Jangan Dicela, Ada Orang yang Memang Hanya Mampu Ngopi Kopi Sachet

4 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

ADA satu fenomena sosial yang diam-diam bikin dunia perkopian ini agak elit. Di pojok kafe, orang-orang sibuk menimbang biji kopi seperti menimbang nasib, memutar grinder manual seolah sedang main alat musik jazz, lalu menyeruput dengan wajah khusyuk. Katanya, “notes-nya fruity, ada hint caramel dan sedikit aftertaste earthy.” Padahal yang diomongin cuma kopi.

Tapi di sisi lain dunia—tepatnya di rumah kontrakan, di dapur sempit yang kipas anginnya bunyinya ngiiing terus—ada seseorang yang cuma bisa bikin kopi sachet tiga rasa: original, cappuccino, sama mocca. Nggak ada aroma fruity, yang ada aroma kemanusiaan. Dia cuma butuh air panas, sendok, dan sedikit harapan.

BACA JUGA:  Sering Lupa Makan tapi Nggak Pernah Lupa Ngopi: Wajar Nggak Sih?

Nah, di sinilah tragedi sosial dimulai: si penikmat kopi sachet sering kali jadi korban bullying terselubung.
“Masih kopi sachet?” kata kaum barista wannabe dengan alis naik setengah senti.
Padahal, yang sachet-sachet ini bukan nggak ngerti kopi, tapi memang hidupnya masih di tahap “yang penting ada rasa pahit di lidah, bukan di hati.”

Kalau dipikir, kopi sachet itu punya jasa besar dalam peradaban manusia.
Dialah penyelamat anak kos tanggal tua, penyemangat karyawan bergaji UMR, dan penghibur mahasiswa yang skripsinya udah kayak sinetron tak berkesudahan.
Tanpa kopi sachet, bisa jadi banyak orang ga semangat di pagi hari.
Kalau semua orang harus beli biji kopi Ethiopia yang digiling tangan kanan petani sambil baca puisi—ya bubar peserta.

Mari kita jujur. Kadang yang nyinyir soal kopi sachet itu bukan karena rasanya, tapi karena gengsi.
Katanya “ngopi itu soal seni, bukan harga.” Tapi begitu disodorin kopi sachet, langsung manyun kayak disuruh minum air got.
Padahal, kalau lagi di gunung, kehujanan, lapar, dan kedinginan, terus ada yang nawarin kopi sachet panas—mendadak itu terasa seperti minuman surga.
Ternyata “notes” paling nikmat dari kopi adalah keikhlasan.

Bahkan, kalau mau jujur, kopi sachet itu demokratis.
Dia nggak pilih-pilih teman. Mau diminum pejabat, mahasiswa, satpam, atau ibu-ibu arisan, dia tetap larut dengan cepat—nggak ada perasaan.
Berbeda dengan kopi manual brew yang kadang bikin peminumnya lebih sombong daripada yang punya kebun kopi itu sendiri.

Dan satu hal yang sering dilupakan: orang yang ngopi pakai kopi sachet itu bukan berarti nggak punya selera, tapi mungkin punya prioritas lain.
Uang lebih baik buat bayar listrik, beli gas melon, air galon, bukan beli grinder.
Atau mungkin dia tahu bahwa pahit hidupnya sudah cukup, jadi tak perlu ditambah dari biji kopi mahal.

BACA JUGA:  Minum Kopi Sachet Malam Hari, Apakah Apa-apa?

Jadi, kalau kamu masih ngopi pakai sachet—santai saja.
Jangan minder, jangan panik. Dunia ini butuh orang-orang sederhana yang bisa menikmati hal kecil tanpa harus menjelaskannya dengan istilah “single origin.”
Karena pada akhirnya, kopi bukan soal alat, tapi soal siapa yang kamu pikirkan saat menyesapnya.

Dan kalau ada yang masih nyinyir sama kopi sachet, biarin aja.
Mereka mungkin belum pernah tahu rasanya bahagia cuma dengan air panas dan sebungkus kecil kejujuran. []

___________

Kirim tulisan Anda ke Islampos. Isi di luar tanggung jawab redaksi. Silakan kirim ke: [email protected], dengan ketentuan tema Islami, pengetahuan umum, renungan dan gagasan atau ide, Times New Roman, 12 pt, maksimal 650 karakter. Sertakan foto diri, Kartu Tanda Identitas (KTP/KTP/SIM), akun media sosial (IG, Facebook, atau Tiktok), dan imel.

___________

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *