Pasai Pintu Gerbang dan Pusat Mazhab Syafi‘i di Nusantara Nusantara

Nasrulloh Baksolahar
7 Min Read
Foto: Freepik

DI pesisir utara Sumatra, di tepian Selat Malaka yang ramai oleh kapal dagang dari India, Arab, hingga Cina, berdirilah sebuah kerajaan kecil yang kelak memainkan peran besar dalam sejarah Islam Nusantara: Kesultanan Samudera Pasai. Didirikan pada abad ke-13 M oleh Sultan Malik al-Saleh, kerajaan ini bukan hanya negeri Islam pertama yang mapan di Nusantara, tetapi juga menjadi pusat pengajaran Mazhab Syafi‘i, mazhab fiqh yang hingga hari ini dianut mayoritas Muslim di Indonesia dan Asia Tenggara.

Jejak Awal dan Hubungan dengan Dunia Islam

Sultan Malik al-Saleh wafat pada tahun 1297 M. Putranya, Sultan Malik al-Zahir, melanjutkan kepemimpinan dengan tekun mengembangkan syariat Islam di negerinya. Gelar “Sultan” yang digunakan di Pasai bukan sembarangan; ia menandakan hubungan simbolis dengan pusat-pusat kekuasaan Islam di Timur Tengah, khususnya Kesultanan Mamluk di Mesir. Pada masa itu, Mesir adalah benteng dunia Islam dan juga tempat berkembangnya mazhab Syafi‘i, karena di sanalah Imam al-Syafi‘i dimakamkan dan murid-muridnya melanjutkan tradisi keilmuan.

Dengan demikian, penggunaan gelar dan sistem hukum di Pasai mencerminkan upaya mengaitkan legitimasi kerajaan dengan otoritas peradaban Islam global. Pasai bukan kerajaan kecil yang menutup diri, melainkan sebuah negeri maritim yang sadar betul bahwa Islam yang dianutnya harus bersambung dengan pusat-pusat ilmu dunia Islam.

BACA JUGA: Gejolak Kerajaan dan Perdagangan di Nusantara Saat Rasulullah ﷺ Wafat

Mazhab Syafi‘i Menjadi Jalan Hidup

Sejak awal berdirinya, Pasai menjadikan Mazhab Syafi‘i sebagai pegangan resmi dalam fiqh. Ada tiga faktor utama mengapa mazhab ini mengakar kuat di Pasai. Pertama, jalur perdagangan. Kapal-kapal dari Gujarat, Yaman, dan Arab membawa ulama yang bermazhab Syafi‘i, mazhab yang saat itu mendominasi Mekah dan Madinah. Kedua, kitab-kitab fiqh. Naskah-naskah seperti al-Muharrar, al-Majmu‘, dan Fath al-Qarib masuk ke Pasai dan menjadi kurikulum di madrasah kerajaan. Ketiga, lembaga hukum. Pasai memiliki seorang qadhi malik al-‘adil, hakim agung kerajaan, yang bermazhab Syafi‘i. Mereka tidak hanya memutus perkara hukum, tetapi juga menjadi penjaga ortodoksi agama.

Sejarawan Ibnu Battutah yang singgah ke Pasai pada abad ke-14 menulis, “Sultan Malik al-Zahir adalah seorang yang sangat alim dalam mazhab Syafi‘i, ia mencintai fuqaha dan memuliakan mereka. Di negerinya, hukum ditegakkan sesuai mazhab Syafi‘i.” Catatan ini menegaskan bahwa Pasai sejak awal berdiri bukan hanya menegakkan syariat, tetapi melakukannya dalam kerangka mazhab Syafi‘i yang ketat dan ilmiah.

Jaringan Intelektual dari Mekah ke Pasai

Pasai tidak berdiri sendiri. Menurut Azyumardi Azra, kerajaan ini menjadi bagian dari jaringan ulama internasional yang menghubungkan Nusantara dengan Mekah, Madinah, hingga Kairo. Ulama Pasai rutin menunaikan haji dan menimba ilmu di Hijaz, lalu kembali ke tanah air dengan membawa otoritas keilmuan dan kitab-kitab terbaru. Pasai, tulis Azra, ibarat sebuah relay station, stasiun antara, yang menghubungkan Timur Tengah dengan dunia Melayu-Nusantara.

Sejarawan Jajat Burhanudin menambahkan, Pasai adalah bukti bahwa Islam di Nusantara sejak awal tidak hadir sebagai “Islam kampung halaman” yang terputus dari pusat peradaban, tetapi justru Islam berjejaring yang terhubung dengan dinamika besar dunia Islam. Mazhab Syafi‘i menjadi jalan yang menyatukan perbedaan etnis dan bahasa, mengikat pedagang Gujarat, ulama Yaman, dan bangsawan Aceh dalam satu kerangka hukum.

Dari Pasai ke Jawa: Jejak Wali Sanga

Dari Pasai, pengaruh mazhab Syafi‘i merembes ke seluruh Nusantara. Salah satu jalurnya adalah melalui Wali Sanga di Jawa.

Riwayat menyebut Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) sempat bermukim di Pasai sebelum hijrah ke Jawa. Ia menikah dengan keluarga bangsawan Pasai, yang memperlihatkan kedekatan politik sekaligus intelektual. Dari Pasai pula ia membawa ajaran fiqh Syafi‘i yang kelak menjadi dasar dakwahnya di Gresik.

Lebih jelas lagi, Maulana Ishaq — ayah dari Sunan Giri — disebut pernah belajar di Pasai. Setelah itu ia berdakwah ke Blambangan, menikahi putri raja setempat, dan dari perkawinannya lahirlah Raden Paku (Sunan Giri).

Sunan Giri sendiri belajar langsung di Pasai. Nama kecilnya, Jaka Samudra, diduga merujuk pada Samudera Pasai, tempat ia menimba ilmu fiqh Syafi‘i. Setelah berhaji ke Mekah, ia kembali ke Jawa dan mendirikan Pesantren Giri di Gresik. Pesantren ini tidak hanya menjadi pusat ilmu, tetapi juga pusat legitimasi politik: dari Demak hingga Mataram, semua kerajaan Islam Jawa mencari restu dari Giri. Dengan demikian, rantai transmisi mazhab Syafi‘i dari Pasai ke Jawa sangat nyata.

Ada pula tradisi yang menyebut Sunan Bonang pernah singgah dan berguru di Pasai. Ia dikenal sebagai wali yang mendalami tasawuf dan fiqh, serta menyerap tradisi intelektual yang berakar dari Samudera.

Dari Pasai ke Makassar dan Banten

Pengaruh Pasai tidak berhenti di Jawa. Ulama besar seperti Syekh Yusuf al-Makassari juga tercatat pernah menimba ilmu di Pasai, sebelum melanjutkan perjalanan intelektualnya ke Mekah dan Madinah. Sekembalinya, ia menjadi penasihat spiritual Kesultanan Banten dan penyebar fiqh Syafi‘i di Makassar dan Afrika Selatan. Jejaknya menunjukkan betapa Pasai menjadi simpul penting dalam jaringan ulama lintas benua.

BACA JUGA:  Saat Perang Salib Usai, Apa yang Terjadi di Nusantara?

Hikayat, Naskah, dan Ingatan Kolektif

Naskah Hikayat Raja-raja Pasai menegaskan bahwa hukum Syafi‘i menjadi dasar kehidupan politik dan sosial. Hikayat ini bukan sekadar dongeng istana, melainkan cermin bagaimana masyarakat memandang kerajaan sebagai penjaga syariat. Dari hikayat itulah kita menangkap kesan: Pasai adalah kerajaan ilmu, bukan hanya kerajaan dagang.

Refleksi: Pasai sebagai Pintu Besar

Dari pelabuhan kecil di Aceh Utara, Islam mazhab Syafi‘i menyebar ke Malaka, Jawa, Makassar, hingga ke pelosok Nusantara. Pasai adalah pintu besar, tempat Islam masuk dengan keilmuan, bukan sekadar ritual. Ia menjadi bukti bahwa Islam di Nusantara sejak awal terhubung dengan pusat peradaban, tidak hadir dalam kekosongan intelektual.

Ketika hari ini kita mendengar mayoritas Muslim Indonesia mengaji kitab Fath al-Qarib atau Taqrib, kita seolah sedang mendengar gema dari Pasai berabad-abad lalu. Di situlah sejarah membentuk identitas: Islam Nusantara yang Syafi‘i, maritim, sekaligus kosmopolitan. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *