“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?
Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakal sehatlah yang dapat menerima pelajaran.”
(QS. Az-Zumar: 9)
AYAT ini seakan mengetuk hati setiap orang tua, khususnya seorang ayah. Ia adalah kepala keluarga, pemimpin kecil dalam rumahnya, dan teladan pertama bagi anak-anaknya.
Allah menegaskan, perbedaan orang berilmu dan yang tidak berilmu adalah perbedaan hidup dan mati, cahaya dan kegelapan. Maka seorang ayah tidak bisa hanya berbekal semangat, tetapi harus punya dasar ilmu untuk mendidik.
Ibn Katsir menafsirkan ayat ini dengan tegas: orang berilmu ialah yang malamnya dihidupi doa, tilawah, dan renungan. Ilmu bukan sekadar hafalan data, melainkan jalan menuju pengenalan Allah.
Sayyid Qutb pun menambahkan: ilmu sejati adalah kesadaran eksistensial, mengenal diri dan posisi di hadapan Tuhan. Buya Hamka memperhalusnya, bahwa ilmu itu harus melahirkan rendah hati dan takut kepada Allah.

Sementara Quraish Shihab menegaskan, pengetahuan yang tidak menumbuhkan ruh hanyalah kesombongan kosong.
Seakan mereka semua bersuara serempak: ayah, jadilah orang berilmu yang membimbing anak-anakmu.
—
1. Pengetahuan Agama: Cahaya yang Menuntun
Abu Nashihah Ulwah dalam Tarbiya al-Aulad menulis, fondasi utama pendidikan anak adalah agama. Ayah harus menanamkan tauhid, shalat, akhlak, dan adab sejak kecil. Seperti tanah subur yang ditanami bibit terbaik, hati anak harus diisi dengan kalimat Lā ilāha illallāh sebelum dunia membisikkan godaannya.
Yusuf al-Qaradawi mengingatkan, pendidikan agama bukan ritual kering. Ia adalah ruh yang mengarahkan hidup. Anak diajak mencintai Rasulullah ﷺ, memahami halal dan haram, serta merasakan manisnya ibadah.
Seorang ayah yang abai pada dasar ini mungkin berhasil membuat anaknya cerdas secara intelektual, namun akan kehilangan cahaya batin. Ia tumbuh menjadi kapal tanpa kompas, pandai berlayar tetapi tak tahu ke mana berlabuh.
—
2. Pengetahuan Bahasa: Jembatan Iman dan Peradaban
Bahasa adalah pintu menuju ilmu. Abu Nashihah Ulwah menekankan, seorang ayah harus memperhatikan kemampuan bahasa anak. Dari bahasa ibu, anak belajar mencintai; dari bahasa Qur’an, anak belajar menyembah; dari bahasa masyarakat, anak belajar hidup bersama.
Qaradawi menambahkan: tanpa bahasa Arab, sulit bagi anak memahami Al-Qur’an dan hadis secara langsung. Namun, di sisi lain, bahasa asing modern juga penting, agar anak bisa terhubung dengan dunia. Bahasa menjembatani iman dengan peradaban.
Seorang ayah yang membekali anaknya bahasa ibarat membekali kunci. Anak bisa membuka pintu ilmu, pintu budaya, bahkan pintu hati manusia. Bukankah Rasulullah ﷺ pun memerintahkan sebagian sahabat untuk belajar bahasa asing agar umat Islam tidak terasing?
—
3. Pengetahuan Mendidik: Seni Menyentuh Fitrah
Seorang ayah tidak cukup menjadi pencari nafkah; ia adalah murabbi, pendidik sejati. Abu Nashihah Ulwah menulis, mendidik berarti menumbuhkan fitrah dengan kasih sayang, keteladanan, konsistensi, dan nasihat yang lembut.
Qaradawi menegaskan, anak tidak bisa dididik dengan cara seragam. Usia mereka berbeda, jiwa mereka unik. Ada waktunya kelembutan, ada saatnya ketegasan. Mendidik bukan memerintah, melainkan mengarahkan.
Bayangkan seorang ayah yang hanya pandai memerintah: “Shalatlah! Belajarlah! Jangan nakal!” Anak mungkin menurut, tapi hatinya kosong. Lain halnya dengan ayah yang mencontohkan: ia shalat tepat waktu, ia membaca, ia berlaku sopan. Anak melihat, lalu meniru. Inilah seni mendidik—lebih banyak ditangkap dari teladan, bukan hanya didengar dari kata.
—
4. Pengetahuan Kontemporer: Menapaki Zaman dengan Iman
Abu Nashihah Ulwah mengingatkan, seorang ayah tidak boleh buta zaman. Anak hidup di dunia yang berubah cepat. Teknologi, ekonomi, budaya, semuanya terus bergerak.
Yusuf al-Qaradawi menekankan: anak harus dipersiapkan menghadapi dunia modern, namun tetap berpegang pada syariat. Ilmu kontemporer adalah bekal agar anak tidak terasing di zamannya, tetapi ilmu agama adalah jangkar agar ia tidak terhanyut.
Ayah yang bijak mengajarkan anaknya dua hal sekaligus: bagaimana menjadi manusia modern yang relevan, dan bagaimana tetap menjadi hamba Allah yang taat. Ia tidak menutup mata pada teknologi, tapi juga tidak membiarkan teknologi menghapus nilai.
—
Warisan Abadi: Ilmu yang Menumbuhkan Generasi
Seorang ayah yang hanya meninggalkan harta, membuat anaknya kaya untuk sementara. Tapi seorang ayah yang meninggalkan ilmu—agama, bahasa, seni mendidik, dan wawasan zaman—telah membekali anak untuk bertahan sepanjang hayat.
Agama memberi arah.
Bahasa membuka pintu.
Pedagogi menumbuhkan fitrah.
Pengetahuan kontemporer menjaga relevansi.
Keempat dasar ini menyatu, seperti empat pilar yang menegakkan rumah. Jika satu rapuh, bangunan bisa miring. Tapi jika semua kokoh, rumah akan melindungi penghuninya dalam segala musim.
BACA JUGA: Mendidik Anak Lewat Makanan yang Tak Disukainya
Refleksi: Ayah dan Cahaya Ilmu
Bayangkan seorang anak berjalan di jalan gelap. Ia membawa lentera kecil, tetapi angin terus meniup api. Siapa yang menuntunnya? Ayahnya. Tangan sang ayah yang berilmu akan melindungi lentera itu, agar cahaya tetap menyala sampai anak cukup dewasa untuk menjaganya sendiri.
Maka benar firman Allah dalam Az-Zumar: orang berilmu dan tidak berilmu tidaklah sama. Ilmu seorang ayah bukan sekadar pengetahuan, melainkan cahaya hidup. Tanpa cahaya itu, anak akan tersesat di kegelapan dunia.
Ayah bukan hanya pencari nafkah. Ia adalah penjaga cahaya, penanam benih iman, jembatan bahasa, seniman mendidik, dan pengarah langkah anak menapaki zaman.
Dan kelak, ketika ayah sudah tiada, cahaya itu tetap menyala di dada anak-anaknya—sebagai warisan abadi yang tak pernah lekang. []
Sumber: Adil Fathi Abdullah, Menjadi Ayah yang Sukses, GIP
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

