DI sebuah dusun kecil bernama Nagari Sungai Batang, tepat di tepian Danau Maninjau yang jernih di Sumatera Barat, lahirlah seorang anak laki-laki pada tanggal 17 Februari 1908. Namanya Abdul Malik, namun kelak ia akan dikenal dunia sebagai Buya Hamka. Ia adalah anak sulung dari empat bersaudara, buah cinta ulama besar Abdul Karim Amrullah dengan istri keduanya, Siti Shafiah. Keluarga sang ayah dikenal sangat taat beragama, berbeda dengan keluarga ibunya yang lebih terbuka terhadap adat.
Sang ayah, Abdul Karim Amrullah, yang berjuluk Haji Rasul, adalah seorang ulama pembaru Islam di Minangkabau. Pandangannya yang terkadang berbenturan dengan tradisi adat dan amalan tarekat seringkali menimbulkan penolakan di masyarakat. Namun, tidak ada pertentangan terbuka yang terjadi, karena semua orang menaruh hormat yang besar kepada Muhammad Amrullah, kakek Malik, yang disegani sebagai pemimpin Tarekat Naqsyabandiyah.
Setelah sang kakek wafat, Haji Rasul memutuskan untuk pindah ke Padangpanjang. Malik, yang kala itu baru berusia empat tahun, terpaksa meninggalkan Danau Maninjau yang menjadi saksi masa kecilnya. Ia menghabiskan hari-hari awal kepindahannya di rumah “anduangnya”, sang nenek dari garis ibu. Bersama teman-teman sebayanya, Malik kecil sering menghabiskan waktu bermain di tepi Danau Maninjau yang luas itu. Seperti tradisi anak laki-laki di Minangkabau, ia pun mulai belajar mengaji di surau-surau sekitar tempat tinggalnya.
Ketika usianya menginjak enam tahun, sang ayah mengajak Malik pindah ke Padang Panjang. Di sana, ia mulai belajar mengaji langsung dari ayahnya. “Kamu harus belajar yang rajin, Malik,” kata Haji Rasul suatu pagi. “Ilmu agama itu penting.” Malik juga sempat mencicipi bangku Sekolah Desa pada tahun 1915, di mana ia belajar berhitung dan membaca. Namun, ia hanya bertahan sampai tamat kelas dua.
Sekolah Desa itu terletak di Guguk Malintang, menempati kawasan tangsi militer. Lingkungan ini ternyata memengaruhi pergaulan Malik kecil. Haji Rasul sebenarnya ingin menyekolahkan Malik di Sekolah Gubernemen, tetapi sayangnya kelas sudah penuh. Malik kecil dikenal sebagai anak yang nakal. “Ayah, lihatlah mereka berkelahi lagi!” serunya suatu kali kepada ayahnya, menunjuk ke arah murid-murid kedua sekolah yang sering berselisih. Murid-murid Sekolah Gubernemen memang kerap memandang rendah murid Sekolah Desa, dan perkelahian sering kali tak terhindarkan.
Pada tahun 1916, seorang ulama bernama Zainuddin Labay El Yunusy membuka sekolah agama bernama Diniyah School di Pasar Usang, yang menerapkan sistem kelas. Malik pun menjalani rutinitas barunya. Setiap pagi, ia tetap belajar di Sekolah Desa, kemudian pada sore harinya, ia melanjutkan pelajaran di Diniyah School. “Di sini kita akan belajar Bahasa Arab dan materi dari buku-buku Mesir,” jelas gurunya suatu sore.
Namun, sejak ayahnya memasukkannya ke Thawalib pada tahun 1918, jadwalnya semakin padat. “Kamu tidak bisa lagi mengikuti pelajaran di Sekolah Desa,” ujar Haji Rasul tegas. Malik kini belajar di Diniyah School setiap pagi, kemudian sorenya ia belajar di Thawalib, dan malamnya, ia kembali ke surau untuk mengaji. Kebanyakan murid Thawalib adalah remaja yang lebih tua darinya, karena materi yang diajarkan memang sangat berat dan membutuhkan hafalan yang kuat. Bagi Hamka kecil, rutinitas sehari-hari yang padat itu terasa membosankan dan seolah mengekang kebebasan masa kanak-kanaknya. “Aku ingin bermain seperti anak-anak lain,” gumamnya dalam hati.
Ketika usianya menginjak 12 tahun, Malik harus menghadapi kenyataan pahit: perceraian orang tuanya. Haji Rasul menceraikan Siti Shafiah, dan membawa Malik untuk tinggal bersamanya di Padangpanjang. Hari-hari pertama setelah perceraian itu, Malik tidak masuk sekolah. Ia menghabiskan waktunya dengan berkeliling kampung, tanpa tujuan yang jelas. Suatu hari, saat berjalan di pasar, matanya menangkap seorang lelaki buta yang sedang meminta sedekah. Hatinya tergerak iba.
BACA JUGA: Detik-detik Pemakaman Buya Hamka
Malik pun dengan sigap menuntun dan membimbing peminta sedekah itu menuju tempat keramaian agar bisa mendapatkan lebih banyak sedekah, bahkan mengantarkannya pulang. Namun, keesokan harinya, ketika ibu tirinya mendapati Malik di pasar, ia langsung memarahinya. “Apa yang awak lakukan itu memalukan ayahmu!” omelnya. Malik hanya tertunduk lesu.
Ada kalanya, kerinduan pada ibunya begitu besar, sampai-sampai Malik nekat berjalan kaki menuju Maninjau, yang jaraknya sekitar 40 kilometer dari Padangpanjang. Setelah lima belas hari Malik tidak masuk sekolah, seorang guru dari Thawalib yang mengira Malik sakit, datang menjenguk ke rumah. “Malik sudah lama tidak masuk, kami khawatir,” kata guru itu kepada Haji Rasul. Mengetahui anaknya membolos, Abdul Karim Amrullah sangat marah. Ia bahkan menampar Malik. Namun, tak lama kemudian, ia memeluk anaknya erat-erat. “Maafkan Ayah, Nak,” bisiknya, menyesali perbuatannya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

