“PADI ini tidak lahir di tanah kami,” kata seorang tetua Sahu suatu ketika, “ia datang bersama doa seorang ulama dari Jawa, menempuh laut yang panjang, sembilan bulan lamanya.”
Cerita itu kerap diulang-ulang di rumah-rumah kayu Sahu, di lereng-lereng bukit yang menghadap laut Halmahera. Cerita yang sederhana, namun menyimpan getaran sejarah: bagaimana butir beras pertama kali hadir, bukan sekadar sebagai makanan, melainkan sebagai simbol peradaban.
—
Benih yang Dibawa Ombak
Sekitar abad ke-16, dunia Maluku bukan hanya pusat rempah, tetapi juga persinggahan gagasan, agama, dan budaya. Di tengah arus perdagangan itu, datanglah seorang ulama dari Jawa. Ia menyeberangi laut selama sembilan bulan—sebuah perjalanan yang pada masanya berarti menantang badai, lapar, dan maut. Di tangannya, ia membawa sesuatu yang tampak remeh: segenggam beras.
Beras itu tiba di istana Sultan Musterdam, Sultan Ternate kesembilan (1675–1680). Konon, Sultan menyambutnya bukan sekadar sebagai benih tanaman, tetapi sebagai benih kehidupan. Dari situlah ia menyuruh Sengaji Mir Ma Gar di Susupu untuk membagi benih itu ke wilayah Sahu, Talai, dan Padisua.
Tetua Sahu menceritakan bahwa sang ulama menggunakan peluru merah sebagai ukuran benih. Di pesisir, orang hanya diberi setengah ukuran, sementara di pedalaman tiga ukuran penuh. Mengapa demikian? “Karena tanah pedalaman butuh lebih banyak doa dan kerja keras,” kata orang tua-tua.
Dari Ladang ke Sejarah
Masyarakat Sahu percaya varietas padi pertama yang mereka kenal adalah ea kayeli, ea ngara siwor, dan sejenis ketan yang disebut kesere okono. Nama-nama itu masih bergema hingga tahun 1980-an, saat varietas tersebut tetap ditanam di ladang-ladang. Seolah setiap butirnya masih membawa aroma laut, doa, dan perjalanan panjang sang ulama Jawa.
Sejarawan Maluku, Adnan Amal, dalam bukunya Kepulauan Rempah-Rempah menulis bahwa perpindahan varietas pangan di Maluku sering kali terkait dengan mobilitas ulama, pedagang, dan migran dari Jawa maupun Arab. “Benih itu bukan sekadar benda biologis, melainkan bagian dari penyebaran Islam dan struktur sosial baru,” katanya. Dengan kata lain, padi di Halmahera bukan hanya makanan, melainkan simbol perubahan cara hidup.
—
Padi sebagai Lumbung dan Perintah Sultan
Bersama waktu, wilayah Sahu menjelma lumbung padi Kesultanan Ternate. Tetapi perubahan ini tidak datang tanpa konsekuensi. Dalam memori kolektif, masyarakat Sahu menyimpan kisah getir: perisai yang dulunya senjata perang, berubah menjadi tungku memasak; tombak yang dulunya alat bertahan, berubah menjadi pemaras rumput.
Sejarawan kolonial Belanda, François Valentijn (1724), mencatat bahwa produksi pangan di Halmahera sering dipaksa mengikuti kebutuhan politik. Sultan Ternate, dalam perlawanan dan persekutuannya melawan Belanda, membutuhkan stabilitas pangan. Maka, masyarakat Sahu diarahkan untuk menjadi petani padi, bahkan jika itu berarti meninggalkan peran mereka sebagai pejuang.
—
Laut, Ladang, dan Doa
“Padi itu adalah doa yang berwujud,” ujar seorang tokoh adat di Sahu ketika diwawancarai antropolog Indonesia, M. Ridwan Alwi, pada 1980-an. Baginya, kedatangan padi adalah tanda bahwa Tuhan tidak membiarkan mereka hanya hidup dari umbi dan hasil hutan.
Namun doa itu juga datang dengan tuntutan: ladang harus diolah, musim harus diperhatikan, dan gotong royong harus dijaga. Masyarakat Sahu tidak hanya belajar menanam padi, tetapi belajar bersabar menghadapi siklus musim, belajar memelihara tanah, dan belajar menunda kenikmatan demi panen.
Refleksi ini seakan menghidupkan ayat Al-Qur’an: “Dan Dialah yang menurunkan air dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan; maka Kami keluarkan daripadanya tanaman yang menghijau…” (QS. Al-An‘am: 99).
Butir padi yang lahir dari tanah Halmahera menjadi bukti nyata janji Allah: bahwa setiap rezeki diturunkan dengan jalan-Nya sendiri.
—
Antara Jawa, Arab, dan Maluku
Sejarawan Jawa, Denys Lombard, pernah menulis bahwa abad ke-16 adalah masa ketika orang Jawa banyak bermigrasi ke kawasan timur, termasuk Maluku. Mereka datang sebagai pedagang, ulama, sekaligus perantau. Padi yang dibawa ke Halmahera bisa jadi bagian dari arus besar ini.
Namun ada pula yang berpendapat bahwa benih itu datang dari Sulawesi. Hal ini masuk akal, mengingat hubungan erat antara Maluku Utara dan para pelaut Bugis-Makassar. Tetapi yang menarik, masyarakat Sahu tetap meyakini bahwa padi pertama datang dari seorang ulama Jawa. “Karena yang membawa bukan sekadar benih, tetapi juga syiar,” kata seorang tokoh adat.
Di titik ini, kita melihat bagaimana sejarah sering kali diingat bukan hanya lewat catatan, tetapi lewat kepercayaan kolektif. Ingatan bahwa padi datang bersama ulama membuat masyarakat Sahu menempatkannya bukan sebagai benda asing, melainkan sebagai warisan spiritual.
—
Simbol Ketahanan dan Perlawanan
Ironisnya, Sultan Musterdam yang menerima benih padi itu kemudian ditawan Belanda dan dibawa ke Batavia. Tetapi benih yang ditinggalkannya di Halmahera tetap tumbuh. Seakan sejarah ingin berkata: kekuasaan bisa runtuh, tetapi benih kehidupan tetap berlanjut.
Pakar antropologi politik, James T. Siegel, dalam studinya tentang pangan dan kuasa menulis, “Makanan selalu menjadi bagian dari strategi politik. Tetapi justru dari meja makanlah rakyat belajar bertahan, bahkan melawan.”
Hal itu terasa nyata di Halmahera. Padi yang awalnya datang sebagai hadiah ulama, kemudian berubah menjadi simbol ketahanan dalam menghadapi kolonialisme. Dari padi, orang Sahu belajar bertahan di tengah tekanan, menjaga persatuan, dan menyimpan identitas.
—
Refleksi: Padi sebagai Hikmah
Jika kita merenung lebih jauh, kisah padi di Halmahera bukan hanya tentang pertanian. Ia adalah kisah tentang perjalanan, iman, dan perubahan. Ulama Jawa yang mengarungi laut selama sembilan bulan memberi kita pelajaran: bahwa sesuatu yang tampak kecil—segenggam beras—bisa mengubah arah sejarah sebuah masyarakat.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji…” (QS. Al-Baqarah: 261).
BACA JUGA: Mengapa Panglima Diponegoro Sulit Ditaklukkan Belanda?
Bukankah inilah yang terjadi di Halmahera? Satu genggam beras itu tumbuh menjadi ladang, lalu menjadi lumbung, dan akhirnya menjadi bagian dari identitas sebuah bangsa.
—
Penutup: Jejak di Tanah Sahu
Hari ini, ketika kita makan nasi di Halmahera, jarang ada yang ingat bahwa ia lahir dari perjalanan panjang seorang ulama Jawa. Namun jejak itu tetap ada, tersimpan di nama-nama varietas padi, di cerita para tetua, dan di ladang-ladang yang masih hijau.
Sejarah padi di Halmahera adalah pengingat bahwa peradaban sering kali lahir dari sesuatu yang sederhana. Dari sebutir benih, lahir peradaban baru. Dari doa seorang ulama, lahir ketahanan sebuah masyarakat.
Dan mungkin, dalam diamnya butir padi, kita bisa mendengar bisikan laut: bahwa segala yang tumbuh di bumi ini adalah bagian dari perjalanan menuju Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa. []
Sumber: Leontine E Visser, Sejarah Pertanian dan Kebudayaan Sahu di Halmahera, Penerbit Ombak
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
