Perpecahan Para Penjajah: saat Negeri Rempah Menjadi Medan Perang Eropa

Nasrulloh Baksolahar
9 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

PADA  abad ke-16 hingga ke-19, Nusantara bukan sekadar gugusan pulau yang jauh di timur. Ia adalah kilang emas dunia, ladang harta yang bahkan membuat raja-raja Eropa rela saling tikam. “Rempah lebih berharga dari emas,” tulis Fernand Braudel, sejarawan ekonomi dunia. Dan ketika emas itu berada ribuan kilometer dari Lisbon, Amsterdam, London, dan Madrid, para penguasa Eropa membawa tidak hanya kapal dan meriam—tetapi juga dendam lama, ambisi politik, dan kerakusan yang tak berbatas.

Al-Qur’an sebenarnya telah lama menggambarkan wajah sejati mereka: “Engkau kira mereka bersatu, padahal hati mereka tercerai-berai.” (QS. Al-Hasyr: 14)

Ayat itu bukan hanya tentang Bani Nadhir atau kaum Yahudi saat itu. Ia adalah potret abadi bangsa-bangsa yang menolak kebenaran, yang membangun kekuasaan di atas kerakusan. Nusantara kemudian menjadi tempat terbaik untuk melihat bagaimana bangsa-bangsa Eropa saling memakan satu sama lain—di tanah yang bukan milik mereka.

—

Portugis vs Spanyol: Pertempuran Dua Adik Musuh-Teman

Sebelum Belanda dan Inggris memasuki arena, bangsa Iberia-lah yang pertama kali menjadikan Nusantara gelanggang perang mereka.

Maluku: Saat Sekutu Berselisih

Dalam banyak catatan, termasuk Geoffrey Parker (pakar sejarah militer Eropa), Portugis dan Spanyol adalah “sekutu yang tidak pernah benar-benar rukun”. Keduanya sama-sama Katolik, tetapi berebut dunia.

Pada 1520–1600, di Maluku bendera merah-putih Portugis dan bendera kastil Singa Spanyol berkibar berhadapan. Di Ambon, Ternate, dan Tidore, keduanya tidak hanya bertempur melawan penguasa lokal—tetapi juga saling sabotase, saling fitnah, saling bunuh.

Ketika Uni Iberia (1580–1640) menyatukan kedua kerajaan di bawah Raja Spanyol, konflik di Maluku tidak serta-merta hilang. Sejarawan Anthony Reid menulis:

“Di Maluku, Portugis dan Spanyol ibarat dua ekor anjing yang dikurung dalam satu kandang. Mereka dikatakan bersaudara, tapi saling mencakar.”

Spanyol mendukung Tidore.
Portugis mendukung Ternate.
Dan keduanya saling berebut siapa yang lebih layak menguasai cengkih.

—

Portugis vs Belanda: Ketika Pendatang Baru Menantang Raja Laut

Jika Portugis adalah leluhur para penjelajah, maka VOC adalah korporasi militer pertama di dunia. Mereka datang dengan uang, investor, kapal perang, dan lisensi membunuh.

1650-an: Maluku Menjadi Ladang Pembantaian

Di Banda, Belanda membantai seluruh penduduk yang dianggap “melawan kontrak monopoli”. Pakar perdagangan dunia K. N. Chaudhuri menulis:

“VOC tidak sekadar berdagang; ia adalah negara bayangan yang memaksakan hukum dengan mesiu.”

Pertempuran Portugis vs Belanda membara:

Pertempuran Ambon (1605–1609)

Pengepungan Solor (1629)

Perang Pesisir Timor (1630–1700)

Portugis yang dulu begitu perkasa, perlahan tersudut seperti anjing tua yang kehilangan taringnya.

—

Belanda vs Inggris: Korporasi Melawan Korporasi

Inilah konflik paling brutal antar-Eropa di Nusantara.

VOC (Belanda) vs EIC (Inggris)
Dua perusahaan dagang-persenjataan terbesar dalam sejarah.

Pakar militer Jeremy Black menyebut konflik ini sebagai:

“Perang perusahaan terbesar dalam sejarah umat manusia.”

1. Tragedi Ambon (1623)

Inggris dituduh berkhianat. VOC mengeksekusi 10 pedagang Inggris dengan metode penyiksaan.

London mengamuk.
Tapi di Nusantara, VOC tetap berkuasa.

2. Perang Banda (1609–1621)

Inggris bersekutu dengan pulau kecil Run.
VOC membalas dengan pembantaian massal Banda.

3. Perang Jawa 1740–1743

VOC dan Inggris tidak secara langsung saling tembak, tapi Inggris mendukung kekuatan anti-VOC, membuka jalan bagi perebutan pengaruh.

4. Jawa Jatuh ke Inggris (1811)

Saat Belanda menjadi sekutu Prancis di bawah Napoleon, Inggris melancarkan kampanye terbesar mereka di Asia Tenggara.

Thomas Stamford Raffles memimpin 12.000 tentara Inggris menyerbu Batavia dan Jawa.
Gubernur Jenderal Belanda Janssens kalah telak.

Inggris menang, bukan karena lebih kuat senjatanya, tetapi karena Belanda terpecah antara loyalis, koruptor VOC, dan kuasa Prancis—sekali lagi, gambaran Al-Hasyr:14 bekerja sempurna.

—

Spanyol vs Belanda: Perang Katolik vs Protestan di Timur Dunia

Dalam peta besar konflik Eropa, Perang 80 Tahun antara Belanda dan Spanyol juga merembes sampai ke Maluku.

Di sana, Belanda mendukung Ternate, sedangkan Spanyol mendukung Tidore—dua kerajaan kembar yang sejak awal memang dijaga agar terus berselisih.

Sejarawan Leonard Andaya menulis:

“Perang Belanda-Spanyol di Maluku adalah cermin kecil dari perang besar Eropa—hanya dilakukan di antara gunung berapi dan hutan pala.”

Pertempuran besar mencakup:

Pengepungan benteng Spanyol di Tidore (1613–1620)

Perang Teluk Kao

Aksi sabotase armada Manila terhadap jalur VOC

—

Inggris vs Spanyol: Bayangan Filipina yang Menjalar ke Nusantara

Konflik global antara Inggris dan Spanyol yang memuncak dengan serangan Inggris ke Filipina (1762–1764) menciptakan efek domino ke Maluku dan laut Sulawesi.

Inggris mencoba memotong jalur rempah Spanyol, sementara Spanyol mempersenjatai aliansi lokal untuk mengganggu pergerakan Inggris.

Peta rempah Asia Tenggara saat itu ibarat papan catur tempat semua kerajaan Eropa menempatkan bidak-bidaknya.

—

Inggris vs Portugis: Persaingan Tak Resmi di Timor dan Solor

Walaupun di Eropa mereka sering bersekutu, di lapangan keduanya adalah rival.

Di Timor dan Solor, Inggris membangun hubungan dengan kerajaan kecil dan penguasa lokal untuk memotong dominasi Portugis atas kayu cendana—komoditas yang nilainya saat itu seperti “minyak dan emas putih”.

Catatan pelaut Inggris William Dampier (1699) menunjukkan:

“Timor adalah emas hijau yang membuat Portugis gelisah dan Inggris bernafsu.”

—

Belanda–Prancis vs Inggris: Kampanye Napoleon di Jawa

Setelah Belanda jatuh ke tangan Napoleon pada 1795, seluruh Hindia Belanda dianggap milik Prancis. Inggris pun langsung menganggap Jawa sebagai target militer sah.

Java Campaign 1811

12.000 pasukan Inggris

3.000 serdadu India (sepoy)

Armada perang dari Kalkuta dan Madras

Pertempuran berlangsung di:

Cilincing

Weltevreden

Meester Cornelis (Jatinegara)

Gombong

Belanda–Prancis kalah.
Inggris menang.

Jawa pun jatuh selama lima tahun.

—

Rempah, Cengkih, dan Gunpowder: Mengapa Mereka Saling Membunuh?

Pertanyaannya: mengapa bangsa Eropa tega saling bunuh di negeri jauh ini?

1. Rempah adalah komoditas strategis global

Dalam laporan ekonom dunia Paul Krugman (Princeton), rempah adalah “komoditas pemicu perang” seperti minyak di abad ke-20.

Pala bisa dijual 30–40 kali lipat di Eropa.
Cengkih dihargai seperti emas.
Kayu cendana menjadi parfum kerajaan-kerajaan Eropa.

2. Jalur dagang adalah jalur kekuasaan

Siapa menguasai Banda, menguasai Eropa.
Siapa menguasai Ambon, menguasai perdagangan dunia.

3. Perpecahan internal Eropa adalah api yang terus menyala

Belanda Protestan membenci Spanyol Katolik.
Inggris membenci Belanda karena monopoli VOC.
Prancis memusuhi Inggris di seluruh dunia.

Al-Qur’an menggambarkan mereka: “Permusuhan di antara mereka sangat hebat.” QS. Al-Ma’idah: 82

Para sarjana tafsir menyebut ayat ini bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan hukum sosial: bangsa yang mengejar dunia akan selalu terbelah.

—

Nusantara: Medan Perang yang Tak Pernah Diminta

Yang paling menyedihkan:
Semua pertumpahan darah Eropa di Nusantara tidak satu pun melibatkan kepentingan bangsa ini.

Kita hanya menjadi ladang pertempuran—tempat mereka saling tikam sambil menghisap kekayaan laut dan gunung kita.

Pakar sejarah Asia Tenggara Denys Lombard menulis:

“Indonesia menjadi panggung bagi drama Eropa yang tak pernah diminta oleh rakyatnya.”

Bahkan kerajaan-kerajaan lokal sering hanya menjadi pion:

Ternate dipaksa pro-Belanda

Tidore dipaksa pro-Spanyol

Kupang pro-Belanda

Lifau pro-Portugis

Siapa menolak? Dibakar.

Siapa melawan? Dibantai.

—

Warisan yang Tersisa: Peta Politik yang Pecah, Ekonomi yang Terbakar

Konflik Eropa menanamkan pola:

1. Politik Divide et Impera

Warisan Belanda, Inggris, dan Portugis yang membuat kerajaan-kerajaan Nusantara disulut agar saling berperang.

2. Ekonomi Monopoli dan Korporasi

VOC dan EIC menciptakan model kapitalisme kolonial yang masih terasa hingga kini.

3. Kekerasan sebagai alat dagang

Eropa mengajarkan bahwa perdagangan adalah perang, dan perang adalah peluang ekonomi.

Pakar militer John Keegan menyatakan:

“VOC adalah satu-satunya perusahaan yang memperlakukan pembunuhan massal sebagai bagian strategi bisnis.”

—

Ketika Ayat Al-Qur’an Terbukti di Tanah Rempah

Pada akhirnya, seluruh sejarah Nusantara memperlihatkan betapa tepat firman Allah tentang bangsa-bangsa yang mengejar dunia:

“…mereka tidak bersatu, hati mereka saling tercerai-berai…” (QS. Al-Hasyr:14)

Pertempuran Portugis vs Spanyol, Portugis vs Belanda, Belanda vs Inggris, Spanyol vs Belanda, Inggris vs Portugis, hingga Belanda–Prancis vs Inggris adalah bukti hidup bahwa ketamakan menimbulkan perpecahan, dan perpecahan menimbulkan kehancuran.

Bangsa Eropa datang ke Nusantara bukan sebagai sekutu, bukan sebagai saudara, melainkan sebagai serigala-serigala yang saling menerkam di kandang emas yang sama.

Dan kita—bangsa Nusantara—adalah kandang itu. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *