BERJALANLAH ke sebuah acara arisan keluarga besar. Amati satu per satu pasangan suami istri yang sudah menikah belasan hingga puluhan tahun. Ada yang awalnya beda dunia—yang satu hidungnya mancung, yang satu pesek; yang satu matanya belo, yang satu sipit—tetapi entah mengapa, setelah bertahun-tahun bersama, wajah mereka seperti sedang mengikuti lomba “kembar tapi bukan saudara”.
Muncullah pertanyaan abadi yang bikin ngakak sekaligus penasaran: Suami istri, makin cinta makin tua, kok wajahnya makin mirip?
Fenomena ini bukan ilusi belaka. Banyak orang mengakuinya. Bahkan tetangga yang dulu tak bisa membedakan antara suami dan sopirnya, kini mulai ragu: “Ini bapaknya, atau mamangnya?” Dari jauh sama. Dari dekat… tambah sama. Senyumnya mirip. Kerut di sudut mata juga seirama. Cara mengernyitkan dahi pun seperti copy–paste. Jangan-jangan, cinta punya efek samping: menyeragamkan wajah.
BACA JUGA: 10 Hal Yang Tidak Boleh Terlewat oleh Suami Istri sebelum Tidur setiap Malam
Secara ilmiah—biar ngakaknya ada ilmunya—manusia cenderung meniru orang yang sering bersamanya. Mulai dari bahasa tubuh, ekspresi, sampai kebiasaan senyum. Bayangkan, bertahun-tahun makan bersama, tertawa bersama, marah bersama, dan nonton sinetron dengan alur yang sama. Otot wajah ikut latihan bersama. Akhirnya harmonis. Bahkan alis pun seolah sepakat untuk naik turun di waktu yang sama.
Belum lagi faktor “menu yang sama”. Suami istri biasanya makan lauk yang serupa setiap hari. Sambal yang sama pedasnya. Gorengan yang sama berminyaknya. Kolesterol yang sama-sama naiknya. Lemak yang dulu terdistribusi berbeda, pelan-pelan berpindah ke tempat yang sama: pipi. Maka jangan heran kalau pipi mereka tumbuh seirama, bulatnya kompak, dan tampak seperti sepasang bakso kembar yang penuh cinta.
Ada juga faktor “emosi yang senasib”. Kalau suami sering cemberut karena macet dan istri cemberut karena harga cabai, lama-lama garis cemberutnya serasi. Kalau sering tertawa bersama karena cucu yang lucu, kerut senyumnya pun kompak. Wajah adalah arsip emosi. Dan pernikahan adalah perpustakaan emosi terpanjang dalam hidup seseorang. Tak heran kalau arsipnya tampak serupa.
Namun yang paling menarik, kemiripan ini sering dipandang sebagai tanda keharmonisan. Pasangan yang jarang berinteraksi jarang pula terlihat “kembar”. Sebaliknya, pasangan yang lengket—ke pasar berdua, ke kondangan berdua, bahkan ke dapur pun diskusi berdua—biasanya makin hari makin senada, termasuk dalam urusan wajah.
BACA JUGA: Apa Ukuran Sebuah Perbuatan Dikatakan Jima antara Suami Istri?
Yang lebih kocak, ketika anak mereka protes, “Ini aku mirip siapa, sih?” Ayah dan ibu saling pandang, saling tunjuk, lalu kompak menjawab, “Mirip kami berdua.” Padahal mereka berdua sudah mirip satu sama lain. Anak pun bingung, seperti melihat dua cermin yang saling berhadapan.
Jadi, kalau suatu hari Anda bercermin lalu merasa wajah Anda mulai menyerupai pasangan, jangan panik. Itu bukan kesalahan genetik. Itu tanda bahwa waktu, kebiasaan, tawa, dan cinta telah bekerja lembur. Makin tua, makin mirip. Dan itu, ternyata, salah satu bukti bahwa cinta bukan hanya menyatukan hati, tetapi juga… menyamakan wajah dengan cara yang paling menggemaskan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

