TANGGAL 25 Maret 1975. Sebuah hari yang mencatat tragedi kelam dalam sejarah Arab Saudi. Di Istana Riyadh yang megah dan tenang, dua letusan senjata api menggema.
Raja Faisal bin Abdulaziz Al Saud, pemimpin religius, visioner, dan dihormati dunia Islam, tumbang bersimbah darah. Lebih mengejutkan lagi, sang pelaku bukanlah agen asing atau konspirator luar negeri. Ia adalah keponakannya sendiri.
Kejadian itu bukan hanya tragedi keluarga, tapi guncangan politik yang menggema ke seluruh dunia. Inilah kisah pengkhianatan berdarah di balik tirai istana: pembunuhan Raja Faisal bin Abdulaziz.
Lahirnya Seorang Pemimpin

Faisal bin Abdulaziz lahir pada 14 April 1906 di Riyadh Saudi Arabia. Beliau adalah putra ketiga Raja Abdulaziz—pendiri Kerajaan Arab Saudi. Sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dari pihak ibu yang mendidiknya dalam nilai-nilai Islam.
Di usia 13 tahun, ia mulai dikirim mewakili sang ayah dalam misi diplomatik. Dalam usia yang sangat muda, Faisal sudah bertemu pemimpin-pemimpin penting dari Timur Tengah hingga Eropa. Wawasan dan kecerdasannya membuat ia dianggap sebagai calon pemimpin sejak belia.
Saat dewasa, ia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Arab Saudi selama lebih dari 30 tahun. Pengalaman panjang inilah yang membentuk karakter kenegarawanannya.
Pada tahun 1964, setelah konflik internal kerajaan dan tekanan dari para ulama serta keluarga kerajaan, Raja Saud—kakaknya—dicopot, dan Faisal naik takhta.
Sebagai raja, Faisal langsung menunjukkan arah kepemimpinannya: modernisasi dalam bingkai Islam.
Visi Modern dalam Balutan Tradisi
Raja Faisal memimpin pada masa sulit. Dunia Arab sedang bergejolak, nasionalisme naik, dan pengaruh Barat merasuk ke kawasan Teluk.
Namun Faisal punya pendekatan unik: ia ingin Arab Saudi maju tanpa kehilangan jati diri Islam. Ia membangun sekolah, rumah sakit, jalan raya, dan sistem irigasi. Pendidikan untuk perempuan, yang semula tabu, mulai diperkenalkan secara hati-hati.
Tapi tidak semua orang setuju. Kalangan konservatif menentang keras perubahan ini. Bagi mereka, siaran televisi adalah bid’ah, pendidikan perempuan adalah bencana moral.
Faisal mencoba menyeimbangkan semua tekanan itu. Ia bersikeras: modernisasi tak harus berarti sekularisasi.
BACA JUGA: Tragedi Sejarah, Menghancurkan Umat Islam?
Ketegangan Global dan Raja yang Melawan

Pada tahun 1973, Perang Yom Kippur meletus antara Israel dan koalisi Mesir-Suriah. Ketika Amerika Serikat membantu Israel, Raja Faisal memimpin langkah besar yaitu melakukan embargo minyak terhadap negara-negara Barat.
Langkah itu mengguncang dunia. Harga minyak melonjak drastis. Negara-negara Barat mengalami krisis energi. Mobil-mobil mengantre bahan bakar. Listrik dipadamkan.
Raja Faisal menjadi simbol perlawanan dunia Islam terhadap dominasi Barat dan Zionisme. Media Barat menggambarkannya sebagai “raja yang mengguncang dunia”. Di kalangan Muslim, ia dielu-elukan sebagai pahlawan.
Namun langkah ini juga membuatnya memiliki banyak musuh. Ada yang bilang, sejak itu Raja Faisal sudah menandatangani surat kematiannya sendiri.
Keponakan dari Negeri Jauh
Di sisi lain kisah ini, ada sosok Bernama Faisal bin Musaid bin Abdulaziz. Ia adalah keponakan Sang Raja. Anak dari saudara Raja Faisal, yaitu Pangeran Musaid.
Faisal bin Musaid lahir pada tahun 1944. Ia adalah cucu dari pendiri Kerajaan Arab Saudi, Raja Abdulaziz (Ibn Saud), dan putra dari Pangeran Musaid bin Abdulaziz, salah satu dari puluhan anak Raja Abdulaziz. Ibunya berasal dari Suriah, dan latar belakang ini menjadikannya bagian dari elite keluarga kerajaan.
Berbeda dengan banyak kerabatnya, Faisal bin Musaid menempuh pendidikan tinggi di luar negeri. Ia pernah belajar di Amerika Serikat selama beberapa tahun, termasuk di University of Colorado dan University of California di Berkeley. Selama di Amerika Serikat, Faisal dikabarkan mengalami berbagai kesulitan akademik dan sosial, termasuk ditangkap karena memiliki ganja, meskipun kemudian dilepaskan.
Setelah beberapa tahun tinggal di Amerika, Faisal pulang ke Arab Saudi. Di tengah ketatnya budaya konservatif Kerajaan, sosok Faisal dianggap “terlalu kebarat-baratan” dan memicu kecurigaan pihak intelijen Saudi. CIA bahkan mencatat bahwa Faisal mungkin telah mengalami gangguan mental ringan selama hidupnya di Amerika Serikat.
Laporan-laporan menunjukkan bahwa ia diawasi secara diam-diam, tetapi tidak dianggap sebagai ancaman serius. Banyak kalangan memperkirakan bahwa pengalaman hidup di dua dunia yang sangat berbeda—Barat yang liberal dan Saudi yang konservatif—menimbulkan disonansi dalam dirinya.
Setidaknya ada 3 teori dugaan motif pembunuhan yang dilakukan Faisal bin Musaid terhadap Raja Faisal:
Yang pertama dendam keluarga. Faisal bin Musaid adalah adik dari Pangeran Khalid bin Musaid, yang tewas dalam baku tembak dengan aparat Saudi pada tahun 1965. Khalid diketahui menentang kebijakan modernisasi, terutama pembangunan televisi, yang dianggap sebagai “produk Barat”. Ia kemudian tewas dalam insiden dengan pasukan keamanan atas perintah Raja Faisal. Kematian sang kakak konon menjadi pemicu dendam yang membara dalam diri Faisal bin Musaid.
Yang kedua gangguan kejiwaan. Sebagian pihak kerajaan percaya bahwa Faisal mengalami gangguan mental. Riwayatnya di luar negeri, gaya hidupnya yang berbeda, serta tindakannya yang tidak terduga membuat banyak orang menduga ia tidak sehat secara psikologis.
Yang ketiga pengaruh asing. Di masa Perang Dingin, segala tindakan ekstrem sering dikaitkan dengan permainan intelijen global. Beberapa teori konspirasi menyebut keterlibatan badan intelijen asing, termasuk CIA atau Mossad, tetapi hingga kini tidak ada bukti konkret yang mendukung klaim ini.
Hari Terakhir Sang Raja
Tanggal 25 Maret 1975. Seperti hari-hari sebelumnya, Raja Faisal menjalani aktivitas rutin di Istana Riyadh. Agenda hari itu cukup padat. Ia dijadwalkan menerima delegasi dari Kuwait, yakni Menteri Perminyakan Sheikh Abdelmuttaleb Al-Kazemi, untuk membahas kerja sama energi. Namun tanpa diketahui, hari itu akan menjadi yang terakhir bagi Raja Faisal.
Pagi menjelang siang, suasana istana tampak tenang. Para pejabat, keluarga kerajaan, dan tamu-tamu penting keluar masuk ruang audiensi. Raja Faisal duduk di singgasana kecilnya, sederhana tanpa banyak pengawalan. Ia tampak tenang, mengenakan jubah putih bersih dan sorban khas Arab yang selalu dikenakannya.
Faisal bin Musaid juga hadir dalam rombongan yang datang. Tidak ada yang mencurigainya. Ia diterima seperti anggota keluarga biasa—senyum, pelukan, dan sapaan hangat mengiringi langkahnya. Semua berjalan seperti biasa, seolah tidak ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Saat tiba gilirannya untuk bersalaman, Raja Faisal berdiri dan membungkuk sedikit untuk mencium dahi keponakannya. Sebuah gestur kasih sayang yang dalam budaya Arab sangat sakral.
Namun seketika, suasana berubah. Faisal bin Musaid mengeluarkan pistol dari balik jubahnya dan melepaskan dua tembakan cepat. Satu peluru menembus dagu dan melukai tenggorokan sang Raja. Peluru kedua menembus kepalanya.
Dalam sekejap, tubuh Raja Faisal roboh. Darah menggenangi lantai istana. Jeritan dan kepanikan memenuhi ruangan. Pengawal segera melumpuhkan pelaku dan mengamankannya. Beberapa orang mencoba memberikan pertolongan pertama, namun luka yang diderita Raja Faisal sangat parah.
Ambulans segera dikerahkan dan Raja dilarikan ke rumah sakit King Faisal Specialist Hospital. Para dokter berjuang keras, namun segalanya sudah terlambat. Raja Faisal dinyatakan wafat tidak lama kemudian.
Berita kematian itu disiarkan secara resmi melalui televisi nasional, yang segera menghentikan siaran biasa dan menggantinya dengan pembacaan Al-Qur’an serta pengumuman duka cita.
Seluruh Arab Saudi seolah membeku. Dunia pun segera bereaksi. Tidak hanya kehilangan seorang pemimpin, tapi juga menyaksikan salah satu tragedi politik terbesar di Timur Tengah.
Namun di balik tragedi ini, muncul berbagai spekulasi. Ada yang menyebut penembakan itu adalah tindakan tunggal penuh dendam pribadi. Tapi ada pula teori yang menyebut bahwa Faisal bin Musaid mungkin dimanfaatkan oleh kekuatan luar. Kematian Raja Faisal terkesan terlalu kebetulan bagi beberapa pihak yang merasa terancam oleh kebijakan anti-Barat Raja Faisal dan embargo minyaknya.
Beberapa jam setelah penembakan, pemerintah mengumumkan masa berkabung nasional. Raja Khalid, yang kala itu menjadi putra mahkota, langsung dilantik menjadi raja menggantikan almarhum. Dunia menyaksikan transisi kekuasaan yang tenang, meski dihantui duka mendalam.
Dunia Berkabung
Kematian Raja Faisal mengguncang dunia. Presiden Mesir Anwar Sadat, pemimpin Suriah Hafez al-Assad, Raja Hussein dari Yordania, hingga Presiden AS Gerald Ford menyampaikan belasungkawa mereka secara resmi.
Pemimpin-pemimpin dunia memuji dedikasi Faisal sebagai tokoh dunia Islam yang berani, bijak, dan konsisten dalam membela Palestina dan kemerdekaan dunia ketiga.
Pemakaman dilangsungkan dengan sederhana, sesuai wasiat Faisal. Tak ada kemegahan. Ia dimakamkan di pemakaman Al Oud, di antara rakyat biasa. Ia memang dikenal hidup sederhana: tidur di kasur tipis, makan makanan rakyat, dan menolak kemewahan berlebih.
Puluhan ribu rakyat datang mengiringi jenazahnya. Tidak hanya dari dalam negeri, tapi juga warga dari berbagai negara Islam. Tangis dan doa menggema di jalan-jalan Riyadh.
Di seluruh dunia Islam, masjid-masjid menggelar salat jenazah ghaib. Dari Kairo hingga Jakarta, umat Islam merasa kehilangan seorang pemimpin besar. Sekolah-sekolah diliburkan, dan siaran TV nasional hanya menayangkan doa dan ayat suci Al-Qur’an selama tiga hari berturut-turut.
Bahkan media Barat pun memberikan liputan besar. Surat kabar The New York Times, The Guardian, dan Le Monde memuat foto Raja Faisal di halaman depan, menandai betapa besar pengaruhnya bagi dunia.
BACA JUGA: Kejatuhan Baghdad: Tragedi Islam Terbesar di Tangan Bangsa Mongol
Akhir Sebuah Pengadilan
Faisal bin Musaid langsung ditangkap di tempat kejadian. Ia tidak melawan. Pemerintah segera membentuk tim investigasi untuk mengusut motif di balik penembakan ini.
Dalam proses penyelidikan, Faisal bin Musaid menjalani berbagai pemeriksaan psikiatri. Ada upaya untuk membuktikan bahwa ia tidak waras saat melakukan aksinya. Namun pengadilan memutuskan bahwa ia sepenuhnya sadar.
Setelah proses peradilan yang berlangsung tertutup, pada tanggal 18 Juni 1975, hanya tiga bulan setelah kejadian, Faisal bin Musaid dijatuhi hukuman mati.
Ia dieksekusi dengan cara dipenggal di depan publik di Riyadh. Ribuan orang menyaksikan eksekusi itu—sebuah penutup tragis atas drama pengkhianatan yang mengguncang istana.
Kematian Faisal bin Musaid menutup satu babak sejarah, namun meninggalkan banyak pertanyaan tak terjawab. Apakah ia benar-benar bertindak sendiri? Ataukah ada tangan-tangan tersembunyi yang bermain di balik tragedi itu?
Sampai hari ini, penembakan Raja Faisal tetap menjadi salah satu misteri besar dalam sejarah Timur Tengah.
Raja Faisal bukan hanya raja bagi rakyat Saudi, tapi simbol perjuangan dunia Islam di abad 20. Ia meninggal dengan cara yang tragis, namun warisannya tetap hidup dalam ingatan umat.
Ia dikenang sebagai pemimpin yang berani berdiri melawan dominasi Barat, tapi tetap menjaga nilai-nilai Islam dalam pembangunan bangsanya.
Kisah hidup dan kematiannya adalah pel ajaran bahwa kekuasaan dan pengkhianatan seringkali datang dari tempat yang tak terduga, dari dalam, dari orang yang paling dekat. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
