ADA saat-saat di mana kehidupan seakan berhenti sejenak, hanya menyisakan doa, bisikan ayat, dan tarikan nafas penuh harap. Begitulah detik-detik persalinan, ketika seorang ibu berada di ambang batas antara hidup dan mati. Pada momen itu, langit seakan lebih dekat daripada bumi, dan manusia hanya bisa menyerahkan segalanya pada Sang Pencipta.
Fatimah az-Zahra, putri kesayangan Rasulullah ﷺ, pun melewati masa genting itu. Ia adalah perempuan yang mulia, cahaya kesabaran yang lahir dari rumah kenabian. Namun ketika saat kelahiran tiba, ia tetaplah seorang ibu—dengan rasa sakit, dengan gelombang perih yang membuat tubuhnya hampir tak berdaya.
Rasulullah ﷺ, sang ayah sekaligus utusan Allah, tidak hanya membekali putrinya dengan nasihat duniawi atau ramuan tradisi, melainkan dengan sesuatu yang lebih dalam: ayat-ayat Al-Qur’an—kalimat Allah yang menjadi penawar, cahaya, dan kekuatan.
Surat Maryam: Kurikulum Pendidikan bagi Ayah-Ibu di Masa Kehamilan
—
Ayat yang Dibacakan
Ibnu Taimiyah dalam Al-Kalimuth Thayyib meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan Ummu Salamah dan Zainab binti Jahsy—dua wanita sahabat yang penuh iman yang juga istri Rasulullah SAW—untuk mendampingi Fatimah dalam persalinannya. Beliau tidak menyuruh mereka menghibur dengan kata-kata manusia, melainkan dengan kalamullah.
Pertama, dibacakan Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah: 255):
“Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi…”
Dalam Tafsir Ibn Katsir, ayat ini dijelaskan sebagai ayat penjagaan terbesar dalam Al-Qur’an. Ia menegaskan keesaan Allah, kekuasaan-Nya yang mutlak, serta penjagaan-Nya yang tak pernah lengah. Karenanya, Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang membaca Ayat Kursi pada malam hari, ia akan selalu dijaga oleh Allah dan tidak akan didekati setan hingga pagi.” (HR. Bukhari).

Maka, dibacakannya ayat ini saat persalinan adalah bentuk ikhtiar agar Fatimah dan bayinya berada dalam lindungan Allah dari segala mara bahaya yang tampak maupun gaib.
Kedua, dibacakan ayat tentang penciptaan dan pengaturan semesta:
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy…” (QS. Al-A‘raf: 54)
Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini meneguhkan keyakinan seorang mukmin bahwa Allah adalah pengatur segala urusan, baik besar maupun kecil. Jika Dia mengatur rotasi matahari dan bulan, apalagi detak jantung seorang bayi dalam rahim—semuanya berada di bawah genggaman-Nya.
Lalu juga firman-Nya: “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan…” (QS. Yunus: 3)
Dalam Tafsir As-Sa‘di, disebutkan bahwa ayat ini mengajarkan tawakkal yang sempurna. Sebagaimana Allah mengatur jagat raya dengan keseimbangan yang presisi, maka seorang hamba hendaknya bersandar penuh kepada-Nya saat menghadapi kesulitan hidup—termasuk persalinan yang penuh risiko.
Ketiga, dibacakan surat perlindungan:
“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya…” (QS. Al-Falaq: 1–2)
“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi…” (QS. An-Naas: 1–4)
Dua surat ini, menurut tafsir Ibnu Katsir, adalah ruqyah yang diajarkan langsung oleh Allah untuk melindungi manusia dari kejahatan yang tampak maupun yang tersembunyi, dari makhluk maupun dari bisikan setan.
Suara ayat itu bergema, menenangkan hati Fatimah, mengusir rasa gentar, dan menguatkan tubuhnya untuk menghadapi detik kelahiran.
—
Kelahiran Isa dan Persalinan Fatimah
Kisah ini mengingatkan kita pada peristiwa agung sebelumnya: kelahiran Nabi Isa ‘alaihissalam dari rahim Maryam. Ia pun berada dalam kesendirian, menanggung rasa sakit yang hampir merobek jiwa. Allah menurunkan ketenangan kepadanya, dengan pohon kurma yang berbuah, sungai kecil yang mengalir, dan bisikan malaikat yang berkata:
“Janganlah engkau bersedih. Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.” (QS. Maryam: 24)
Al-Baghawi dalam tafsirnya menegaskan bahwa ayat ini menunjukkan rahmat Allah yang mendampingi seorang ibu dalam kesendirian, memberi makanan, minuman, dan hiburan agar ia mampu menghadapi peran besarnya melahirkan seorang nabi.
Dua peristiwa ini seakan bersahut-sahutan dalam sejarah. Maryam ditemani malaikat yang meneguhkan hatinya, sementara Fatimah ditemani ayat-ayat Allah yang dibacakan oleh sahabat mulia. Maryam meneguk air segar dari sungai yang mengalir, Fatimah meneguk kekuatan dari kalamullah yang tak pernah kering. Keduanya menunjukkan bahwa dalam saat paling genting bagi seorang ibu, Allah tidak pernah meninggalkan. Selalu ada pertolongan: lewat malaikat, lewat doa, lewat ayat-ayat suci.
—
Warisan Pendidikan Rasulullah ﷺ
Dari kisah Fatimah ini, kita belajar bahwa pendidikan anak dalam Islam bermula jauh sebelum ia lahir. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa persalinan pun sebaiknya diiringi dengan bacaan Al-Qur’an. Sebab, kalamullah bukan hanya menguatkan ibu, tetapi juga menyapa jiwa anak yang akan segera hadir ke dunia.
Inilah rahasia yang sering kita lupakan: setiap kelahiran yang dibacakan ayat-ayat Allah sesungguhnya sedang menyambungkan bayi itu dengan langit, sebelum ia benar-benar menapakkan kaki di bumi.
BACA JUGA: Surat Yusuf: Bekal Kehamilan
Maka, pendidikan Islami bukan dimulai dari bangku sekolah, melainkan sejak dalam rahim. Seorang ibu menyiapkan ketenangan batin dengan doa, dzikir, dan ayat. Seorang ayah menyiapkan perlindungan dengan nafkah halal, doa, dan kasih sayang. Lalu, lahirlah anak yang sejak awal hidupnya telah dibalut dengan cahaya wahyu.
—
Penutup
Kisah ini adalah pelajaran. Bahwa persalinan bukan hanya perkara medis atau fisik, tetapi juga perjalanan ruhani. Bahwa doa, ayat, dan dzikir bisa menjadi penopang bagi seorang ibu yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Bahwa Allah selalu hadir di ruang persalinan, menenangkan hati, menjaga bayi, dan menguatkan seorang ibu.
Fatimah telah melewati momen itu dengan ayat. Maryam pun demikian. Dan kini, setiap ibu muslimah dapat meneladani: menghadirkan Al-Qur’an dalam detik-detik persalinannya. Sebab, di situlah kelahiran bukan hanya tubuh, tetapi juga lahirnya generasi yang sejak awal telah dipeluk oleh cahaya langit. []
Sumber: Jamaal Abdur Rahman, Tahapan Mendidik Anak, Penerbit IBS
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

