SEJARAH Islam bukan sekadar catatan tentang perluasan wilayah dan kemenangan. Ia adalah tarian panjang antara kekuatan, keindahan pena, dan kelembutan diplomasi. Dari gurun Arabia, Islam merambat ke barat hingga menyeberangi selat menuju Andalusia, dan ke timur jauh hingga berlabuh di pelabuhan-pelabuhan Nusantara.
—
Andalusia: Gerbang Barat Islam
Tahun 711 M, seorang panglima muda bernama Thariq bin Ziyad memimpin pasukan Muslim menyeberangi selat yang kelak disebut Selat Gibraltar—Jabal Thariq, gunung Thariq. Dengan pasukan kecil, ia berhasil mengalahkan Raja Roderick dari kerajaan Visigoth. Andalusia pun terbuka.
Di bawah kekhalifahan Umayyah, Andalusia bukan hanya menjadi wilayah baru, melainkan pusat peradaban. Cordoba berkembang menjadi kota dengan cahaya ilmu, masjid yang megah, dan perpustakaan yang menyimpan ratusan ribu manuskrip. Andalusia adalah wajah Islam yang mempesona dunia: kokoh dalam kekuatan, lembut dalam seni, tinggi dalam ilmu pengetahuan.
Tetapi di balik kejayaan militer dan peradaban itu, ada cerita lain yang jarang didengar: hubungan halus antara Bani Umayyah dengan negeri jauh di timur, kepulauan Nusantara.
—
Kalingga dan Angin Samudra
Pada abad ke-7, jauh sebelum Sriwijaya mencapai puncaknya, berdirilah sebuah kerajaan di Jawa Tengah: Kalingga. Ratu Shima yang bijaksana dan keras dalam menegakkan hukum memerintah sekitar tahun 674 M. Pada masa inilah, catatan Tiongkok menyebut adanya utusan dari negeri yang disebut Ta-shih—sebutan mereka bagi bangsa Arab Muslim.
Apakah yang dibicarakan dalam pertemuan itu? Sejarah bisu, namun bisa kita bayangkan: utusan membawa kabar tentang agama baru dari barat, tentang kekhalifahan yang kini berpusat di Damaskus, dan tentang jalur perdagangan yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Cina Selatan.
Di pelabuhan-pelabuhan Kalingga, para pedagang Muslim mungkin singgah. Mereka memperkenalkan bukan hanya barang dagangan, tetapi juga adab, doa, dan salam. Diplomasi awal ini masih sederhana: pertukaran hadiah, pengakuan persahabatan, dan perdagangan rempah. Namun ia adalah benih awal dari pertemuan besar antara Islam dan Nusantara.
—
Sriwijaya dan Surat yang Terbang Menembus Samudra
Beberapa dekade kemudian, panggung sejarah Nusantara bergeser ke Sumatra. Sriwijaya, kerajaan maritim yang berpusat di Palembang, menjelma menjadi kekuatan besar di Selat Malaka. Kapal-kapalnya menguasai jalur perdagangan, dan namanya tercatat dalam berita Tiongkok maupun catatan ziarah I-Tsing pada tahun 671 M.
Hubungan Sriwijaya dengan dunia Islam mencapai titik penting pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717–720 M). Sejarawan Muslim seperti al-Mas‘udi meriwayatkan bahwa raja Sriwijaya, disebut Sri Indravarman, mengirim surat dan hadiah kepada sang khalifah.
Isi surat itu sederhana, namun menggetarkan. Raja memohon agar dikirimkan ulama untuk mengajarkan Islam di negerinya. Umar bin Abdul Aziz pun memenuhi permintaan itu. Ia mengutus seorang muballigh, yang membawa serta bukan hanya risalah tauhid, tetapi juga semangat adil dan damai yang menjadi ciri kepemimpinan Umar.
Bayangkanlah: dari Damaskus, sebuah surat menyeberangi padang pasir, melewati pelabuhan Basrah, menempuh Samudra Hindia, hingga tiba di istana megah Sriwijaya. Sebuah jembatan jiwa telah terbangun, bukan karena perang, melainkan karena pena dan doa.
—
Diplomasi: Dari Andalusia ke Nusantara
Dua wajah Bani Umayyah pun tampak jelas. Di barat, mereka menorehkan sejarah dengan perluasan wilayah: Andalusia dibebaskan, Romawi dipukul mundur, dan peradaban baru lahir di Eropa. Di timur jauh, mereka mengetuk pintu Nusantara dengan diplomasi: hadiah, surat menyurat, dan dakwah yang lembut.
Kepada Kalingga, mereka hadir sebagai mitra dagang. Kepada Sriwijaya, mereka datang sebagai sahabat spiritual. Dua jalur ini, dagang dan dakwah, kelak bersatu menjadi jalan masuknya Islam ke kepulauan kita.
—
Refleksi Sejarah
Apa arti dari semua ini?
Pertama, Islam sejak awal tidak hanya tumbuh dengan perluasan wilayah. Ia juga bertumbuh dengan persahabatan, diplomasi, dan kelembutan hati. Andalusia dan Sriwijaya adalah dua kutub yang menunjukkan keseimbangan itu.
Kedua, surat yang dikirim raja Sriwijaya kepada Umar bin Abdul Aziz adalah simbol bahwa Nusantara sejak awal terbuka pada dialog peradaban. Islam tidak datang ke sini dengan pasukan, melainkan dengan doa para pedagang, dengan akhlak para muballigh, dengan surat yang penuh penghormatan.
Ketiga, hubungan Bani Umayyah dengan Nusantara mengingatkan kita bahwa peradaban besar selalu berjejaring. Samudra bukan pemisah, melainkan jembatan. Dari Damaskus ke Andalusia, dari Damaskus ke Palembang, ada benang merah yang sama: jiwa manusia yang mencari kebenaran dan persahabatan.
—
Jejak yang Tersisa
Kini, kita tidak lagi memiliki naskah asli surat raja Sriwijaya kepada Umar bin Abdul Aziz. Kita hanya mendengar jejaknya dari para sejarawan. Namun jejak itu cukup untuk membuat kita bertanya: bagaimana mungkin ribuan kilometer samudra bisa dijembatani oleh sebuah surat?
Jawabannya adalah iman dan niat baik. Niat untuk membuka diri, untuk belajar, untuk saling mengenal. Seperti firman Allah dalam Qur’an: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13).
—
Penutup
Andalusia adalah kisah perluasan wilayah dan peradaban. Nusantara adalah kisah surat dan persahabatan. Keduanya lahir dari satu rahim: kekhalifahan Bani Umayyah.
Maka sejarah berbisik: kekuatan sejati bukan hanya pada pasukan yang menang di medan perang, tetapi pada jiwa yang mampu menembus batas, menjalin persaudaraan, dan menyatukan hati-hati di ujung dunia.
Dan pertanyaan pun mengemuka: di zaman kita kini, adakah surat yang bisa kembali menyeberangi samudra—bukan dari tinta emas, tetapi dari hati yang tulus, demi membangun jembatan peradaban? []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
