Kalau kamu lahir dan besar di era 90-an, maka selamat! Kamu termasuk makhluk setengah legenda yang pernah hidup di zaman tanpa notifikasi WhatsApp, tanpa FYP TikTok, dan tanpa charger colokan tiga. Kita ini generasi tangguh yang bisa main dari pagi sampai petang hanya dengan bekal nasi bungkus, air sumur, dan semangat hidup setara Super Saiya.
1. Gadget? Itu Makanan?
Anak zaman sekarang kalau lapar ya pesan makanan lewat HP. Kita dulu? Kalau lapar tinggal pulang ke rumah, ngubek dapur, atau minta ke warung dan dibayar pakai utang. Gadget paling canggih yang kita punya adalah kalkulator CASIO milik orang tua yang cuma bisa dipakai buat bikin angka 5318008 (terbalik jadi “boobies” — dan itu udah humor paling dewasa waktu itu).
HP? Paling-paling main telepon koin di warung sebelah, nunggu sinyal dari mama: “Eh, kalau 3 kali dering lalu mati, itu tandanya mama udah sampai kantor ya!”
2. Mainan Kita: Full Outdoor, Zero Batre
Kita ini generasi yang kulitnya tebal karena akrab dengan matahari. Main di sawah, mandi di kali, ngejar layangan sampai ke kuburan, itu semua adalah bentuk kejantanan sejati. Lupa mandi itu biasa, asal pulang sebelum maghrib biar gak disambit sandal mama.
Mainannya juga bervariasi dan tidak memerlukan Wi-Fi:
Gambaran: rebutan gambar Dragon Ball hasil beli ciki, main adu panco gambar sambil berdebat siapa lebih kuat, Goku atau Doraemon (padahal beda genre!).
Sondlah (atau sodoran): main pakai sendal jepit, lari-larian kayak ninja tapi versinya capek dan bau matahari.
Dengklang (engklek): modal kapur dari batu bata, lompat satu kaki penuh harapan.
Petak Umpet: jurus andalan ninja kampung, kalo gak ketemu-temu, biasanya anaknya malah ikut main ke rumah yang ditempati ngumpet.
3. TV: Hiburan Sakral
Anak 90-an sangat religius dalam menyaksikan televisi. Karena channel cuma 5, dan kalau antena miring sedikit bisa tiba-tiba lihat presenter dari stasiun sebelah. Tapi kita punya jadwal tayangan yang sakral.
Hari Minggu = WAKTU EMAS. Bangun pagi nonton Si Unyil, lalu sorenya nonton kartun di TVRI yang entah kenapa semua tokohnya punya mata besar dan ekspresi dramatis.
Sinetron Jepang: sore hari adalah waktunya dunia berubah. Dengan tiket rental video seharga 200 perak per kaset, kita nonton Gaban, Sharivan, dan Megaloman. Semua tokoh ini jadi inspirasi gaya rambut (dan suara robot) waktu main peran sama teman.
Film India: satu film 3 jam, nangisnya 6 jam. Tapi tetap ditonton karena siapa tahu muncul tarian di padang rumput.
Jam 9 malam: sudah waktunya tidur. Kalau ketahuan masih bangun, langsung diseret pakai daster emak sambil diceramahi, “Tidur! Besok sekolah!”
4. Maghrib Sampai Isya: Mushala Adalah Miniatur Surga
Begitu azan maghrib berkumandang, semua anak tiba-tiba mendadak alim. Bukan karena tiba-tiba tobat, tapi karena… takut! Takut kalau gak ke mushala, bisa-bisa dijemput pakai rotan atau centong nasi. Tapi asyiknya, mushala itu tempat semua kegiatan suci:
Belajar ngaji bareng teman (dan tukang ribut),
Ngobrol soal cinta monyet yang belum tahu artinya cinta.
Kalau guru ngajinya galak, hafalan salah dikit bisa disuruh berdiri di bawah tiang lampu mushala yang serem dan banyak nyamuk.
5. Hari Minggu: Hari Bahagia
Bagi anak 90-an, hari Minggu adalah hari kebebasan nasional. Bisa bangun jam 6 pagi (aneh, karena hari sekolah malah susah bangun), langsung nonton kartun, makan mie rebus, lalu ngacir keluar rumah tanpa tujuan jelas.
Kadang ke rental video bawa kartu anggota lusuh, berharap film Google-V belum disewa orang.
Kadang ke pasar hanya buat beli permen karet kucing warna-warni yang nempel di rambut.
Kadang cuma duduk di lapangan, lempar sandal sambil teriak, “Ayo main sondlah!”
BACA JUGA: Tragedi Penembakan Raja Faisal bin Abdulaziz; Pengkhianatan di Balik Tirai Istana
6. Masalah Paling Berat? Kalah Main Gambaran
Jangan salah, anak 90-an itu penuh tantangan. Salah satu tragedi terbesar hidup waktu itu adalah:
Gambar Panji Tengkorak kesayangan kena remuk diadu.
Kelereng jatuh ke gorong-gorong.
Layangan putus nyangkut di pohon durian tetangga yang galak.
Pulang main langsung dimandikan paksa pakai air dingin, padahal sudah jam 6 sore.
Kalau kamu selamat dari semua itu, maka kamu bukan hanya generasi 90-an. Kamu pejuang kehidupan, alumni kampung, sarjana semangat, dan profesor nostalgia!
Penutup: Kita Ini Emas, Tapi Gak Pakai Frame
Hari ini, kita mungkin sudah kerja, punya anak, bahkan mulai pakai kacamata baca. Tapi satu hal yang tak akan berubah: kenangan masa kecil itu paling jujur dan paling lucu. Kita dibesarkan bukan dengan layar sentuh, tapi dengan sentuhan langsung dari alam, teman, dan kasih sayang keluarga.
Jadi kalau hari ini kamu sedang stres, coba pejamkan mata sebentar, bayangkan kamu sedang main gambaran, ditendang dari belakang oleh teman sambil ketawa-ketawa. Karena di sanalah kita, anak 90-an, belajar hidup sebelum hidup jadi serumit sekarang.
Kalau kamu anak 90-an juga, komentar dong: mainan favorit kamu dulu apa? []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

