pemimpin moral dan spiritual — berubah menjadi “minoritas dominan” yang hanya mempertahankan kekuasaan.
Itulah yang kini terjadi di Israel.
Para pemimpin politik, yang seharusnya menjadi moral compass bangsa, kini lebih mirip teknokrat kekuasaan: mengatur angka korban, bukan menimbang nurani.

Netanyahu dan lingkarannya bukan lagi inspirator, melainkan administrator perang.
Ketika inspirasi digantikan oleh paksaan, kata Toynbee, peradaban mulai membusuk dari dalam.
Dan kehancuran itu tidak datang dari luar — ia tumbuh di hati bangsanya sendiri.

—

Krisis Internal: Negeri yang Melawan Dirinya Sendiri

Data dan berita terkini menunjukkan bahwa Israel sedang mengalami krisis sosial terdalam sejak berdirinya.
Menurut Haaretz, terdapat empat lapisan perpecahan:

1. Perpecahan politik antara sayap kanan Zionis-religius dan kelompok liberal sekuler.

2. Perpecahan militer, di mana banyak tentara cadangan menolak panggilan wajib militer karena menganggap perang Gaza “tidak bermoral.”

3. Perpecahan agama, antara Yahudi Haredim yang menolak wajib militer dan Zionis yang menuntut kesetaraan beban.

4. Perpecahan identitas, antara warga Yahudi diaspora yang malu dengan genosida dan warga Israel yang masih memegang nasionalisme militan.

Sementara itu, dukungan internasional kian menurun.
Al Jazeera (2025) melaporkan bahwa 68% warga muda AS kini menilai Israel sebagai negara penjajah dan pelaku kejahatan perang.
Di Eropa, universitas-universitas besar seperti Oxford, Harvard, dan Sorbonne menolak kerja sama akademik dengan institusi Israel.
Secara digital, Reuters Institute menunjukkan bahwa 78% percakapan global tentang Gaza berpihak pada Palestina.

Israel yang dulu menjadi moral project kini menjadi moral burden bagi dunia Barat.
Ia menang di senjata, tapi kalah dalam sejarah — sebab sejarah, kata Ibnu Khaldun, adalah hukum moral yang bekerja di balik waktu.

BACA JUGA: Kudis: Senjata Penyiksaan di Penjara Israel

Refleksi: Ketika Sejarah Menulis Dirinya Kembali

Tiga pemikir besar — Ibnu Khaldun, Spengler, dan Toynbee — seakan sedang berbicara satu sama lain di atas reruntuhan Gaza.
Khaldun melihat kehancuran moral dan hilangnya solidaritas.
Spengler mendengar detak senja peradaban yang kehilangan jiwa.
Toynbee menulis bab terakhir tentang kegagalan bangsa modern menjawab tantangan moral.

Israel kini berdiri di simpang jalan yang sama seperti Roma, Persia, Andalusia, dan Babilonia.
Ia telah menulis sejarah darah, tapi lupa menulis sejarah jiwa.

Apabila sejarah adalah hukum Allah — sebagaimana ditegaskan Khaldun — maka hukum itu kini sedang berjalan:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

—

Penutup: Gaza dan Fajar Baru Peradaban

Israel mungkin sedang menua, tapi sejarah tidak berhenti di situ.
Setiap kehancuran satu peradaban adalah tanda lahirnya yang lain.
Sebagaimana bangsa Badui menggantikan kemewahan kota, sebagaimana kaum tertindas menggantikan kaum penindas — kini ruh perlawanan dan moralitas dunia mulai berpindah.

Ia berpindah dari Tel Aviv yang kehilangan nurani ke Gaza yang mempertahankan harga diri.
Dari tangan penjajah ke dada para mujahid yang masih berkata,

“Hasbunallahu wa ni’mal wakil.”

Dan mungkin, seperti yang akan dikatakan Ibnu Khaldun,

“Ketika ashabiyyah orang beriman menyala, sejarah akan menulis babak baru — bukan dengan pena, tapi dengan kesabaran dan darah yang suci.” []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *