MENUTUP aurat adalah kewajiban yang jelas dalam ajaran Islam. Banyak perempuan Muslim sudah mengetahui hal ini dari kecil—diajarkan di rumah, di sekolah, hingga dari ceramah para ustaz dan media sosial dakwah. Namun, realitanya, tidak sedikit perempuan Muslim yang tetap memilih untuk membuka auratnya. Mengapa hal ini terjadi?
Fenomena ini bukan soal “tidak tahu”, tapi lebih dalam dari itu. Mari kita telaah dengan jujur dan penuh empati, apa saja alasan yang membuat sebagian perempuan masih membuka auratnya, meskipun mereka sadar bahwa itu bertentangan dengan ajaran Islam.
1. Iman dan Hidayah yang Belum Kuat
Menutup aurat adalah buah dari keimanan. Semakin kuat iman seseorang, semakin ringan rasanya menjalankan perintah Allah, termasuk dalam hal berpakaian. Banyak perempuan yang sudah tahu hukumnya, tetapi hati mereka belum sepenuhnya siap menerima dan mengamalkannya.
Hidayah tidak datang sekaligus. Ada yang butuh waktu, proses, dan perjalanan panjang untuk sampai pada titik menerima dan menjalankan kewajiban ini dengan ikhlas.
BACA JUGA: Wanita Muda yang Tangannya Dipotong karena Bersedekah
2. Tekanan Lingkungan dan Standar Sosial
Di banyak tempat, terutama di lingkungan urban atau modern, berpakaian terbuka dianggap sebagai simbol kebebasan, modernitas, atau bahkan kecantikan. Tekanan dari lingkungan, teman, bahkan tempat kerja, bisa membuat seorang perempuan merasa “tidak cocok” atau “terasing” jika menutup aurat secara syar’i.
Beberapa bahkan takut dikucilkan, dijuluki fanatik, atau dianggap kuno. Tidak semua orang punya keberanian untuk melawan arus sosial ini, terutama jika mereka tidak punya support system yang mendukung.
3. Pemahaman Agama yang Masih Dangkal
Meski tahu “menutup aurat itu wajib”, tidak semua orang memahami mengapa hal itu diwajibkan. Sebagian hanya tahu secara hukum, tapi tidak memahami hikmah, tujuan, dan dampaknya terhadap diri mereka sendiri.
Akibatnya, kewajiban ini hanya dianggap aturan yang membatasi kebebasan, bukan bentuk perlindungan dan kemuliaan dari Allah. Kurangnya ilmu bisa membuat seseorang memandang kewajiban agama sebagai beban, bukan nikmat.
4. Pengaruh Media dan Tren Fashion
Media, baik televisi, film, hingga media sosial, sangat kuat mempengaruhi cara berpikir dan berpenampilan seseorang. Influencer, artis, dan selebriti yang menjadi role model sering kali tampil dengan pakaian terbuka dan modern.
Tren fashion global yang lebih menonjolkan aurat juga ikut menggiring perempuan untuk menyesuaikan diri agar tidak “tertinggal zaman”. Dalam dunia yang serba visual ini, penampilan sering kali diutamakan lebih dari prinsip.
5. Belum Merasa Siap Secara Pribadi
Banyak perempuan yang sebenarnya ingin menutup aurat, namun merasa belum siap. Ada yang takut tidak bisa konsisten. Ada yang takut nanti diledek, dihakimi, atau dinilai sok alim. Ada juga yang sedang dalam proses hijrah dan sedang memperbaiki hal-hal lain dalam hidupnya terlebih dahulu.
Mereka mungkin berpikir, “Lebih baik belum pakai jilbab tapi hatiku ikhlas, daripada pakai jilbab tapi munafik.” Meski pemahaman ini tidak sepenuhnya tepat, itu adalah gambaran bahwa mereka sedang dalam konflik batin.
6. Trauma atau Luka Masa Lalu dari Lingkungan Keagamaan
Sebagian perempuan pernah memiliki pengalaman buruk dalam konteks keagamaan—dihukum secara kasar, dihakimi karena pakaian, atau bahkan menjadi korban pelecehan dari orang yang berpakaian religius. Luka-luka semacam ini bisa membuat mereka menjauh dari simbol-simbol agama, termasuk menutup aurat.
Perintah agama pun jadi terasa menyakitkan, bukan menenangkan. Dibutuhkan pendekatan yang penuh kasih dan penyembuhan untuk kembali menumbuhkan kepercayaan terhadap ajaran Islam yang sejati.
7. Tertipu oleh Pemikiran Relativisme dan Liberalisme
Sebagian orang terpengaruh oleh pemikiran modern yang mengaburkan batas-batas hukum agama. Mereka meyakini bahwa menutup aurat adalah pilihan, bukan kewajiban. Atau bahwa “yang penting hatinya baik”, terlepas dari bagaimana cara berpakaian.
Pemikiran semacam ini semakin marak di era kebebasan berekspresi dan bisa membuat banyak orang merasa tak perlu lagi patuh pada aturan yang dianggap ketinggalan zaman.
8. Kurangnya Teladan atau Lingkungan yang Mendukung
Bagi banyak perempuan, lingkungan sangat berpengaruh. Jika keluarga, sahabat, atau lingkungan kerja tidak mencontohkan gaya hidup Islami, maka dorongan untuk menutup aurat pun jadi lemah. Apalagi jika tidak ada yang mendukung atau memberi motivasi, seseorang bisa merasa berjalan sendiri dalam proses hijrahnya.
9. Fokus Pada Dunia dan Penilaian Manusia
Tidak sedikit perempuan yang sangat fokus pada penampilan untuk urusan karier, percintaan, atau eksistensi di media sosial. Dalam dunia yang menilai dari visual, tampil menarik secara fisik dianggap kunci untuk diterima dan dihargai.
BACA JUGA: Batal Wudhu karena Melihat Aurat Istri?
Sayangnya, standar kecantikan yang berlaku sering kali bertentangan dengan prinsip menutup aurat. Maka banyak yang akhirnya memilih untuk menuruti penilaian manusia, dan mengabaikan penilaian Allah.
Jangan Menghakimi, Ajak dengan Cinta
Menutup aurat adalah bagian dari ketaatan kepada Allah. Namun kita perlu ingat bahwa hidayah datang dengan cara dan waktu yang berbeda untuk setiap orang. Daripada menghakimi, lebih baik mendoakan, memberi teladan, dan mendekati mereka dengan penuh kasih.
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56)
Allah tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga usaha dan perjalanan seseorang menuju-Nya. Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk terus memperbaiki diri, dan menjadi jalan bagi orang lain untuk kembali kepada kebaikan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
