Asal Usul Kota Makassar Menurut Lontara Patturioloang ri Tugowaya

Nasrulloh Baksolahar
8 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

DI  setiap kota besar Nusantara, selalu ada kisah awal yang diselimuti antara sejarah dan legenda, antara fakta yang tercatat dan jejak yang hidup di dalam ingatan kolektif rakyatnya. Begitu pula dengan Makassar. Kota pelabuhan yang kini menjadi gerbang timur Indonesia ini, dalam memori masyarakatnya, tidak lahir semata dari perdagangan dan pertemuan peradaban, tetapi dari sebuah peristiwa spiritual yang diyakini sebagai titik balik: perjumpaan Raja Tallo dengan seorang ulama Minangkabau dan dengan penjelmaan Rasulullah ﷺ.

Cerita ini terekam dalam Lontara Patturioloang ri Tugowaya, sebuah naskah sejarah Bugis-Makassar yang berfungsi bukan hanya sebagai catatan, tetapi juga cermin identitas. Ia menyajikan sebuah narasi tentang bagaimana Islam datang ke Makassar, bukan sekadar sebagai agama yang diajarkan, melainkan sebagai pengalaman ilahi yang mengguncang hati penguasa dan rakyatnya.

—

Kedatangan Sang Ulama dari Barat

Dikisahkan, pada awal abad ke-17, seorang alim dari Minangkabau bernama Abdul Makmur Khatib Tunggal berlayar menuju timur. Kapalnya tidak disebut sebagai kapal besar dagang atau armada kerajaan, melainkan digambarkan sebagai “perahu ajaib”—sebuah simbol bahwa perjalanan ini bukan semata perjalanan fisik, melainkan misi yang membawa cahaya langit.

Ketika perahu itu merapat di pelabuhan Tallo pada tahun 1605, orang-orang melihat sesuatu yang asing. Abdul Makmur turun, lalu menunaikan shalat di pinggir pantai. Gerakannya teratur, wajahnya khusyuk menghadap kiblat, dan bacaan yang keluar dari lisannya begitu mempesona. Bagi rakyat Tallo yang menyaksikan, inilah pertama kali mereka melihat ritual Islam dilakukan secara nyata. Mereka menyebutnya “orang ajaib”.

Berita itu cepat sampai ke telinga Raja Tallo, Malilingkaang Daeng Mannyonri, yang saat itu menjabat sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa I. Ia penasaran. Siapakah orang asing ini yang datang dengan cara berbeda, membawa amalan baru, dan memikat rakyat dengan sikapnya yang tenang?

—

Pertemuan di Gerbang Istana

Raja bergegas meninggalkan istananya, hendak menuju pantai. Namun sebelum tiba, di pintu gerbang halaman istana, ia dihentikan seorang tua misterius. Orang tua itu bertanya tentang tujuan sang raja, lalu dengan tenang menuliskan sesuatu di kuku ibu jari Raja Tallo. Setelah itu, ia menitipkan salam untuk orang ajaib di pantai.

Ketika Raja Tallo melanjutkan perjalanan dan bertemu dengan Abdul Makmur Khatib Tunggal, ia menyampaikan pesan itu. Khatib Tunggal terkejut, lalu meminta izin melihat apa yang dituliskan di kuku ibu jari sang raja. Ternyata, yang tertulis adalah surah al-Fatihah.

Seketika, Khatib Tunggal berkata dengan penuh haru: “Itulah tanda, orang tua yang engkau temui bukanlah manusia biasa. Ia adalah penjelmaan Rasulullah ﷺ sendiri, yang datang memberi salam.”

Peristiwa itu mengguncang hati Raja Tallo. Baginya, ini bukan sekadar pertemuan dengan seorang ulama, melainkan perjumpaan rohani dengan utusan Allah. Sejak saat itu, ia memeluk Islam, lalu menyebarkannya ke seluruh Makassar.

—

Makkasaraki Nabbi Muhammad

Rakyat Tallo memberi nama khusus pada pengalaman tersebut: Makkasaraki Nabbi Muhammad. Sebagian menafsirkannya sebagai “Nabi Muhammad menampakkan diri di Makassar.” Dari frase ini, lahirlah tafsir lain: bahwa nama “Makassar” sendiri berakar dari peristiwa tersebut—sebuah kota yang dimuliakan oleh jejak spiritual Nabi.

Bagi masyarakat, kisah ini bukan sekadar dongeng. Ia hidup dalam ritual ziarah, dalam sebutan keramat, dan dalam keyakinan bahwa Makassar memperoleh cahaya Islam langsung dari rahmat Nabi ﷺ.

—

Lokasi Sakral dan Makam Khatib Tunggal

Sampai hari ini, masyarakat masih menjaga tempat yang diyakini sebagai lokasi pertemuan Raja Tallo dengan penjelmaan Rasulullah ﷺ. Lokasinya berada di kawasan Tallo, di dekat bekas kompleks istana lama. Tempat itu dihormati sebagai situs keramat, menjadi tujuan ziarah, terutama saat bulan-bulan tertentu. Orang datang dengan doa, harapan, dan keyakinan bahwa tempat itu menyimpan berkah.

Adapun makam Abdul Makmur Khatib Tunggal berada di pusat Kota Makassar, tidak jauh dari pelabuhan. Makam itu masih terpelihara, dikelilingi pagar, dan sering diziarahi peziarah dari berbagai daerah. Batu nisannya sederhana, tetapi suasana di sekitarnya penuh wibawa. Di sana, orang Makassar mengenang sang ulama yang membawa Islam dengan kelembutan, bukan dengan pedang, melainkan dengan shalat yang teduh dan kata-kata yang menyentuh.

—

Sejarawan dan Tafsir Sejarah

Para sejarawan Nusantara memberikan pandangan yang beragam tentang kisah ini.

Naskah Lontara Patturioloang jelas memuat unsur mistis, tetapi di balik itu tersimpan makna mendalam: Islam tidak masuk ke Makassar melalui penaklukan, melainkan melalui pengalaman spiritual yang membuat penguasa tunduk hati.

Ahmad Sewang, sejarawan Islamisasi Sulawesi Selatan, menulis bahwa Dato Ri Bandang (gelar untuk Abdul Makmur) berperan penting dalam mengislamkan Raja Tallo dan Raja Gowa. Dengan masuk Islamnya dua kerajaan kembar itu, Islam cepat menyebar ke seluruh Sulawesi Selatan.

Sejarawan lain menekankan simbolisme pertemuan dengan Rasulullah ﷺ. Bagi mereka, kisah itu adalah cara orang Makassar meneguhkan keyakinan bahwa Islam yang mereka anut bukan bawaan bangsa asing, tetapi langsung mendapat pengakuan langit. Dengan demikian, legitimasi Islam di Makassar lebih kuat dibanding sekadar hasil dakwah biasa.

—

Refleksi: Antara Sejarah dan Iman

Bagi sebagian kalangan modern, kisah orang tua yang menulis al-Fatihah di kuku ibu jari mungkin dianggap legenda. Namun, yang penting bukanlah apakah itu dapat diverifikasi dengan bukti arkeologis, melainkan bagaimana kisah itu membentuk identitas masyarakat.

Makassar tumbuh sebagai kota pelabuhan kosmopolitan, tempat pertemuan pedagang, tentara, dan ulama dari berbagai dunia. Tetapi di tengah segala hiruk pikuk perdagangan, ia menyimpan inti spiritual: keyakinan bahwa lahirnya kota ini ditandai dengan cahaya Islam.

Kisah itu mengajarkan bahwa pertemuan pertama dengan Islam bukanlah perjumpaan dengan kekerasan, tetapi dengan doa, salam, dan shalat. Bahwa agama masuk bukan melalui penguasaan, tetapi melalui hati yang tersentuh.

—

Pesan untuk Hari Ini

Ketika kita melihat Makassar hari ini—dengan jalan-jalan ramai, gedung-gedung modern, dan pelabuhan yang terus sibuk—mudah lupa bahwa kota ini pernah lahir dari sebuah perjumpaan spiritual. Kisah Raja Tallo dan Khatib Tunggal mengingatkan kita: sebuah kota tidak hanya dibangun dari batu dan kayu, tetapi juga dari makna dan nilai.

Bahwa kekuasaan yang sejati tidak lahir dari senjata, tetapi dari hati yang rela menerima kebenaran. Bahwa Islam datang ke Nusantara bukan sebagai penjajah, tetapi sebagai cahaya yang mengisi ruang batin masyarakat.

Dan mungkin inilah warisan terbesar Lontara Patturioloang ri Tugowaya: ia mengajarkan kita untuk membaca sejarah bukan sekadar sebagai catatan peristiwa, tetapi sebagai refleksi spiritual tentang bagaimana Tuhan menuntun suatu bangsa menemukan jalannya.

BACA JUGA: Kesiapan Islam di Nusantara Saat Kedatangan Penjajah: dari Kesultanan, Ulama, dan Bahasa

Penutup

Kisah asal-usul Makassar menurut Lontara adalah kisah perjumpaan: perjumpaan raja dengan ulama, perjumpaan manusia dengan Nabi ﷺ, perjumpaan masyarakat dengan agama baru. Ia adalah peristiwa yang mengikat sejarah dengan iman, ruang dengan makna, dan kota dengan langit.

Hari ini, makam Abdul Makmur Khatib Tunggal masih berdiri, tempat pertemuan sakral masih diziarahi, dan nama Makassar terus disebut sebagai kota besar di timur Indonesia. Namun, di balik semua itu, tetap ada getar yang sama: bahwa sebuah kota yang besar lahir bukan dari pedang, melainkan dari doa.

Dan selama doa itu dijaga, Makassar akan selalu menjadi kota yang tidak hanya besar di mata manusia, tetapi juga mulia di mata sejarah. []

Sumber: Jajat Burhanudin, Islam Dalam Arus Sejarah Indonesia, Penerbit Kencana

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *