Kematian Dick Cheney, Arsitek Invasi AS ke Irak: Amerika Terusir dan Beban Psikologisnya

Nasrulloh Baksolahar
12 Min Read
Olah foto dari: MSNBC

WAKIL Presiden George W. Bush, Cheney akan dikenang karena advokasinya terhadap perang untuk mengubah rezim di Timur Tengah

Dick Cheney, mantan wakil presiden AS yang mengawasi invasi ke Afghanistan dan Irak serta apa yang disebut “perang melawan teror”, meninggal pada hari Selasa di usia 84 tahun.

Keluarga Cheney mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mantan wakil presiden itu meninggal karena komplikasi pneumonia serta penyakit jantung dan pembuluh darah.

“Selama puluhan tahun, Dick Cheney mengabdi kepada negara kita, termasuk sebagai Kepala Staf Gedung Putih, Anggota Kongres Wyoming, Menteri Pertahanan, dan Wakil Presiden Amerika Serikat,” demikian bunyi pernyataan keluarga.

“Kami sangat berterima kasih atas semua yang telah dilakukan Dick Cheney untuk negara kami.”

Cheney, yang bertugas di pemerintahan Republik Presiden George W Bush antara tahun 2001-2009, memulai karier politiknya pada tahun 1969, ketika ia bekerja bersama Donald Rumsfeld dalam pemerintahan Richard Nixon.

Cheney dan Rumsfeld dipandang sebagai arsitek utama doktrin neokonservatif kebijakan luar negeri AS sejak tahun 1970-an dan seterusnya, yang lebih mengutamakan kekuatan militer pre-emptive untuk memulihkan dominasi global AS.

Ketika Rumsfeld diangkat menjadi penasihat Gedung Putih, Cheney menjadi wakilnya; dan setahun kemudian, ketika Rumsfeld menjadi direktur Dewan Biaya Hidup, Cheney menjabat sebagai asistennya.

Cheney kemudian menjabat sebagai wakil pertama kepala staf Gedung Putih dan kemudian kepala staf di bawah Gerald Ford pada tahun 1974.

Ia pindah ke Capitol Hill setelah terpilih sebagai perwakilan dari Wyoming, tempat ia tinggal selama masa kepresidenan Ronald Reagan.

‘Badai Gurun’

Kemudian, saat menjabat sebagai menteri pertahanan di bawah Presiden George HW Bush, Cheney menjadi tokoh vokal yang menganjurkan kekuatan militer melawan Presiden Irak Saddam Hussein, yang pasukannya telah menginvasi Kuwait.

Cheney membujuk Raja Arab Saudi Fahd untuk mengizinkan pengerahan lebih dari 550.000 tentara AS di kerajaan itu menjelang Operasi Badai Gurun dalam Perang Teluk.

Ketika serangan darat dimulai, pasukan AS dan sekutu mengusir pasukan Irak dari Kuwait sebelum mencapai gencatan senjata dalam waktu 100 jam setelah serangan awal.

Setelah Bill Clinton mengalahkan George HW Bush untuk kursi kepresidenan pada bulan Januari 1992, Cheney mengumumkan bahwa ia meninggalkan Washington dan politik.

Karena hubungan panjang Cheney dengan keluarga Bush dan pengalamannya di pemerintahan, George W Bush kemudian memilihnya untuk memimpin pencarian wakil presiden pada tahun 2000.

Senat AS memberikan suara untuk mencabut otorisasi perang Irak tahun 2002

Bush yang lebih muda kemudian memutuskan bahwa Cheney adalah kandidat terbaik untuk pekerjaan itu.

Saat kembali terjun ke dunia politik, Cheney menerima paket pensiun sebesar $35 juta dari perusahaan jasa minyak Halliburton, yang dipimpinnya dari tahun 1995 hingga 2000.

Setelah serangan 11/9, Cheney menganjurkan perubahan rezim di sejumlah negara Timur Tengah untuk menggantinya dengan pemerintahan yang lebih patuh dengan kebijakan luar negeri AS.

Ia memelopori “Doktrin Satu Persen,” yang juga dikenal sebagai “Doktrin Cheney,” yang menyatakan bahwa AS perlu menyerang secara preemptif siapa pun yang dianggap dapat menimbulkan ancaman terhadapnya.

Antara Oktober dan Desember 2001, pemerintahan Bush melancarkan serangan terhadap rezim Taliban Afghanistan karena melindungi mantan pemimpin al-Qaeda Osama bin Laden.

Selama periode ini, Cheney juga memainkan peran utama dalam memperjuangkan invasi Irak pada Maret 2003.

Cheney meramalkan bahwa pasukan AS akan “disambut sebagai pembebas” di Irak dan bahwa pengerahan pasukan – yang akan berlangsung sekitar satu dekade – akan “berjalan relatif cepat… dalam hitungan minggu, bukan bulan.”

Cheney dan para penganjur perang lainnya di pemerintahan Bush telah mengklaim bahwa Irak telah mengembangkan senjata pemusnah massal (WMD), dan bahwa Saddam Hussein mampu menyediakannya bagi organisasi-organisasi seperti al-Qaeda, yang menempatkan AS pada risiko yang akan segera terjadi.

Alasan yang dikemukakan pemerintahan Bush untuk memasuki Irak – bahwa Hussein memiliki WMD dan menyembunyikan militan yang terkait dengan serangan 11/9 – ternyata salah.

Cheney juga merupakan pendukung kuat penerapan waterboarding terhadap tersangka teroris yang ditangkap, dan menyatakan dirinya sebagai “pendukung kuat teknik interogasi yang ditingkatkan”.

Saat Arsitek Penjajahan Irak Mati, Amerika sudah Terusir

Dick Cheney meninggal dunia. Sang arsitek perang yang menulis ulang peta Timur Tengah dengan darah manusia, kini berhenti bernapas di usia 84 tahun. Ia berpulang bukan di medan perang, bukan di pengadilan internasional, melainkan di rumah sakit dengan komplikasi jantung dan pneumonia. Ironi yang pahit—bahwa mereka yang menulis skenario kehancuran bangsa lain sering kali wafat dalam damai.

Cheney akan diingat—oleh sebagian kalangan di Washington—sebagai negarawan, “patriot yang membela keamanan Amerika”. Tapi di Baghdad, Fallujah, dan Basra, namanya bergema lain: simbol kesombongan kekuasaan yang mengira bom bisa membawa demokrasi.

—

Dari Badai Gurun ke Badai Dusta

Cheney adalah otak di balik dua perang yang mengubah wajah dunia Islam: Afghanistan (2001) dan Irak (2003). Bersama Donald Rumsfeld dan George W. Bush, ia menulis babak yang disebut “War on Terror”, namun yang sebenarnya adalah war for control — perang demi dominasi.

Sebagai Menteri Pertahanan di bawah George H.W. Bush, Cheney pernah merancang Operasi Badai Gurun tahun 1991. Ia membujuk Raja Fahd agar mengizinkan 550.000 pasukan AS memasuki tanah suci Arab Saudi, dengan alasan menahan agresi Saddam Hussein ke Kuwait. Dunia menyaksikan perang yang selesai “dalam seratus jam”—tetapi membuka luka yang tak pernah sembuh: pangkalan militer Amerika di jazirah Arab.

Dua belas tahun kemudian, Cheney kembali dengan ambisi yang sama, kali ini sebagai Wakil Presiden. Bersama Rumsfeld dan Paul Wolfowitz, ia memelopori serangan ke Irak atas tuduhan senjata pemusnah massal. Tak pernah ditemukan. Namun jutaan warga sipil kehilangan rumah, dan lebih dari 200 ribu orang tewas. Cheney sendiri menanggapi dingin: “It was worth it.”
Kalimat yang menjadi epitaf moral dari sebuah perang yang lahir dari kebohongan.

—

Psikologi Sang Arsitek: Antara Ketakutan dan Kesombongan

Dr. Michael Stevens, psikolog politik di Harvard, pernah menulis tentang “Sindrom Keamanan Cheney”. Ia menggambarkan pola pikir di mana rasa takut terhadap ancaman justru melahirkan agresi tanpa batas.

“Cheney meyakini bahwa jika ada peluang satu persen musuh bisa menyerang, maka Amerika harus menyerang dulu,” tulis Stevens. “Ia mengubah probabilitas menjadi paranoia, dan paranoia menjadi kebijakan luar negeri.”

Dalam teori kepribadian, Cheney adalah representasi dari authoritarian personality: kepribadian yang yakin bahwa kekuasaan moral dimiliki hanya oleh dirinya dan bangsanya. Itulah yang membuatnya mendukung penyiksaan tahanan di Guantanamo dan pembunuhan dengan drone di Yaman dan Pakistan. Ia menyebutnya defense of freedom. Dunia menyebutnya pelanggaran HAM.

—

Irak Masih Berdiri

Dua puluh dua tahun setelah invasi 2003, Irak masih berdiri. Tidak utuh, memang—retak oleh sekte, dilanda korupsi, dihantui sisa trauma perang. Tapi tetap ada rakyat yang bangkit setiap pagi, membangun kembali masjid yang hancur, menanam kurma di tanah yang dulu dilintasi tank Abrams, dan mengajar anak-anak mereka tentang makna sabar.

Seorang guru di Najaf berkata kepada Al Jazeera:

“Amerika mengira mereka bisa memusnahkan jiwa kami. Mereka lupa bahwa jiwa bukanlah bangunan yang bisa diruntuhkan.”

Invasi yang dipimpin Cheney telah menggulingkan Saddam, tapi juga menggulingkan ilusi Amerika sendiri. Mereka datang untuk menanam demokrasi, namun menumbuhkan ISIS. Mereka ingin menciptakan sekutu, tapi justru melahirkan kemarahan yang mengikat dunia Islam melawan hegemoni Barat.

Cheney pernah berkata bahwa pasukan AS akan disambut sebagai “pembebas”. Namun kamera-kamera dunia menangkap kenyataan sebaliknya: tentara AS dihujani batu, bukan bunga. Ia ingin Irak menjadi model “Timur Tengah baru”, tapi yang lahir justru rangkaian perang saudara dari Mosul hingga Aleppo.

—

Kematian Sang Arsitek dan Bayangannya di Timur Tengah

Kini Cheney mati, tapi kebijakannya hidup dalam bentuk lain: dalam kebijakan intervensi, dalam perang proksi, dalam persekutuan minyak dan senjata. Ia bukan sekadar individu, melainkan lambang dari cara pikir kekaisaran modern—bahwa dunia bisa direkayasa dengan mesin perang.

Psikolog sosial Dr. Carol Tavris menyebut fenomena ini sebagai moral disengagement: kemampuan manusia untuk memisahkan tindakan jahat dari tanggung jawab moral. Cheney percaya ia menyelamatkan Amerika, tapi menolak melihat jutaan korban di luar batas negaranya sebagai “manusia seutuhnya”.

“Para arsitek perang seperti Cheney hidup dalam ruang gema,” tulis Tavris. “Mereka hanya mendengar gema dari keyakinan mereka sendiri.”

Namun sejarah punya cara untuk membalas. Cheney wafat dengan pujian resmi dari keluarga Bush, tapi di Baghdad, imam masjid membaca doa untuk para korban perang yang tak pernah mendapat keadilan. Nama Cheney mungkin dipahat di batu nisan negara, tetapi di hati rakyat Irak, ia menjadi pengingat tentang apa yang terjadi ketika manusia memperlakukan Tuhan seolah sekutu politiknya.

—

Arsitek yang Tidak Bisa Mengendalikan Rancangannya

Kematian Cheney seperti pintu yang menutup satu era: era neokonservatisme Amerika yang yakin bisa mengatur Timur Tengah dengan tank dan propaganda. Namun, bahkan dari kubur, pertanyaannya masih menggema:
Apakah kebohongan bisa menciptakan keamanan?
Apakah bom bisa menumbuhkan demokrasi?

Cheney membangun kerajaannya dengan asumsi bahwa kekuatan militer adalah jawaban. Tapi seperti semua arsitek besar yang keliru membaca fondasi, ia lupa bahwa manusia tidak bisa dipaksa mencintai penindasnya.
Irak, dengan segala luka dan ketidaksempurnaannya, tetap menjadi bukti bahwa tanah yang dibasahi darah tidak akan tunduk pada peta yang digambar dari jauh.

BACA JUGA:  Bahkan Orang Amerika Bertanya-tanya: Apakah Raja Bibi Memainkan Permainan Ganda?

Warisan yang Tidak Pernah Mati

Ada ironi yang tak bisa disembunyikan oleh kematian. Cheney telah tiada, tapi drone masih terbang di langit Yaman, pangkalan militer AS masih berdiri di Qatar dan Bahrain, dan kebijakan intervensi masih terus mencari “musuh baru”.

Namun, di sisi lain, ada sesuatu yang juga tak mati: daya tahan rakyat. Seperti pohon kurma di padang yang terus tumbuh meski diserang badai gurun, bangsa Irak masih berdiri, dengan luka yang menjelma menjadi akar. Mereka mungkin kehilangan pemimpin, rumah, dan generasi, tapi tidak kehilangan kehendak untuk hidup.

Kematian Cheney menutup satu babak dalam sejarah panjang arogansi global, tetapi membuka bab lain: tentang bagaimana bangsa-bangsa yang hancur justru menemukan dirinya kembali.
Mungkin, di antara reruntuhan Baghdad, kita bisa mendengar bisikan lembut sejarah:

“Engkau bisa membunuh tubuh, tapi tidak bisa membunuh tekad.
Engkau bisa menjatuhkan negara, tapi tidak bisa menjatuhkan jiwa.” []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *