BAYANGKAN sebuah pelabuhan tua di Aceh pada abad ke-15. Kapal-kapal dagang dari Gujarat, Hadhramaut, dan Arab berlabuh, membawa rempah, kain, dan kitab-kitab kuning. Di serambi masjid, para ulama berdiskusi tentang tafsir dan tasawuf, sementara para pedagang menukar berita dari Mekah, Madinah, bahkan Istanbul. Dari ruang-ruang semacam inilah, Islam di Nusantara tidak sekadar tumbuh sebagai identitas ritual, tetapi sebagai jaringan keilmuan yang menyambungkan kampung nelayan di Aceh, pesantren di Jawa, hingga menara al-Azhar di Kairo.
Sejarawan Anthony Reid dalam Southeast Asia in the Age of Commerce menegaskan bahwa dunia Melayu-Islam adalah “jaringan kosmopolitan” yang tak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terhubung: lewat laut, lewat guru, lewat kitab, lewat haji. Maka ketika penjajah Eropa datang membawa meriam dan kapal dagang, mereka berhadapan bukan dengan negeri-negeri terisolasi, melainkan dengan jaringan ulama dan kesultanan yang punya akar global.
—
Surat, Cenderamata, dan Kitab sebagai Tali Ikatan
Jaringan itu berwujud nyata dalam berbagai bentuk. Surat-menyurat antara sultan Aceh dengan Khalifah Utsmani menunjukkan bagaimana kesultanan di ujung barat Nusantara merasa bagian dari dunia Islam yang luas. Ketika Sultan Alauddin Riayat Syah menulis kepada Sultan Turki Utsmani, ia meminta perlindungan sekaligus mengirim hadiah berupa rempah-rempah. Sebagai balasan, ia menerima kiriman meriam dan penasihat militer. Di sinilah kita melihat bahwa hubungan politik selalu ditopang oleh ikatan ruhani.
Kitab-kitab fiqh Syafi’i dan risalah tasawuf datang dari Mekah, dibawa para haji dan pedagang. Peralatan ibadah seperti mushaf indah, tasbih, hingga cenderamata dari Haramain menjadi simbol ikatan hati. Pertemuan ulama di Masjidil Haram mengikat mereka dalam komunitas Jawi—istilah yang diberikan untuk para penuntut ilmu dari Nusantara. Mereka belajar pada guru yang sama, membaca kitab yang sama, lalu membawa pulang semangat jihad dan dakwah yang sama.
BACA JUGA: Pengaruh Al-Ghazali terhadap Kitab-kitab dan Suluk di Nusantara
Aceh: Sanad yang Menjadi Pijakan Politik
Di Kesultanan Perlak dan Samudera Pasai, ulama Arab dan Gujarat menanamkan benih awal Islam. Syekh Abdullah Arif dan murid-muridnya menjadi pelopor. Ketika Malik al-Saleh mendirikan Samudera Pasai, dayah dan surau berkembang, melahirkan generasi ulama.
Puncak peran ulama tampak di Aceh Darussalam. Syekh Hamzah Fansuri mengajarkan tasawuf dengan bahasa Melayu yang puitis, sementara murid-muridnya seperti Syekh Abdurrauf as-Singkili menuntut ilmu 19 tahun di Mekah dan Madinah. Di sana ia berguru pada Syekh Ahmad al-Qusyasyi dan Syekh Ibrahim al-Kurani. Sanad fiqh Syafi’i dan thariqah Syattariyah yang ia bawa pulang, menjadikannya bukan hanya mufti, tetapi penopang politik kesultanan. Ia menyusun hukum Islam, menasihati sultan, sekaligus membangun jaringan dayah yang mengikat Sumatra dan Semenanjung.
Kisahnya menunjukkan: sanad keilmuan tidak berhenti di mushaf, tetapi menjelma menjadi legitimasi politik. Kesultanan berdiri tegak bukan semata karena pedang, tetapi karena otoritas moral ulama.
—
Jawa: Wali Songo dan Bahasa Politik Baru
Di Jawa, Islam menemukan jalannya melalui akulturasi. Wali Songo membuktikan bahwa sanad tidak hanya tersimpan dalam kitab, tetapi juga dalam budaya. Sunan Bonang menulis ajaran tasawuf dalam tembang Jawa, Sunan Kalijaga berdakwah lewat wayang, sementara Sunan Gunung Jati membangun Cirebon sebagai pusat dakwah sekaligus kesultanan.
Sunan Gunung Jati punya hubungan keilmuan dengan ulama Mekah. Ia memadukan gelar keagamaan dengan gelar politik, menjadikan pesantren sebagai basis kaderisasi. Cirebon dan Demak lalu tumbuh bukan sekadar kerajaan, tetapi poros yang mengikat Jawa dan Sunda dalam satu visi Islam.
Sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya menulis: “Islam di Jawa bukan hanya agama rakyat, tapi juga bahasa politik baru.” Bahasa itu mewujud dalam gelar “sultan,” dalam istilah “nagari Islam,” dalam tata hukum yang berakar pada fiqh Syafi’i.
Ketika Portugis merebut Malaka, jaringan ini memungkinkan Demak, Cirebon, Banten, hingga Maluku merasa punya musuh yang sama. Dakwah dan politik berpadu menjadi strategi.
—
Banjar, Gowa, dan Buton: Ulama Sebagai Penjalin Timur
Di Kalimantan, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah teladan bagaimana ulama menjadi jembatan global. Ia belajar tiga puluh tahun di Mekah-Madinah, berguru pada Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi. Karyanya Sabilal Muhtadin menjadi kitab fiqh yang dipakai di seluruh Asia Tenggara. Banjar pun menjadikan ulama sebagai dasar hukum kesultanan.
Di Sulawesi, tiga ulama Minangkabau—Datuk ri Bandang, Datuk Patimang, Datuk ri Tiro—membawa Islam dari Aceh ke Gowa. Jaringan itu mengikat Sumatra dan Sulawesi. Kelak, lahirlah Syekh Yusuf al-Makassari, murid Haramain yang mendapat ijazah tarekat Khalwatiyah, Qadiriyah, dan Syattariyah. Ia kembali ke Nusantara bukan hanya sebagai guru, tetapi juga pejuang. Di Banten, ia memimpin perlawanan melawan VOC, hingga akhirnya diasingkan ke Afrika Selatan. Namun ajarannya tetap hidup, menyulut api jihad di pesantren dan masyarakat.
Di Buton, Islam masuk pada 1542 ketika Sultan Murhum memeluk Islam. Gelar-gelar Islam mulai dipakai, struktur kerajaan diubah sesuai syariat, dan ulama Arab serta Bugis menjadi penopang dakwah. Buton lalu menjalin ikatan erat dengan Ternate dan Gowa, membentuk front Islam di kawasan timur.
—
Thariqah dan Pesantren: Dua Sayap Jaringan
Sanad fiqh dan thariqah melahirkan dua kekuatan. Dari fiqh, lahir kesamaan hukum dan tata cara. Dari thariqah, lahir kesatuan hati dan semangat jihad.
Thariqah Syattariyah, Qadiriyah, Khalwatiyah, dan Naqsyabandiyah mengikat para ulama di seluruh kepulauan. Mereka punya guru yang sama, wirid yang sama, ijazah yang sama. Dengan itu, semangat jihad melawan penjajah menjadi satu suara.
Pesantren dan dayah menjadi markasnya. Di Banten, santri belajar kitab kuning pada siang hari dan berlatih bela diri pada malam hari. Di Jawa, pesantren-pesantren Wali Songo menjadi basis kaderisasi. Di Minangkabau, surau-surau melahirkan ulama yang kelak berguru ke Mekah.
Michael Laffan menyebut ini sebagai Islamic cosmopolitanism—kosmopolitanisme Islam—yang justru melahirkan identitas perlawanan ketika berhadapan dengan kolonialisme.
—
Komunitas Jawi di Mekah: Jantung Jaringan Global
Jangan lupa: semua ikatan ini berpusat di Haramain. Di Mekah, ada satu komunitas yang disebut Jawi—yakni jamaah dari Nusantara. Mereka saling mengenal, belajar pada guru yang sama, bahkan tinggal di pemondokan yang sama. Di sana, ulama-ulama seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, dan Syekh Abdurrauf as-Singkili menimba ilmu dan mengajar.
Komunitas Jawi adalah cermin: Nusantara bukan pinggiran, tetapi bagian dari jantung dunia Islam. Apa yang diputuskan di Mekah akan bergema hingga ke Banten, Banjar, Gowa, dan Buton.
BACA JUGA: Hikayat, Kropak, Babad, dan Suluk: Jejak Tulisan Nusantara dalam Arus Sejarah
Refleksi: Kekuatan Sanad, Kekuatan Jiwa
Kalau kita tarik garis panjang, kita melihat satu pola: kesultanan dan perlawanan di Nusantara bertumpu pada jaringan ilmu. Surat-surat antar sultan, kitab-kitab dari Mekah, cenderamata dari Haramain, komunitas Jawi, hingga pesantren dan thariqah—semuanya adalah simpul yang mengikat hati, pikiran, dan strategi.
Sejarawan Azyumardi Azra menegaskan dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara: “Sanad keilmuan menjadi tulang punggung terbentuknya jaringan ulama yang kemudian berperan dalam gerakan perlawanan terhadap kolonialisme.”
Maka, ketika Portugis menyerang Malaka, Demak dan Aceh merasa satu tubuh. Ketika VOC menekan Banten, ulama Gowa dan Minangkabau menyambungkan perlawanan. Jaringan ini yang membuat Islam di Nusantara tidak pernah benar-benar bisa ditaklukkan.
Buya Hamka pernah berkata: “Penjajah dapat menguasai tanah air, tetapi tidak pernah dapat menguasai jiwa.” Jiwa itu terpelihara karena sanad, karena pesantren, karena thariqah yang mengikat lintas generasi.
Hari ini, pertanyaannya adalah: apakah kita masih menjaga jaringan itu? Apakah pesantren kita masih menyambung sanad keilmuan global? Apakah komunitas Muslim di tanah air masih merasa bagian dari komunitas dunia?
Sejarah memberi jawaban: kekuatan kita ada pada ilmu, pada ulama, pada sanad yang menyatukan. Dan bila hari ini kita ingin bangkit kembali, maka kuncinya tetap sama—menyatukan ilmu dengan iman, pesantren dengan masyarakat, dan jaringan lokal dengan global. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
