IMAN itu bukan garis lurus — ia berdenyut seperti hati yang hidup. 💫
Kadang tinggi seperti cahaya fajar, kadang redup seperti malam yang hening.
Itulah tanda imanmu masih bernyawa, bukan mati.
Al-Hasan al-Bashri berkata, “Iman bukan dengan angan-angan, tapi dengan apa yang menetap di hati dan dibuktikan oleh amal.”
Saat imanmu turun, jangan berputus asa — justru itu panggilan untuk kembali.
Allah menyukai hamba yang jatuh tapi bangkit lagi dengan taubat.
Naiknya iman tak selalu karena banyaknya amal, tapi karena ketulusan hati.
Umar bin Khattab berkata, “Marilah kita duduk sejenak untuk menambah iman kita.”
Maka rawatlah imanmu seperti taman — sirami dengan dzikir, pupuk dengan ilmu.
Jangan biarkan lalai membuat imanmu layu tanpa terasa.
Turunnya iman bukan akhir, tapi awal untuk kembali kepada Allah.
BACA JUGA: Salimul Aqidah: Aqidah yang Lurus Menuju Hati yang Selamat di Dunia dan Akhirat
Sufyan ats-Tsauri berkata, “Aku tidak pernah berjuang melawan sesuatu yang lebih sulit daripada hatiku sendiri.”
Karena iman tumbuh dalam perjuangan melawan diri, bukan dalam kenyamanan.
Bila imanmu melemah, bergaullah dengan orang-orang saleh — sebab mereka angin yang meniup bara hatimu.
Dan bila imanmu naik, jangan sombong — karena ia naik bukan karena dirimu, tapi karena rahmat Allah.

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

