Kaos Kaki Sobek Warisan Ayah

Yudi
By Yudi
3 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

ALKISAH, seorang lelaki tua yang bergelimang harta terbaring di ranjangnya, napasnya tersengal-sengal, matanya sayup menatap langit-langit kamar yang kini seperti langit senja menua. Di sekelilingnya berdiri anak-anaknya — yang dulu ia gendong satu per satu dengan tangan penuh keringat dan kebanggaan, kini menatapnya dengan mata basah dan hati yang gamang.

Dengan suara serak di ambang perpisahan, lelaki itu berbisik, “Anak-anakku… jika ayah telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, ayah punya satu permintaan kecil.”

Suasana hening. Hanya detak jam dinding yang berani berbicara.
“Apa, Ayah?” tanya salah satu anaknya dengan suara yang nyaris pecah.

BACA JUGA:  Amplop Titipan Ustad

“Tolong… pakaikan ayah kaos kaki kesayangan itu. Meski sudah robek. Ayah ingin mengenang masa kerja, masa letih yang dulu ayah cintai. Pakailah itu saat ayah dikubur nanti.”

Mereka mengangguk, menahan tangis. Tak ada yang mengira, wasiat itu akan menjadi teka-teki terakhir dari seorang ayah yang bijak.

Waktu pun berjalan pelan menuju keheningan. Lelaki kaya itu pergi dalam damai, meninggalkan rumah besar yang kini terasa sunyi meski lampunya menyala terang.

Anak-anaknya menepati janji. Saat jenazah dikafani, mereka meminta kepada ustadz agar kaos kaki robek itu dikenakan.
Namun sang ustadz menunduk lembut, suaranya tenang tapi tegas,
“Maaf, secara syariat, hanya dua lembar kain putih yang boleh membungkus jasad. Tak boleh lebih, bahkan sepasang kaos kaki pun.”

Udara di ruangan itu terasa berat. Ada debat, ada kesedihan yang tertahan. Hingga datang seorang notaris — tua, berkacamata, membawa amplop kecil yang disegel.
“Inilah,” katanya pelan, “wasiat terakhir ayah kalian.”

Amplop dibuka, suara kertas tua berdesir seperti sayap malaikat yang menyingkap rahasia.

Tulisan tangan sang ayah terbaca dengan goresan yang lembut tapi dalam:

“Anak-anakku…
Kalian pasti sedang bingung. Kalian ingin memakaikan kaos kaki robek ayah, tapi agama melarang.
Lihatlah — betapa harta ayah tak berdaya. Rumah megah, mobil berderet, sawah menghampar, tak satu pun bisa menemani ayah ke liang lahat.
Bahkan sepasang kaos kaki robek pun, tak boleh ikut serta.
Begitulah dunia — megah di mata, hampa di akhir.
Hanya amal yang tulus, sedekah yang ikhlas, dan doa anak yang saleh, itulah bekal sejati.
Jangan tertipu oleh gemerlapnya dunia, wahai anak-anakku.
Gunakan dunia ini… sebagai jalan menuju ridha Allah.
Salam sayang, dari Ayah yang kini telah tenang.”

BACA JUGA: Kisah-kisah Abu Hanifah yang Menggetarkan dan Menggugah Jiwa

Surat itu meneteskan keheningan ke dalam dada mereka. Air mata jatuh, bukan sekadar karena kehilangan, tapi karena tersadar:

Kaos kaki robek itu hanyalah simbol — dari betapa fana semua yang mereka kejar.

Dan di bawah tanah yang lembab, di balik dua helai kain putih, sang ayah telah mengajarkan pelajaran paling mahal:
Bahwa manusia lahir tanpa harta, dan akan kembali tanpa sehelai pun kain milik dunia.

Yang tinggal hanyalah amal.
Yang kekal hanyalah kasih.
Yang sejati hanyalah Allah. []

SUMBER INSPIRASI: INMOTIVASI,BLOGSPOT.CO.ID

 

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *