PERNAHKAH Anda merasakan getaran malam maulid? Malam ketika langit seakan lebih jernih, hati terasa lebih lembut, dan lidah kita dengan ringan menyebut nama Muhammad ﷺ. Di berbagai negeri Islam, sejak berabad-abad lalu, malam itu dirayakan dengan cahaya lentera, alunan doa, syair, hingga lantunan kasidah.
Namun tahukah Anda bahwa perayaan maulid tidak lahir seketika setelah Rasul wafat? Perjalanannya panjang, berliku, dan bahkan penuh perdebatan. Mari kita menelusuri jejaknya, dari abad ke-8 hingga ke-14, dari Baghdad, Kairo, hingga Istanbul.
—
Malam Lahir dan Malam Wahyu: Dua Cahaya yang Disamakan
Di negeri Turki, ada kepercayaan lama: malam kelahiran Nabi Muhammad ﷺ dipandang sama mulianya dengan malam turunnya wahyu pertama di gua Hira. Malam itu disebut mevlut kandili—pesta lentera.
Konon, ada riwayat populer dalam tradisi mereka. Pada malam ketika Nabi lahir, malaikat Jibril diperintahkan menggoyang buaian beliau. Bayi Muhammad menangis, dan Jibril menenangkan dengan bisikan lembut: “Bangun, Sayangku. Tidur terlarang bagi pecinta.”
Kalimat puitis ini diwariskan dari generasi ke generasi, menguatkan rasa cinta umat pada sang kekasih Allah.
Seorang penyair Turki abad ke-17 bahkan menulis: “Malam kelahiran Rasulullah ﷺ sama dengan Lailatul Qadr. Malam itu lebih baik daripada seribu bulan.”
Maka, tak heran jika masyarakat Muslim di sana terbiasa berjaga semalam suntuk pada malam maulid.
Seorang ulama Aljazair abad ke-18, Ibnu Ammar, memberikan alasan reflektif:
1. Maulid adalah anugerah terbesar bagi dunia, karena Nabi adalah rahmat paling agung.
2. Kelahiran Nabi lebih penting bagi manusia ketimbang turunnya malaikat.
3. Jika turunnya Al-Qur’an adalah peristiwa agung, maka hadirnya Nabi sebagai pembawa risalah tentu sama agungnya.
—
Jejak Awal: Dari Rumah Nabi hingga Dinasti Fatimiyah
Perayaan maulid bukanlah tradisi sahabat Nabi. Ia baru mulai tampak sekitar abad ke-8 M, lebih dari seabad setelah Rasul wafat.
Dikisahkan, ibunda Khalifah Harun ar-Rasyid mengubah rumah tempat Nabi lahir di Mekah menjadi oratorium—tempat ibadah dan renungan. Jamaah haji pun berbondong-bondong mengunjunginya, mendengar kisah kehidupan Nabi, lalu berdoa penuh haru.
Namun, perayaan besar-besaran baru tercatat di Mesir pada masa Dinasti Fatimiyah (969–1171 M). Sejarawan Mesir abad ke-15 menggambarkan perayaan itu, mengutip sumber otentik tahun 1122 M:
Para ulama tampil memberi ceramah dan bacaan maulid.
Madu dan manisan—makanan kesukaan Nabi—dihidangkan.
Fakir miskin menerima sedekah melimpah.
Kemeriahan itu bukan hanya ritual, tetapi juga sosial. Maulid menjelma ruang berbagi dan mengikat ukhuwah.
—
Maulid di Irak dan Keriuhan Sufi
Dari Mesir, tradisi itu menjalar ke Irak. Pada tahun 1207 M, sejarawan Ibnu Khalliqan menulis gambaran hidup tentang perayaan maulid di sana:
Paviliun-paviliun kayu didirikan.
Tamu dari luar kota disambut di ruang khusus.
Puluhan domba, kambing, dan sapi disembelih untuk jamuan.
Sultan ikut hadir, bukan hanya dalam doa bersama, tetapi juga dalam sama’—pertunjukan musik dan tarian sufi. Malam itu, kota bercahaya dengan obor, diiringi arak-arakan meriah. Bahkan ada pertunjukan wayang Cina, memperlihatkan akulturasi budaya.
Obor yang menerangi jalan perlahan berevolusi menjadi lampu-lampu dan lentera. Di Turki, cahaya itu begitu identik dengan maulid sehingga perayaannya dinamai mevlut kandili—pesta lentera.
—
Suara Pro dan Kontra
Namun, tidak semua ulama sependapat. Sebagian menilai maulid sebagai bid’ah, terutama bila dirayakan dengan pesta besar. Ibnu Taimiyah (w. 1328 M) termasuk yang mengkritik, meski beliau mengakui: jika perayaan itu dilakukan dengan niat tulus mencintai Nabi, Allah mungkin memberi pahala.
Sebaliknya, sebagian ulama lain mendukung. Kitab-kitab maulid mulai disusun, diisi syair, doa, dan kisah kelahiran Nabi.
Yang menarik, seorang tokoh besar, Ibnu Katsir—murid kesayangan Ibnu Taimiyah—menulis kitab maulid yang berisi hadis-hadis tentang kelahiran Nabi. Karya itu memberi legitimasi kuat bagi mereka yang ingin melestarikan perayaan maulid.
—
Maulid sebagai Puisi Cinta
Sejak itu, perayaan maulid menyebar luas. Di Yaman, Suriah, hingga Nusantara, umat Islam mengekspresikan cinta pada Nabi melalui qasidah—puisi pujian yang dibacakan dengan irama indah.
Sejarawan Marshall Hodgson dalam The Venture of Islam mencatat bahwa maulid menjadi salah satu bentuk budaya Islami paling universal. Bukan hanya perayaan keagamaan, melainkan perayaan rasa cinta.
Sementara Annemarie Schimmel, pakar sejarah Islam dari Jerman, menyebut maulid sebagai “festival cinta” (festival of love) umat Islam kepada Nabi mereka. Menurutnya, tradisi ini menandai bagaimana umat Islam menjadikan sejarah Nabi bukan sekadar narasi, tetapi pengalaman emosional yang hidup.
—
Refleksi: Maulid sebagai Jembatan Zaman
Jika kita menoleh ke belakang, ada ironi yang indah:
Perayaan maulid lahir dalam istana—diatur khalifah, dihias lentera, disemarakkan syair.
Tetapi perlahan, ia turun ke jalanan, ke surau kecil, ke rumah-rumah sederhana, bahkan hingga ke desa-desa Nusantara.
Malam itu, orang kaya dan miskin duduk bersisian. Yang berilmu membaca kitab, yang sederhana menyimak dengan mata berbinar. Anak-anak mendengar kisah bayi Muhammad yang menangis, lalu tersenyum saat malaikat menimang. Orang tua meresapi doa dengan hati penuh syukur.
Bukankah itu inti dari perayaan maulid? Ia bukan semata nostalgia, bukan sekadar pesta, melainkan jembatan batin yang menghubungkan kita dengan Nabi—manusia pilihan yang lahir untuk menjadi rahmat semesta.
BACA JUGA: Kebenaran Al-Qur’an Dibuktikan dengan Bukti-bukti Sejarah
Penutup
Maka, ketika kita merayakan maulid hari ini—di masjid dengan pembacaan Barzanji, di rumah dengan tahlil, atau di jalan dengan arak-arakan—kita sebenarnya sedang melanjutkan jejak panjang sejarah. Jejak yang pernah dilalui Harun ar-Rasyid, disemarakkan Fatimiyah, dimeriahkan rakyat Irak, disinari lentera Turki, dan diperdebatkan ulama-ulama besar.
Di atas semua perbedaan itu, satu hal tetap nyata: maulid adalah bahasa cinta umat kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Cinta itu kadang berupa syair, kadang berupa lentera, kadang berupa sedekah madu, kadang hanya berupa air mata yang jatuh diam-diam ketika shalawat terucap di bibir.
Dan seperti kata seorang penyair sufi: “Setiap hari adalah maulid, bila cinta pada Nabi lahir kembali di hati kita.” []
Sumber: Abdul Hadi, Islam, Cakrawala Estetika dan Budaya, Pustaka Firdaus
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
