DALAM perjalanan sejarah bangsa Indonesia, sosok Presiden Soekarno atau Bung Karno dikenal sebagai tokoh revolusioner yang memadukan semangat kebangsaan dengan nilai-nilai spiritual dan kebudayaan tinggi. Salah satu kisah yang jarang diangkat namun begitu menyentuh adalah tentang tekad Bung Karno untuk menziarahi makam salah satu ulama besar Islam: Imam Al-Bukhari. Kisah ini bukan hanya menggambarkan kedalaman spiritual Bung Karno, tetapi juga menyingkap betapa agungnya kedudukan para ulama dalam pandangan umat Islam—bahkan di mata seorang kepala negara.
Syarat Bung Karno kepada Uni Soviet: Sebuah Tekad yang Tegas
Dalam satu kunjungan kenegaraan yang direncanakan ke Uni Soviet pada era 1960-an, Bung Karno menyampaikan satu syarat mutlak yang harus dipenuhi sebelum ia menginjakkan kaki di negeri Komunis tersebut. Ia berkata dengan tegas, “Saya mau datang ke Moskow dengan satu syarat mutlak yang harus dipenuhi. Tidak boleh tidak.”
Nikita Khrushchev, pemimpin tertinggi Uni Soviet saat itu, dengan heran menanyakan apa gerangan syarat tersebut. Bung Karno menjawab, “Temukan makam Imam Al-Bukhari. Saya sangat ingin menziarahinya.”
Permintaan ini jelas membingungkan pihak Soviet. Di tengah situasi ideologis Komunis yang kaku dan cenderung represif terhadap simbol-simbol agama, permintaan Bung Karno ini menjadi hal yang luar biasa. Mereka bahkan sempat mengatakan bahwa makam tersebut tidak ditemukan dan menawarkan Bung Karno untuk mengganti syarat kunjungannya.
Namun Bung Karno menjawab dengan keyakinan yang kuat, “Kalau tidak ditemukan, ya sudah, saya lebih baik tidak usah datang ke negara Anda.” Ia bahkan menawarkan pemindahan makam Imam Bukhari ke Indonesia, dengan imbalan emas seberat makam tersebut, agar bisa dijaga dengan layak.
Akhirnya, berkat tekanan dan kesungguhan Bung Karno, pihak Soviet menemukan makam Imam Bukhari yang berada di Samarkand (kini di wilayah Uzbekistan). Kabar itu disampaikan kembali kepada Bung Karno, dan beliau pun setuju untuk melanjutkan kunjungannya ke Uni Soviet.
Siapakah Imam Al-Bukhari?
Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari. Ia lahir pada tahun 810 M di kota Bukhara (sekarang Uzbekistan), dan wafat pada tahun 870 M di Khartank, dekat Samarkand.
Imam Al-Bukhari dikenal sebagai penyusun kitab hadits paling shahih dalam Islam setelah Al-Qur’an, yaitu Shahih Al-Bukhari. Kitab ini merupakan hasil dari seleksi ketat lebih dari 600.000 hadits yang beliau hafal, hanya sekitar 7.000 hadits saja yang beliau tulis dalam kitabnya setelah melalui metode kritik sanad dan matan yang sangat ketat.
Imam Al-Bukhari adalah simbol keilmuan, integritas, dan keikhlasan dalam menyebarkan ilmu. Ia tidak hanya mencatat hadits, tetapi juga hidup dengan penuh ketakwaan dan wara’ (berhati-hati dalam agama).
Kedudukan Ulama dalam Islam
Apa yang dilakukan Bung Karno adalah cermin penghormatan seorang Muslim terhadap ulama. Islam mengajarkan bahwa ulama adalah pewaris para nabi.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi)
Imam Al-Ajurri rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang tidak memuliakan ulama, maka dia telah menghina Islam.” (Akhlaaqul Ulamaa’)
Bahkan para salafush shalih menaruh hormat luar biasa kepada ahli ilmu. Al-Fudhail bin Iyadh berkata, “Menghina ulama adalah penyakit hati, dan tanda kerasnya hati serta lemahnya iman.”
Ziarah sebagai Bentuk Cinta dan Penghormatan
Ziarah ke makam para ulama bukanlah bentuk pengultusan, tetapi ekspresi cinta, penghormatan, serta pengingat terhadap kematian dan perjuangan mereka. Rasulullah ﷺ sendiri menganjurkan umatnya untuk berziarah kubur.
Beliau bersabda: “Dulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur. Sekarang berziarahlah, karena ziarah itu dapat mengingatkan kalian pada akhirat.” (HR. Muslim)
Bung Karno tidak hanya memimpin Indonesia dari sisi politik dan ideologi, tetapi juga menunjukkan bahwa pemimpin Muslim sejati adalah mereka yang menempatkan ilmu dan ulama di posisi tertinggi.
Samarkand: Negeri Para Ulama
Samarkand bukan hanya tempat peristirahatan terakhir Imam Al-Bukhari. Kota ini juga menjadi pusat ilmu pengetahuan Islam pada masa keemasan. Banyak ulama besar lahir dan menetap di wilayah Asia Tengah ini. Di antara mereka adalah:
Imam Al-Maturidi
Abu Mansur As-Samarqandi
Ibnu Sina (Avicenna)
Kota ini menjadi pusat peradaban Islam yang cemerlang, dan makam Imam Al-Bukhari pun kini dijaga dengan baik, dijadikan tempat ziarah, dan destinasi utama bagi para pencinta ilmu.
BACA JUGA: Detik-detik Kejatuhan Presiden Soekarno: Disingkirkan, Diasingkan hingga Wafat
Pelajaran dari Bung Karno: Spiritulitas Seorang Pemimpin
Apa yang dapat kita petik dari kisah ini?
Pemimpin tidak boleh melupakan akar spiritualnya.
Bung Karno, meskipun dikenal sebagai nasionalis dan orator revolusioner, tetap membawa semangat Islam dalam tindakannya.
Ulama adalah aset peradaban.
Kita tidak boleh membiarkan jasa dan warisan mereka dilupakan. Menjaga, menziarahi, dan mempelajari karya mereka adalah bentuk syukur kita kepada Allah.
Ketegasan dalam nilai dan prinsip.
Bung Karno tidak bersedia datang ke negara adidaya itu jika syarat spiritualnya tidak dipenuhi. Ini menunjukkan bahwa nilai-nilai agama tidak bisa ditawar.
Penutup: Menghidupkan Kembali Cinta kepada Ulama
Kita hidup di zaman yang sering kali melupakan jasa para ulama. Banyak generasi muda yang mengenal tokoh-tokoh politik dan hiburan, tetapi tidak tahu siapa Imam Al-Bukhari, Imam Syafi’i, atau Imam Ahmad bin Hanbal. Padahal merekalah penopang agama ini.
Kisah Bung Karno yang rela membatalkan kunjungan kenegaraan demi sebuah ziarah adalah pesan yang kuat: bahwa ulama adalah pelita umat, dan kita wajib menaruh cinta dan hormat kepada mereka. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
