Teluk yang Mempertanyakan Israel
PADA Dialog Manama 2025, salah satu forum diplomatik paling bergengsi di kawasan Teluk, Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr bin Hamad bin Hamood Albusaidi, berbicara dengan nada yang jarang terdengar di forum resmi. Ia menilai keamanan regional dengan jujur dan keras.
Dalam pidatonya, diplomat tertinggi Muscat memperingatkan bahaya isolasi Iran dan menekankan bahwa Israel kini “sumber utama ketidakamanan di kawasan melalui tindakan agresif dan kebijakan eskalatifnya.”
Pernyataan ini menantang narasi lama yang selama ini dibangun Amerika Serikat dan Israel sendiri: bahwa Iran-lah yang menjadi arsitek utama ketidakstabilan regional. Namun realitas terbaru di lapangan menunjukkan perspektif Teluk berbeda. Israel tidak lagi dipandang sebagai sekutu potensial, tetapi sebagai ancaman yang tumbuh bagi stabilitas kawasan.
“Sejak 7 Oktober 2023, dinamika regional telah berubah. Apa yang dulu mitra strategis kini menjadi sumber ketidakpercayaan,”
— Diplomat Teluk yang meminta anonim, The New Arab, 2025.
Sentimen ini telah lama ada, namun serangan rudal Israel terhadap Doha hampir dua bulan lalu memicu dorongan bagi lebih banyak diplomat Teluk Arab untuk berbicara terbuka tentang meningkatnya persepsi negatif terhadap Israel.
—
Risiko Eskalasi Israel di Timur Tengah
Selama sepuluh bulan pertama masa jabatan kedua Presiden AS Donald Trump, Israel di bawah Netanyahu semakin memperlihatkan perilaku agresif di wilayah Teluk dan kawasan Arab. Meskipun Washington terus memberikan dukungan, tindakan Tel Aviv — terutama serangan terhadap Qatar — justru menimbulkan ketegangan diplomatik yang nyata.
Seiring dengan kemajuan militer Israel terhadap aktor-aktor dalam ‘Poros Perlawanan’ yang dipimpin Iran, perilaku agresif Israel telah mengasingkan pemerintahan Trump dan monarki Teluk. Kekhawatiran atas pelanggaran garis merah regional telah mendorong GCC untuk membujuk Washington agar menahan Israel, entah melalui tekanan diplomatik, gencatan senjata dengan Hamas dan Iran, atau pembatasan serangan terhadap Lebanon, Qatar, Suriah, dan Yaman.
“Tindakan Israel mengubah mitra potensial menjadi pihak yang harus menahan diri, bukan mendukung,”
— Ryan Bohl, analis senior Timur Tengah dan Afrika Utara, RANE.
—
Washington, Teluk, dan Permainan Lobi
Di tengah ketegangan ini, Washington menghadapi dilema kompleks. Negara-negara GCC, terutama Arab Saudi, semakin melihat Israel bukan sebagai sekutu strategis melawan Iran, melainkan sebagai ancaman yang berkembang bagi stabilitas Teluk.
Dr. Neil Quilliam dari Chatham House menyoroti pergeseran ini:
“Lobi Teluk telah menemukan lahan subur di pemerintahan Trump untuk menanam pengaruh mereka, dan kini mereka menuai hasilnya. Mereka mampu memberikan Trump apa yang diinginkannya — dari janji perdagangan hingga peluang investasi — namun Israel, di bawah Netanyahu, kini menimbulkan lebih banyak masalah daripada solusi.”
Quilliam menambahkan bahwa serangan Israel terhadap Doha menjadi “momen penting” dalam hubungan AS-Israel, karena Trump harus memaksa Netanyahu meminta maaf secara publik kepada Emir Qatar Tamim, menunjukkan penurunan rasa hormat Presiden terhadap Perdana Menteri Israel.
—
Ekstremisme Politik dan Provokasi Israel
Pada 23 Oktober, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich memicu kontroversi dengan pernyataannya yang meremehkan Arab Saudi, menolak normalisasi hubungan jika Israel tidak mendapat pengakuan terhadap hak-hak historis di Yudea dan Samaria, serta menekankan bahwa negara Palestina tidak boleh menjadi syarat bagi normalisasi.
“Teruslah menunggangi unta di padang pasir Arab Saudi, dan kita akan terus berkembang dengan ekonomi, masyarakat, negara, dan hal-hal hebat yang kita ketahui,”
— Bezalel Smotrich, Oktober 2025.
Smotrich kemudian mencoba menarik kembali pernyataannya melalui permintaan maaf di X, tetapi ia tetap mempertahankan posisi kerasnya mengenai tuntutan regional Israel yang lebih luas.
Pernyataan ini tidak hanya menyinggung Arab Saudi, tetapi juga menunjukkan ketidaktahuan pejabat ekstremis Israel terhadap politik dan sensitivitas regional. Namun, kata-kata ekstremis ini tidak otomatis mengubah strategi Riyadh.
“Arab Saudi menempatkan stabilitas jangka panjang dan pembentukan negara Palestina di atas retorika provokatif Israel,”
— Dr. Neil Quilliam, Chatham House.
—
Teluk Menegaskan Keagenan di Tengah Destabilisasi Israel
Dalam konteks ini, negara-negara Teluk menegaskan keagenan mereka. Mereka memanfaatkan momentum di mana Israel melanggar batas untuk menekan agar menahan diri, sambil tetap fokus pada stabilitas dan keamanan regional jangka panjang.
Bagi Teluk, provokasi Israel adalah beban yang harus diimbangi dengan strategi yang lebih luas, bukan sinyal untuk mengubah kebijakan secara impulsif.
“Israel tidak bisa lagi mengandalkan agresi militer untuk mendapatkan penerimaan diplomatik. Legitimasinya hanya bisa diperoleh melalui akuntabilitas dan komitmen nyata terhadap perdamaian,”
— Dr. Neil Quilliam, Chatham House.
—
Abraham Accords: Masih Relevan?
Pertanyaannya kini: apakah Abraham Accords masih dapat dipercaya sebagai instrumen stabilitas regional?
Abraham Accords yang ditandatangani pada 2020 diharapkan membuka pintu normalisasi antara Israel dan beberapa negara Teluk. Namun, realitas terbaru menunjukkan bahwa normalisasi tidak bisa dipaksakan tanpa penyelesaian masalah inti Palestina.
Kegagalan Israel menahan diri, agresi terhadap sekutu non-NATO seperti Qatar, dan retorika provokatif pejabat ekstremis telah menimbulkan keraguan besar di kalangan negara Teluk. Kesepakatan itu tetap relevan secara simbolis, tetapi kepercayaannya terhadap Israel semakin rapuh.
“Normalisasi hubungan hanya akan berkelanjutan jika Israel menunjukkan itikad baik untuk membangun perdamaian, termasuk pengakuan negara Palestina,”
— Ryan Bohl, RANE.
—
Dinamika Teluk-Israel di Era Baru
Tahun terakhir telah mengubah dinamika Timur Tengah. Israel kini bukan lagi sekutu potensial yang dapat diandalkan. Negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan UEA, menegaskan pengaruh mereka di Washington, menggunakan momen-momen pelanggaran Israel untuk menekan agar menahan diri.
Washington, di sisi lain, harus menavigasi hubungan transaksional yang kompleks: menyeimbangkan pengaruh politik dan pribadi dari negara Teluk dengan tekanan dari lobi pro-Israel yang terstruktur.
Hasilnya adalah tari diplomatik yang rumit, di mana Teluk memanfaatkan setiap celah untuk memastikan Israel menahan diri, sembari tetap menjaga fokus pada keamanan dan stabilitas jangka panjang.
BACA JUGA: Aliansi Amerika–Israel, Seperti Quraisy–Yahudi Madinah?
Jalan Israel Menuju Legitimasi Teluk
Di seluruh dunia Arab, provokasi Israel dipandang sebagai beban. Stabilitas jangka panjang dan keamanan regional lebih penting daripada janji transaksional atau isyarat singkat dari Tel Aviv.
Israel hanya dapat memperoleh legitimasi di mata Teluk melalui tindakan nyata:
Menahan diri dari agresi militer tanpa batas.
Menunjukkan akuntabilitas terhadap kekacauan yang ditimbulkan.
Komitmen tulus terhadap perdamaian, termasuk membuka jalan bagi pembentukan negara Palestina.
Tanpa langkah-langkah ini, Abraham Accords tetap berada di wilayah simbolik, bukan instrumen kepercayaan yang kuat.
“Israel harus memahami bahwa legitimasinya di Teluk bukan melalui agresi, melainkan melalui rekonstruksi kepercayaan yang sulit, tetapi bukan tidak mungkin,”
— Ryan Bohl, RANE.
—
Refleksi Akhir
Apa yang terjadi di Teluk adalah pengingat penting bagi Tel Aviv: kekuatan militer dan diplomasi transaksional tidak secara otomatis menghasilkan legitimasi politik. Kata-kata ekstremis pejabat Israel, serangan terhadap sekutu non-NATO, dan tindakan agresif lainnya telah mengubah persepsi negara-negara Teluk.
Bagi Teluk, stabilitas regional dan keamanan jangka panjang lebih penting daripada keuntungan jangka pendek. Israel, jika ingin mendapatkan penerimaan nyata, harus menunjukkan itikat baik, tanggung jawab, dan komitmen tulus terhadap perdamaian, bukan hanya mengandalkan kekuatan militer atau janji transaksional sesaat.
“Israel kini menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan, diawasi, dan ditahan — bukan sekadar mitra strategis,”
— Dr. Neil Quilliam, Chatham House. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
