Shafiyah dan Zubair: Didikan Seorang Ibu, Tumbuhlah Sang Ksatria Penolong Rasulullah ﷺ

Dini Koswarini
5 Min Read
Foto: Freepik

Seri Pendidikan Anak

SEJARAH Islam tidak hanya ditulis dengan tinta, melainkan juga dengan darah, air mata, dan doa. Di balik nama-nama besar para sahabat, ada sosok-sosok perempuan yang mendidik mereka dengan keteguhan iman. Salah satunya adalah Shafiyah binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah ﷺ, sekaligus ibu dari Zubair bin Awwam—sahabat yang kelak dijuluki Hawari Rasulullah (penolong setia Nabi).

Kisah keduanya laksana dua mata rantai: seorang ibu yang menempa, dan seorang anak yang mengemban. Dari rahim keberanian Shafiyah lahirlah Zubair yang gagah berani, hadir di hampir seluruh peperangan penting umat Islam.

—

Didikan Sejak Kecil

Riwayat mencatat bahwa Shafiyah mendidik Zubair dengan ketegasan luar biasa. Orang-orang Quraisy bahkan sering berkata, “Engkau terlalu keras kepada anakmu.” Namun, Shafiyah menjawab dengan kalimat yang abadi: “Aku mendidiknya dengan keras agar kelak ia menjadi pemberani, bukan pengecut yang hina.”

Ia tidak ingin putranya tumbuh dalam kelembekan. Ia menyiapkan Zubair menghadapi kehidupan yang keras, sebab ia tahu Islam akan menuntut pengorbanan. Maka sejak kecil, Zubair dilatih menanggung beban, menghadapi sakit, dan menahan lapar. Didikan ini kelak membentuk seorang pemuda yang tak gentar menatap pedang musuh.

—

Badar: Keberanian Pertama

Ketika Perang Badar meletus (2 H), Zubair masih muda belia, namun sudah berdiri di barisan depan. Rasulullah ﷺ menugaskannya menghadapi pasukan Quraisy yang menunggang kuda. Dengan ketangkasan dan keberanian, ia berhasil menumbangkan beberapa tokoh penting musyrikin, termasuk Ubay bin Khalaf.

Darah keberanian yang ditanamkan Shafiyah sejak kecil kini berbuah. Anak yang dulu ditempa dengan disiplin keras kini tampil sebagai pahlawan di medan jihad pertama umat Islam.

—

Uhud: Keteguhan Ibu dan Anak

Tahun berikutnya, Perang Uhud meletus. Di sinilah kisah Shafiyah dan Zubair bertemu dalam satu panggung sejarah.

Zubair, bersama sahabat lain, menjadi tameng hidup Rasulullah ﷺ ketika barisan Muslim kacau akibat serangan balik Quraisy. Ia tetap tegak melindungi Nabi dengan pedang terhunus.

Sementara itu, ibunya, Shafiyah, juga hadir di Uhud. Bukan sebagai pejuang bersenjata, melainkan sebagai penopang semangat. Ketika mendengar pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib, gugur dan tubuhnya dimutilasi, Shafiyah datang dengan hati tegar. Ia berkata, “Segala musibah ini ringan, selama Rasulullah masih selamat.”

Ucapan ini bukan sekadar kata penghibur. Ia menanamkan kepada seluruh kaum Muslimin: keselamatan Nabi lebih utama daripada duka pribadi.

Betapa indah harmoni ini: di medan yang sama, seorang ibu menguatkan umat dengan keteguhan lisannya, sementara anaknya menguatkan Nabi dengan pedang dan keberanian.

—

Khandaq: Ketajaman Tombak, Keberanian Ksatria

Perang Khandaq (5 H) juga mencatat kiprah keduanya. Rasulullah ﷺ mengutus Zubair menyelidiki pergerakan Quraisy. Tugas itu penuh risiko, tapi ia kembali dengan laporan yang menyelamatkan pasukan. Nabi ﷺ bersabda: “Setiap nabi memiliki seorang hawari (penolong setia). Dan hawariku adalah Zubair.” (HR. Bukhari-Muslim)

Sementara itu, di benteng tempat para wanita dan anak-anak berlindung, Shafiyah menunjukkan keberaniannya sendiri. Seorang mata-mata Yahudi menyelinap, mencoba mencari celah pertahanan. Para lelaki tua yang menjaga benteng ketakutan. Namun Shafiyah tidak ragu—ia mengambil tombak dan menghujamkan ke tubuh mata-mata itu hingga tewas.

Sejarawan menulis: peristiwa ini membuktikan bahwa keberanian Zubair bukanlah kebetulan. Ia adalah cermin yang memantulkan keberanian ibunya.

—

Dari Khaibar hingga Yarmuk

Zubair terus mengiringi Rasulullah ﷺ dalam banyak peperangan: Khaibar, Fath Makkah, Hunain. Setelah wafat Nabi, ia masih melanjutkan jihadnya di masa Khulafaur Rasyidin. Di Perang Yarmuk melawan Romawi, ia menembus barisan musuh sendirian, menunjukkan nyali luar biasa yang mengguncang moral lawan.

Setiap helaan pedangnya mengingatkan kita pada pesan Shafiyah: keberanian bukanlah pilihan, melainkan kewajiban untuk menjaga kehormatan agama.

—

Refleksi: Ibu sebagai Sekolah Pertama

Kisah Shafiyah dan Zubair memberi kita pelajaran berharga. Pendidikan anak laki-laki bukan sekadar memenuhi kebutuhan fisiknya, tetapi menyiapkannya menghadapi akil baligh sebagai fase taklif. Seorang ibu berperan besar dalam membentuk karakter itu.

Shafiyah tidak sekadar berkata-kata, ia memberi teladan nyata: tegar menghadapi duka, berani menghadapi musuh, mendahulukan agama di atas segalanya. Zubair tumbuh meneladaninya, hingga pantas mendapat gelar Hawari Rasulullah ﷺ.

BACA JUGA:  Menyambut Kelahiran Bayi: Belajar pada Bunda Aminah dan Abdul Muthalib

Hari ini, ketika kita mendidik anak laki-laki, kisah ini seakan berbisik: jangan takut mendidik dengan ketegasan, jangan takut menanamkan keberanian. Sebab dunia akan menuntut mereka berdiri tegak, bukan sekadar pintar berteori.

—

Penutup

Dari balik bayang-bayang sejarah, suara Shafiyah masih terdengar: “Aku ingin menjadikannya pemberani, bukan pengecut.”

Dan dari medan jihad, gema sabda Rasulullah ﷺ tentang putranya masih terngiang: “Hawariku adalah Zubair.”

Dua kalimat, dua generasi, satu garis lurus: keberanian yang lahir dari iman. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *