DALAM sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.”
Hadits ini memberikan pesan yang sangat jelas bahwa ukuran kebaikan seseorang bukan hanya pada ibadah individual seperti shalat, puasa, atau dzikir semata, tetapi juga pada sejauh mana ia mampu memberi manfaat bagi orang lain. Islam menempatkan hubungan sosial sebagai bagian yang sangat penting dalam kesempurnaan iman seorang muslim.
Islam Mendorong Umatnya untuk Bermanfaat
Agama Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, yaitu rahmat bagi seluruh alam. Rahmat itu salah satunya diwujudkan melalui perilaku baik seorang muslim kepada sesama manusia. Rasulullah ﷺ sendiri adalah teladan terbaik dalam hal ini. Beliau tidak hanya mengajarkan tauhid, tetapi juga mendidik umat agar peduli terhadap fakir miskin, anak yatim, tetangga, hingga orang non-Muslim yang hidup berdampingan.
BACA JUGA: Adab Sebelum Ilmu, Mengapa?
Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang senantiasa berusaha memberikan manfaat bagi orang lain. Bentuk manfaat tersebut bisa berupa ilmu, harta, pertolongan tenaga, nasihat, bahkan sekadar senyum yang menenangkan hati saudaranya.
Kebaikan Sosial sebagai Ukuran Keimanan
Ibadah kepada Allah dan kebaikan kepada manusia adalah dua hal yang saling melengkapi. Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang siapa orang yang paling dicintai Allah. Beliau menjawab: “Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani)
Hal ini selaras dengan penjelasan Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin, bahwa tanda iman yang benar adalah ketika seorang hamba mampu menghadirkan kebaikan, baik dalam hubungan vertikal dengan Allah maupun horizontal dengan manusia. Maka, seorang muslim yang baik tidak mungkin merugikan orang lain dengan lisannya, tindakannya, maupun hartanya.
Pandangan Ulama tentang Kebaikan kepada Sesama
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata: “Berbuat baiklah kepada manusia, karena manusia itu adalah hamba Allah. Maka, orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada hamba-Nya.”
Sementara itu, Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebutkan bahwa berbuat baik kepada sesama adalah wujud nyata dari akhlak mulia. Menurut beliau, akhlak yang baik akan menjadi jalan bagi seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah, bahkan bisa lebih utama daripada banyak ibadah sunnah yang hanya berorientasi pada individu.
Hikmah yang Bisa Kita Ambil
Dari hadits ini, jelaslah bahwa ukuran kemuliaan seorang muslim bukanlah pada penampilan luar atau banyaknya ritual semata, tetapi sejauh mana ia bisa membawa kebaikan bagi lingkungannya. Orang yang hidupnya bermanfaat akan dikenang dengan kebaikan meskipun ia sudah tiada.
BACA JUGA: Mengapa Islam Mengharamkan Judi?
Kita bisa mulai dari hal-hal kecil: membantu tetangga yang kesusahan, menyantuni anak yatim, menyebarkan ilmu yang bermanfaat, atau sekadar memberi nasihat yang menenangkan hati. Semua itu akan dicatat Allah sebagai amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
Penutup
Hadits “Sebaik-baik manusia adalah yang berbuat baik kepada sesamanya” adalah pengingat bagi kita bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri.
Keberadaan kita seharusnya menjadi sumber manfaat bagi keluarga, tetangga, masyarakat, bahkan bagi alam semesta. Dengan begitu, kita dapat meraih cinta Allah dan kedudukan yang mulia di sisi-Nya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
