Haji Seorang Presiden

7 Min Read
Foto: Twitter @Tutut Soeharto

LANGIT Jakarta pagi itu tampak cerah. Seperti biasanya, suasana di Istana Merdeka selalu sibuk, tetapi ada kegembiraan berbeda hari itu. Pada tanggal 16 Juni 1991, Presiden Soeharto—yang oleh banyak orang disapa Pak Harto—bersama keluarga bersiap untuk menunaikan ibadah haji.

Meskipun menjabat sebagai Presiden RI yang berkuasa selama lebih dari dua dekade, Pak Harto menegaskan bahwa kepergiannya ke Tanah Suci ini adalah urusan pribadi, bukan perjalanan resmi kenegaraan. Bahkan, ia menolak tegas jika harus dibiayai negara. “Naik haji ini niat saya pribadi, bukan sebagai presiden,” katanya kepada Moerdiono, Menteri Sekretaris Negara yang setia mendampinginya.

Pak Harto juga meminta agar Departemen Agama tidak direpotkan mengurus kepergiannya. Baginya, haji adalah panggilan Allah, bukan panggilan protokoler. Ia ingin berangkat sebagai seorang muslim biasa, yang merindukan Baitullah.

Pada sore harinya, rombongan kecil berkumpul di halaman Istana. Ada Ibu Tien, istri tercinta, anak-anak dan menantu mereka, serta beberapa orang terdekat. Pak Harto juga membawa serta dua dokter pribadi, empat pengawal khusus, dan seorang fotografer pribadi untuk mengabadikan perjalanan spiritual ini. Bahkan seluruh biaya perjalanan mereka, termasuk untuk Paspampres dan rombongan pendukung, ditanggung sendiri oleh Pak Harto.

Malamnya, di ruang kerjanya, Pak Harto duduk termenung menatap peta Makkah dan Madinah yang terbentang di meja. Tangannya menyentuh lembut foto Masjidil Haram. “Bismillah,” gumamnya. Baginya, ini bukan sekadar perjalanan fisik ke negeri jauh, tetapi juga perjalanan batin untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Presiden Soeharto
Foto: ©soeharto.co

Pesawat kepresidenan lepas landas menuju Jeddah, dan pada 17 Juni 1991, rombongan tiba di Tanah Suci. Panas khas musim panas Jazirah Arab langsung menyambut. Setibanya di sana, mereka disambut Pangeran Majid bin Abdul Azis, Gubernur Makkah saat itu.

Momen itu mengingatkan Pak Harto pada pertemuan-pertemuan diplomatiknya dengan para pemimpin dunia. Namun kali ini berbeda. Ia datang bukan sebagai kepala negara yang membawa kepentingan politik, tetapi sebagai seorang hamba yang membawa niat suci.

Malam pertama di Makkah, Pak Harto dan keluarga memutuskan untuk langsung melaksanakan umrah. Mengenakan pakaian ihram yang putih bersih, Pak Harto tampak berbeda dari biasanya. Tidak ada jas resmi, tidak ada lambang kenegaraan—hanya kain ihram yang sama dengan jutaan jamaah lain. Saat thawaf mengelilingi Ka’bah, air matanya menetes. Ingatannya melayang pada masa kecil di Kemusuk, sebuah desa kecil di Yogyakarta, dan bagaimana ia bisa sampai ke titik ini.

Hari-hari berikutnya dihabiskan untuk beribadah. Pak Harto sering shalat di Masjidil Haram, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir. Ia mengajak anak-anaknya untuk lebih banyak berdoa, memohon ampun, dan merenungi perjalanan hidup mereka.

Di sela-sela ibadah, terkadang rombongan berjalan-jalan di sekitar kota Makkah. Tahun 1991 adalah masa di mana pembangunan besar-besaran di sekitar Masjidil Haram sedang berlangsung. Gedung-gedung hotel mulai menjulang, tetapi suasana spiritual tetap terasa kental.

Pak Harto dan rombongan juga menziarahi tempat-tempat bersejarah seperti Gua Hira, tempat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama. Di sana, Pak Harto termenung cukup lama, seolah membayangkan kesunyian Nabi saat menerima wahyu. “Besar sekali perjuangan beliau,” ucapnya pelan.

Tibalah puncak ibadah haji: wukuf di Arafah. Hari itu, 9 Zulhijjah 1411 Hijriyah, panas mencapai lebih dari 40 derajat Celsius. Namun Pak Harto tetap khusyuk berdiri bersama jutaan jamaah lainnya. Doanya panjang dan tulus. “Ya Allah, ampuni dosa hamba dan seluruh rakyat Indonesia. Limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan bagi bangsa kami,” bisiknya lirih.

Usai wukuf, rombongan bergerak ke Muzdalifah untuk mabit, lalu ke Mina untuk melaksanakan ritual melempar jumrah. Saat itulah terjadi momen yang sangat mengharukan. Ketika Pak Harto bersiap melempar jumrah, banyak jamaah dari berbagai negara melihatnya dan berteriak, “Assalamu’alaikum Rois Indonisi! Assalamu’alaikum Rois Indonisi!”

Pak Harto tersenyum dan melambaikan tangan. Meskipun ingin menjalankan ibadah seperti jamaah biasa, rupanya posisinya sebagai Presiden Indonesia tetap membuatnya dikenal. Suasana semakin ramai; ada yang mencoba mendekat untuk bersalaman, ada yang hanya berteriak sambil mengabadikan momen dengan kamera.

“Saat itu saya berdiri tak jauh dari beliau,” kenang Sutrimo, wartawan TVRI yang ikut meliput. “Teriakan ‘Rois Indonisi’ menggema. Saya merinding melihatnya. Bahkan di tengah jutaan manusia, Pak Harto tetap menjadi sosok yang dihormati.”

Usai melempar jumrah, rombongan kembali ke Makkah untuk melakukan thawaf ifadah. Wajah Pak Harto tampak lelah, namun juga damai. Ia banyak merenung. Kehidupan dunia yang penuh gemerlap dan hiruk-pikuk terasa kecil dibandingkan keagungan Ka’bah yang berdiri kokoh di hadapannya.

Dalam perjalanan ke Madinah, rombongan sempat singgah di Jeddah. Pak Harto berbincang hangat dengan Wismoyo Arismunandar, iparnya sekaligus ajudan setia. Mereka membicarakan harapan akan kedamaian Indonesia yang saat itu sedang memasuki masa pembangunan pesat.

Presiden Soeharto
Foto: Ist/Net

Tahun 1991 memang menjadi tahun penting bagi Indonesia: perekonomian tumbuh, pembangunan infrastruktur gencar dilakukan, dan banyak proyek mercusuar seperti jembatan Suramadu mulai diwacanakan. Namun di balik itu, Pak Harto tahu ada tantangan besar: kesenjangan sosial yang makin terasa dan suara-suara kritis yang mulai bermunculan.

BACA JUGA: Detik-detik Pemakaman Buya Hamka

Di Madinah, Pak Harto berziarah ke makam Rasulullah ﷺ di Masjid Nabawi. Suasana haru tak terbendung. Ia berdiri di Raudhah, taman surga yang ada di masjid tersebut, berdoa dengan khusyuk. “Ya Rasulullah, doakan bangsa kami menjadi bangsa yang penuh kasih sayang dan kedamaian,” bisiknya.

Setelah beribadah dan berziarah, rombongan bersiap pulang. Sebelum meninggalkan Tanah Suci, Pak Harto sempat mengatakan kepada Moerdiono, “Semoga perjalanan ini membawa berkah untuk kita semua. Bukan hanya untuk saya dan keluarga, tetapi juga untuk seluruh rakyat Indonesia.”

Pada 30 Juni 1991, rombongan tiba kembali di Tanah Air. Tak ada penyambutan resmi besar-besaran di bandara, sesuai permintaan Pak Harto. Namun banyak rakyat Indonesia yang menyambut dengan sukacita, mendoakan agar ibadah hajinya mabrur.

Pak Harto kembali menjalankan tugas sebagai Presiden, tetapi hatinya sudah berubah. Ibadah haji itu meninggalkan kesan mendalam: tentang kesederhanaan, kerendahan hati, dan rasa syukur. Ia sadar, di hadapan Allah, tak ada jabatan yang lebih tinggi daripada seorang hamba.

Dan bagi jutaan rakyat Indonesia, kisah haji Pak Harto menjadi teladan bahwa bahkan seorang presiden pun tetap harus berserah diri kepada Sang Pencipta. Karena pada akhirnya, semua manusia akan berdiri sama di hadapan-Nya. []

 

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *