Mustafa Kemal Atatürk: Pengguling Khalifah Terakhir dan Pendiri Negara Sekuler Turki

Yudi
By Yudi
14 Min Read
Foto: Tirto

KEKHALIFAHAN Ottoman, yang pernah menjadi kekuatan adidaya, ditakuti dan disegani selama lebih dari enam abad, akhirnya harus runtuh pada tahun 1924. Tapi siapa sosok yang berada di balik kejatuhan kekhalifahan ini? Dia adalah Mustafa Kemal Atatürk. Seorang jenderal, revolusioner, dan pemimpin kontroversial yang mengubah wajah dunia Islam untuk selamanya.

Hari ini, kita akan menyelami kisah Mustafa Kemal Atatürk, tokoh yang menggulingkan kekhalifahan terakhir dunia Islam dan mendirikan Republik Turki modern.

Latar Belakang – Kekhalifahan Ottoman di Ambang Kehancuran

Kekhalifahan Ottoman—dalam bahasa Turki disebut Osmanlı Devleti—adalah salah satu kekuatan terbesar dalam sejarah Islam. Berdiri pada akhir abad ke-13 oleh Osman I di Anatolia barat laut, kekhalifahan ini berkembang menjadi imperium raksasa yang membentang dari Afrika Utara, Timur Tengah, hingga Eropa Timur.

Puncak kejayaannya terjadi pada abad ke-16 di bawah kepemimpinan Sultan Suleiman al-Qanuni atau Suleiman the Magnificent. Di masa ini, Ottoman tak hanya berkuasa secara politik, tapi juga menjadi pusat ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan syiar Islam.

Namun, memasuki abad ke-19, tanda-tanda keruntuhan mulai terlihat. Dunia berubah cepat, sementara Kekhalifahan Ottoman tertinggal. Revolusi industri, kebangkitan nasionalisme, serta tekanan dari negara-negara Eropa membuat kekuasaan Ottoman perlahan-lahan terkikis. Banyak wilayah kekuasaan, seperti Mesir, Aljazair, dan Balkan, satu per satu melepaskan diri atau direbut oleh kekuatan asing.

Pemerintah pusat yang dipimpin para sultan kerap kali korup dan tidak efisien. Reformasi yang dikenal sebagai Tanzimat pada pertengahan abad ke-19 gagal menyelamatkan kondisi ekonomi dan sosial negara. Bahkan, negara Ottoman dijuluki sebagai “Sick Man of Europe” oleh para pemimpin Barat.

Pada awal abad ke-20, Kekhalifahan Ottoman berada dalam posisi yang sangat lemah. Gerakan nasionalis mulai muncul di berbagai wilayah kekuasaannya. Di Arab, kaum nasionalis ingin merdeka dari pemerintahan Turki. Di Anatolia sendiri, muncul kelompok-kelompok intelektual muda yang menginginkan perubahan radikal.

Salah satu kelompok paling berpengaruh adalah Committee of Union and Progress atau CUP. Mereka terdiri dari para tokoh nasionalis dan sekuler yang ingin menyelamatkan negara dengan cara mengadopsi sistem politik modern dan mengurangi peran Islam dalam pemerintahan. Pada tahun 1908, mereka memaksa Sultan Abdulhamid II untuk mengembalikan konstitusi dan membuka parlemen. Setahun kemudian, Sultan Abdulhamid II digulingkan dan digantikan oleh Sultan Mehmed V yang lebih lemah.

Perang Dunia I menjadi titik kritis. Ottoman, yang tergoda oleh janji bantuan dari Jerman, bergabung dalam blok Sentral. Tapi keputusan ini membawa bencana. Dalam waktu singkat, pasukan Inggris dan sekutunya berhasil menguasai banyak wilayah strategis Ottoman—termasuk Palestina, Suriah, Irak, dan Hijaz.

Setelah kekalahan dalam perang, Ottoman dipaksa menandatangani Perjanjian Sèvres pada tahun 1920, yang membagi-bagi wilayah kekuasaannya kepada Sekutu. Yunani, yang dibantu oleh Inggris, menduduki Smyrna (sekarang Izmir), salah satu kota penting di barat Anatolia. Pasukan Prancis dan Italia juga masuk ke wilayah Turki selatan. Sementara itu, Istanbul dan Dardanella diduduki oleh Inggris.

Kondisi ini membuat rakyat Turki merasa terhina. Kekhalifahan tak lagi mampu melindungi umat Islam, bahkan tidak bisa mempertahankan ibu kotanya sendiri. Di tengah kehancuran inilah, lahir harapan baru dari seorang jenderal bernama Mustafa Kemal.

BACA JUGA: Sejarah Abad Keemasan Islam dan Abad kegelapan Eropa

Munculnya Mustafa Kemal – Sang Jenderal yang Karismatik

Foto: Tirto

Mustafa Kemal lahir pada tahun 1881 di kota Salonika—kini bagian dari Yunani—yang saat itu masih termasuk wilayah Kekhalifahan Ottoman. Ia tumbuh dalam keluarga kelas menengah, dan sejak kecil menunjukkan minat besar terhadap pendidikan militer dan ilmu pengetahuan modern.

Ia menempuh pendidikan di sekolah militer terbaik Ottoman, termasuk Akademi Militer Istanbul. Di sana, ia dikenal sebagai siswa yang cerdas, disiplin, dan berpikiran maju. Ia banyak membaca literatur Eropa dan mulai memikirkan konsep nasionalisme, sekularisme, dan modernisme.

Karier militernya melejit saat ia dipercaya memimpin berbagai misi di Suriah dan Libya. Namun namanya benar-benar dikenal saat Perang Dunia I pecah. Dalam Pertempuran Gallipoli tahun 1915, Mustafa Kemal menunjukkan kepemimpinan luar biasa. Ia berhasil menghentikan invasi pasukan Inggris, Australia, dan Selandia Baru di Semenanjung Gallipoli, menyelamatkan ibu kota Istanbul dari serangan laut. Keberhasilan ini menjadikannya pahlawan nasional.

Namun kemenangan militer tidak cukup menyelamatkan kekhalifahan dari kekalahan secara keseluruhan. Setelah Perang Dunia I berakhir dan perjanjian damai yang memalukan diberlakukan, Mustafa Kemal mulai kehilangan kepercayaan pada pemerintah pusat di Istanbul yang dianggap tunduk pada kehendak penjajah.

Ia menyadari bahwa Ottoman yang lama sudah tidak bisa dipertahankan. Ia percaya bahwa Turki harus dibangun ulang sebagai negara bangsa modern, bukan lagi sebagai kekhalifahan religius. Dalam pandangannya, agama tidak boleh mencampuri urusan negara. Rakyat harus memegang kedaulatan penuh, bukan raja atau khalifah.

Pada tahun 1919, ia diberi tugas oleh pemerintah pusat untuk meredam pemberontakan di wilayah Anatolia. Namun ia justru menggunakan kesempatan ini untuk memulai perlawanan terhadap pendudukan asing dan membentuk gerakan nasionalis Turki.

Pada 19 Mei 1919, Mustafa Kemal mendarat di kota Samsun. Hari itu kini diperingati sebagai Hari Pemuda dan Olahraga Nasional di Turki—tanda betapa pentingnya momen ini dalam sejarah bangsa. Dari Samsun, ia melakukan perjalanan ke berbagai kota untuk menggalang dukungan dari tokoh lokal, pemuka masyarakat, dan bekas perwira militer Ottoman.

Ia menyusun strategi politik dan militer yang cermat. Alih-alih langsung menyerang pasukan penjajah, ia lebih dulu menggalang legitimasi politik. Pada tahun 1920, ia membentuk Majelis Nasional Agung Turki di Ankara sebagai pemerintahan tandingan yang tidak mengakui otoritas Sultan Mehmed VI.

Majelis ini menjadi pusat dari gerakan perlawanan nasional. Ia mulai merekrut pasukan, mengumpulkan logistik, dan membangun struktur pemerintahan sendiri. Dalam waktu singkat, gerakan ini berubah dari kelompok perlawanan menjadi pemerintahan de facto di Anatolia.

Mustafa Kemal tidak hanya memimpin dari belakang meja. Ia juga turun langsung ke medan perang, memimpin strategi militer melawan pasukan Yunani, Prancis, dan pemberontakan internal. Karismanya sebagai jenderal, ditambah kepiawaiannya dalam berpolitik, menjadikannya figur sentral dalam perjuangan kemerdekaan Turki.

Perang Kemerdekaan Turki – Lawan Para Penjajah dan Kekuasaan Sultan

Pada 19 Mei 1919, Mustafa Kemal mendarat di kota Samsun. Inilah awal Perang Kemerdekaan Turki. Dia tak lagi tunduk pada pemerintah Ottoman di Istanbul yang kala itu dikuasai oleh para penjajah. Ia mendirikan pemerintahan tandingan di Ankara dan mengorganisasi gerakan perlawanan nasional.

Dalam waktu singkat, ia berhasil menggalang kekuatan dari berbagai wilayah Anatolia. Ia membentuk Majelis Nasional Agung Turki pada 1920. Majelis ini menyatakan dirinya sebagai pemerintahan sah, menantang legitimasi Sultan Mehmed VI di Istanbul.

Selama tiga tahun berikutnya, pasukan Mustafa Kemal bertempur melawan Yunani yang telah menduduki sebagian besar Anatolia barat, serta melawan Inggris dan sekutu-sekutunya.

Puncaknya terjadi dalam Pertempuran Dumlupınar tahun 1922. Pasukan Yunani dipukul mundur. Kemenangan ini menjadi simbol kebangkitan bangsa Turki.

Menghapus Kekhalifahan – Dari Sultan ke Presiden

Pada 1 November 1922, Majelis Nasional Agung Turki secara resmi menghapuskan kesultanan Ottoman. Sultan Mehmed VI diasingkan ke Italia. Namun saat itu, lembaga kekhalifahan masih dipertahankan, meski hanya sebagai simbol keagamaan. Abdulmejid II, sepupu Mehmed VI, diangkat sebagai khalifah terakhir.

Keputusan untuk mempertahankan kekhalifahan ini diambil dengan penuh kompromi, untuk meredam gejolak umat Islam yang masih menganggap khalifah sebagai pemimpin spiritual mereka. Namun, keberadaan khalifah tanpa kekuasaan justru menciptakan dualisme otoritas—di satu sisi ada presiden sekuler di Ankara, dan di sisi lain seorang khalifah di Istanbul yang menjadi simbol nostalgia Islam.

Bagi Mustafa Kemal, hal ini tak bisa dibiarkan. Ia yakin, jika kekhalifahan tetap ada, maka masa depan Republik Turki akan selalu dibayangi oleh kekuatan konservatif yang ingin mengembalikan kekuasaan Islam dalam politik.

Ia pun mulai melakukan kampanye untuk menghapus kekhalifahan secara total. Ia menyampaikan gagasan bahwa agama dan negara harus dipisahkan, bahwa pemerintahan tidak boleh didasarkan pada warisan kekuasaan, tetapi pada kehendak rakyat.

Akhirnya, pada 3 Maret 1924, Majelis Nasional mengeluarkan undang-undang yang menghapuskan institusi kekhalifahan. Undang-undang ini juga menghapus Kementerian Syariah dan Waqaf, serta menutup semua madrasah Islam resmi.

Abdulmejid II diberi waktu 24 jam untuk meninggalkan negara. Ia diasingkan ke Swiss bersama keluarganya, tanpa hak untuk kembali. Seluruh anggota keluarga Ottoman dilarang tinggal di Turki, dan kekayaan mereka disita negara.

Dengan ini, berakhir sudah kekhalifahan yang telah berdiri sejak 632 M. Sebuah era dalam sejarah Islam benar-benar ditutup.

Reformasi Sekuler Atatürk – Merombak Wajah Turki

Setelah kekhalifahan dihapus, Atatürk bergerak cepat untuk memastikan bahwa Republik Turki benar-benar menjadi negara modern dan sekuler. Ia memimpin serangkaian reformasi yang sangat ambisius dan radikal.

Pertama-tama, sistem pendidikan diganti total. Semua madrasah Islam dibubarkan dan digantikan oleh sekolah-sekolah negeri dengan kurikulum sekuler. Pengaruh ulama dalam pendidikan diberangus. Bahasa Arab tak lagi diajarkan secara wajib, dan pelajaran agama dikurangi secara drastis.

Selanjutnya, Atatürk mengganti alfabet Arab yang telah digunakan selama berabad-abad, menjadi alfabet Latin. Perubahan ini, yang dimulai pada tahun 1928, bertujuan untuk menjauhkan masyarakat Turki dari literatur keislaman klasik dan mendekatkan mereka dengan budaya Eropa.

Ia juga mengganti sistem hukum Islam dengan hukum sipil berdasarkan model Swiss dan hukum pidana berdasarkan model Italia. Pengadilan syariah dihapuskan, dan pernikahan serta warisan diatur berdasarkan hukum sipil.

Secara simbolis, Atatürk melarang penggunaan pakaian keagamaan di tempat umum, termasuk jubah dan sorban. Ia juga melarang fez, topi tradisional Turki, dan mendorong penggunaan topi bergaya Eropa. Hal ini menjadi simbol dari pergeseran identitas nasional dari Islam ke sekularisme.

Pada 1934, ia memberikan hak pilih dan hak mencalonkan diri bagi perempuan. Langkah ini sangat revolusioner bagi dunia Islam pada masa itu. Perempuan mulai tampil di ruang publik sebagai dokter, guru, dan anggota parlemen.

Kemudian pada 1937, prinsip sekularisme secara resmi dimasukkan ke dalam konstitusi. Negara Turki secara hukum menjadi negara sekuler, terpisah dari otoritas agama.

Semua reformasi ini menciptakan wajah Turki yang benar-benar baru. Namun, perubahan ini juga menyisakan luka mendalam, terutama di kalangan Muslim konservatif yang merasa identitas mereka dirampas.

BACA JUGA: Misteri Islamnya Prabu Siliwangi dan Keluarganya; Sejarah Islam di Tanah Sunda

Kontroversi dan Warisan Atatürk

Meski banyak yang memuji reformasi Atatürk sebagai bentuk modernisasi, tak sedikit pula yang mengkritiknya. Bagi sebagian besar umat Islam, penghapusan kekhalifahan adalah tragedi. Sebuah lembaga yang telah ada sejak masa Abu Bakar Ash-Shiddiq dihentikan begitu saja.

Banyak ulama menentang, termasuk tokoh besar seperti Syekh Rashid Rida dari Mesir yang menyerukan kebangkitan kekhalifahan baru. Kongres Islam di Kairo, Makkah, dan India pun sempat mengusulkan pengganti kekhalifahan, tapi semuanya gagal menyatukan dunia Islam.

Sementara itu di Turki, Atatürk disanjung sebagai “Bapak Bangsa”. Ia dihormati sebagai pemimpin yang menyelamatkan Turki dari kehancuran dan membawanya ke era baru. Sosoknya masih terpampang di setiap sekolah, kantor, dan lembaran uang.

Namun di dunia Muslim, warisannya terus menjadi bahan perdebatan: apakah ia visioner modern atau sekadar diktator yang memutus akar spiritual bangsanya?

Akhir Sebuah Era, Awal dari yang Baru

Mustafa Kemal Atatürk wafat pada 10 November 1938 di usia 57 tahun. Tapi warisan dan kontroversinya belum pernah benar-benar mati. Turki modern adalah hasil dari revolusi yang ia pimpin—revolusi yang tak hanya mengubah negeri, tapi juga mengguncang dunia Islam.

Runtuhnya Kekhalifahan Ottoman bukan sekadar kejatuhan sebuah negara, melainkan simbol berakhirnya satu model peradaban Islam. Dan Atatürk adalah tangan yang mendorong tirai sejarah itu tertutup.

Pertanyaannya kini: Apakah dunia Islam kehilangan arah setelah kekhalifahan hilang, atau justru menemukan jalan baru untuk bangkit dalam bentuk lain? []

 

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *