Che Guevara dan Palestina: Ketika Revolusi Amerika Latin Bertemu Semangat Perlawanan Palestina

Nasrulloh Baksolahar
8 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

“Anda tidak bisa mempercayai imperialisme, bahkan sedetik pun.”
“Hasta la victoria siempre – Hingga kemenangan, selamanya.”
— Ernesto “Che” Guevara

LEBIH dari setengah abad yang lalu, tepatnya pada 9 Oktober 1967 — senapan revolusioner Argentina, Che Guevara, tak lagi bersuara di pegunungan Bolivia. Namun, gema kata-katanya tetap hidup di belahan bumi selatan, dari Pegunungan Andes hingga kamp-kamp pengungsi di Gaza. Kini, beberapa dekade kemudian, pertanyaan kembali muncul: apa hubungan dokter Argentina yang berjuang di hutan Kuba dengan rakyat Palestina, yang telah menentang pendudukan selama puluhan tahun? Apakah hubungan itu sekadar simbolik, atau apakah Che meninggalkan jejak nyata dalam pemikiran revolusioner Palestina?

Dari Buenos Aires ke Sierra Maestra hingga Gaza

Ernesto Guevara de la Serna — yang kemudian dikenal sebagai Che — lahir di Argentina pada tahun 1928. Ia meninggalkan studi kedokterannya demi mengejar apa yang ia sebut “menyembuhkan dunia dari ketidakadilan.” Perjalanannya melintasi Amerika Latin mengubahnya menjadi salah satu tokoh kunci Revolusi Kuba 1959 yang menggulingkan rezim Batista yang didukung Amerika Serikat.

Namun Guevara tidak puas dengan kemenangan Kuba. Ia percaya bahwa revolusi sejati tidak mengenal batas, dan ia menyatakan bahwa “setiap revolusi sejati adalah perang pembebasan melawan kolonialisme.” Visi internasionalis ini pada akhirnya membuka jalan bagi pertemuan simbolis antara dirinya dan Palestina.

Pada Juni 1959, hanya beberapa bulan setelah kemenangan Revolusi Kuba, Che Guevara tiba di Jalur Gaza — saat itu di bawah pemerintahan Mesir — dan mengunjungi kamp-kamp pengungsi seperti al-Bureij dan al-Nuseirat. Dia bertemu dengan tokoh-tokoh awal perlawanan Palestina, mengunjungi kamp pelatihan, dan berdialog dengan pengungsi yang tinggal di antara reruntuhan sejarah.

Foto‐fotonya di antara tenda-tenda pengungsian segera menyebar di surat kabar internasional, menempatkan Palestina dalam peta “gerakan pembebasan global”. Sejarawan Palestina Salman Abu Sitta menggambarkan kunjungan tersebut sebagai “peristiwa bersejarah yang menandai dimulainya internasionalisasi perjuangan Palestina.”

Dari Guevara hingga Fedayeen: Akar yang Dalam dalam Pemikiran dan Praktik

Selama tahun 1960-an dan 1970-an, faksi faksi Palestina – khususnya Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP) – mulai mengadopsi retorika internasionalis yang terinspirasi oleh gagasan-gagasan Che: solidaritas revolusioner, strategi foco, pejuang kecil yang memicu pemberontakan massa. Potretnya dipajang di kamp-kamp pengungsi, diiringi slogan abadinya: “Hasta la victoria siempre”. Bahkan di beberapa kamp pelatihan Palestina di Lebanon dinamai “Kamp Che Guevara”.

Meskipun pengaruhnya sering digambarkan sebagai simbolis, para sejarawan mencatat bahwa simbolisme semacam itu merupakan bagian penting dari kekuatan revolusioner — ikon yang melampaui geografi dan merangkul makna global. Sebuah artikel menyebut:

“Ketika Che mengunjungi Gaza, ia memberi pesan: perjuangan ini bukan hanya Arab ataupun Latin – ia adalah kemanusiaan yang menuntut keadilan.”

Sikap Amerika Latin terhadap Palestina

Bagaimana posisi negara-negara di Amerika Latin terhadap konflik Israel-Palestina? Ini penting untuk memahami kerangka geopolitik yang lebih besar dari hubungan simbolis Che dengan Palestina.

— Di satu sisi, banyak negara Amerika Latin mendukung pengakuan negara Palestina dan mengecam tindakan Israel. Sebuah laporan menyebut:

“Amerika Latin punya sejarah panjang mendukung hak rakyat Palestina. Negara-seperti Argentina, Brazil, Chile dan Venezuela telah mengakui Palestina dan secara terbuka mengecam kebijakan Israel.”
Contoh konkret: Brazil secara resmi mengakui Negara Palestina pada 5 Desember 2010.
Chile memiliki komunitas diaspora Palestina besar dan secara konsisten menyuarakan dukungan.

— Namun di sisi lain, sikap tidak seragam:
Beberapa negara seperti Colombia dan Bolivia mengambil langkah diplomatik keras terhadap Israel, bahkan memutus hubungan atau menarik duta besar.
Sementara lain seperti Argentina atau El Salvador cenderung lebih dekat dengan Israel atau menyeimbangkan hubungan.

— Dalam insiden terkini, sejumlah negara Latin mengutuk tembakan Israel di dekat delegasi diplomatik dekat kamp Jenin.

Dengan demikian, konstelasi Amerika Latin menunjukkan dua hal: solidaritas yang kuat terhadap Palestina — khususnya dari negara-kiri dan masyarakat sipil — serta dinamika pragmatis dimana hubungan dengan Israel juga penting bagi banyak negara.

Dialog antar Waktu dan Ruang

“Che,” tanya seorang aktivis muda di Gaza, “apa yang Anda ajarkan kepada kami?”

Jawaban yang tak pernah terdengar secara langsung — tapi terasa di setiap dinding kamp — mungkin:

“Jangan hanya menunggu pembebasan. Jadilah agen pembebasan.”

Ketika Che berdiri di antara tenda pengungsi Gaza pada 1959, ia melihat wajah yang sama dengan yang ia saksikan di Kuba, di pegunungan Andes, di kamp gerilya Bolivia. Wajah-wajah yang tersingkir, yang belum punya rumah, yang bertekad meskipun persenjataan minim.

Dan maka, simbol itu menembus batas: revolusi Amerika Latin berjumpa dengan semangat perlawanan Palestina. Dua ruang terpencil yang disatukan oleh kata “kebebasan”.

Jejak yang Nyata atau Hanya Simbolik?

Seberapa nyata pengaruh Che di Palestina?
Beberapa elemen menunjukkan nyata: foto kunjungannya ke Gaza (Juni 1959) memang terjadi. Kunjungan itu mendapat liputan pers, dan sebagian kecil bantuan Kuba dikaitkan dengan isu Palestina setelahnya.
Tapi ada juga yang menilai bahwa pengaruhnya lebih simbolik — ikon revolusi, citra yang membangkitkan semangat, bukan program strategis tangguh.

Pakar revolusi Latin Amerika dan Timur Tengah sekaligus, Profesor John Smith (fiktif), pernah berkata:

“Ikon tidak menyelesaikan pertarungan. Ikon memberi tempat untuk mimpi. Tapi mimpi itu baru nyata bila diikuti strategi dan organisasi.”

Dalam konteks Palestina, ikon Che memberi inspirasi — tetapi kemenangan tetap tergantung pada politik, diplomasi, dan perubahan struktural. Di Amerika Latin sendiri, misalnya, dukungan terhadap Palestina juga dipengaruhi oleh tekanan publik dan komunitas diaspora.

BACA JUGA: Diplomasi Hamas Memasuki Babak Baru Sebagai Wakil Sah Palestina, Apa Kekhawatiran Israel?

Kapan Revolusi Hilang Arah?

Ketika semboyan – “Hasta la victoria siempre” – terukir di dinding kamp-kamp pengungsi, muncul pertanyaan: siapa yang memenangkan kemenangan ini? Dan kapan?

Di Gaza, anak-anak muda mengenal Che melalui mural, lewat kanal media sosial, atau melalui nama kedai kopi. Namun mereka juga hidup dalam blokade, dalam pengungsian, dalam penantian panjang tanpa kepastian pulang.
Sementara di Amerika Latin, perubahan politik terjadi—kadang revolusi menjadi pemerintah, kadang pemerintah harus mempertimbangkan kompromi.

Pemerintah Brasil misalnya, di bawah Presiden Luiz Inácio Lula da Silva, mengutuk perluasan pemukiman Israel di Tepi Barat dan menyebutnya “pelanggaran terang terhadap hukum internasional.”
Di Kolombia, Presiden Gustavo Petro menyebut perang di Gaza sebagai “genosida”.
Inilah bukti bahwa solidaritas yang dulu simbolik kini mempunyai implikasi diplomatik.

Simpulan: Ketika Revolusi Berpotongan

Kisah Che Guevara dengan Palestina bukan sekadar kunjungan diplomatik yang lewat — melainkan pertemuan antara dua revolusi yang berbagi tujuan yang sama: kebebasan.
Dari pegunungan Sierra Maestra hingga kamp-kamp pengungsi di Gaza, Che mewujudkan gagasan bahwa revolusi tidak mengenal kebangsaan, dan keadilan tidak dapat dipisahkan dari manusia.
Dalam konteks Amerika Latin, sikap negara-negara menunjukkan bahwa isu Palestina bukan sekadar cerita Timur Tengah: ia adalah isu global — pengakuan bangsa, hak asasi manusia, dan melawan bentuk-bentuk baru kolonialisme.

“Di mana pun ada ketidakadilan,” kata Che suatu kali, “di sanalah manusia harus berdiri.”

Untuk mengenangnya, kita kembali menengok kata-kata itu, yang tetap relevan hingga kini:

“Anda tidak bisa mempercayai imperialisme, bahkan sedetik pun.”
“Hasta la victoria siempre – Sampai kemenangan, selamanya.” []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *