Isolasi Ilmiah yang Semakin Dalam bagi Israel di Dunia Akademik Global

Nasrulloh Baksolahar
7 Min Read
Ilustrasi, Olah Foto dari The Times

Ketika Laboratorium Menjadi Medan Konflik

ADA masa ketika nama-nama seperti Weizmann Institute dan Technion-Israel Institute of Technology menjadi simbol kebanggaan ilmiah Israel. Dari chip komputer hingga teknologi medis, dunia memandang Israel sebagai laboratorium raksasa kreativitas. Namun kini, laboratorium itu mulai sunyi.

Menurut laporan Lior Dattel di Haaretz (27 Oktober 2025), lebih dari 1.000 kasus boikot akademik terhadap peneliti dan institusi Israel telah tercatat dalam dua tahun terakhir — tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Boikot itu meliputi pembatalan kerja sama riset, penolakan publikasi di jurnal ilmiah, hingga pencabutan undangan konferensi internasional.

Rektor Universitas Tel Aviv mengaku kecewa.

“Pemerintah seharusnya membela sains Israel. Namun hingga kini, kami belum menerima bantuan apa pun,” ujarnya getir.

Dari Reputasi Global ke Reputasi Tertutup

Di masa lalu, para ilmuwan Israel berdiri sejajar dengan raksasa riset dunia. Kini, banyak dari mereka menuturkan kisah yang sama: penolakan diam-diam dari kolega di Eropa dan Amerika Utara.

Science|Business (Juli 2025) melaporkan bahwa lebih dari 200 lembaga riset di Eropa, termasuk Universitas Ghent (Belgia) dan Universitas Amsterdam (Belanda), menghentikan kolaborasi formal dengan universitas-universitas Israel setelah invasi Gaza. Di Prancis, sejumlah lembaga publik menunda partisipasi Israel dalam program penelitian Horizon Europe — sebuah langkah yang jarang terjadi terhadap negara sekutu Barat.

BACA JUGA:  Tipu Daya Israel Terhadap Palestina yang Berbalik Melemahkannya Sendiri

Dampaknya terasa dalam hal pendanaan. Israel, yang sebelumnya menerima sekitar €400 juta dari proyek riset Uni Eropa, kini kehilangan akses ke sebagian besar hibah internasional.

“Kami mulai merasa sendirian di dunia sains,” kata seorang peneliti kimia dari Technion dalam wawancara anonim dengan The Guardian.
“Mereka tak lagi melihat kami sebagai ilmuwan, melainkan sebagai bagian dari mesin perang.”

Peta Boikot Global

Boikot akademik kini memiliki distribusi geografis yang jelas:

Eropa Barat, terdiri dari Universitas Ghent (Belgia), Universitas Amsterdam, CNRS (Prancis)

Amerika Utara,terdiri dari Harvard, MIT, beberapa universitas negeri AS

Asia & Timur Tengah, terdiri dari Malaysia, Indonesia, Turki (kerja sama jarang dan terbatas)

Amerika Latin, terdiri dari Universitas di Chile, Brasil (memutus kemitraan sejak 2024)

Fenomena ini menciptakan isolasi yang tidak hanya akademik tetapi juga moral. Israel, yang pernah menjadi pusat inovasi teknologi dan medis, kini menghadapi tantangan keberlangsungan riset di tingkat internasional.

 Akademisi Menjadi Korban Narasi Negara

Menurut Yossi Mekelberg, dosen hubungan internasional di Chatham House, boikot ini bukan sekadar aksi politik, tapi cerminan dari “krisis moral global” yang menuntut universitas untuk berpihak.

“Ilmu tidak bisa dipisahkan dari nilai-nilai kemanusiaan. Ketika negara menggunakan teknologi untuk menindas, maka sains ikut dimintai pertanggungjawaban,” ujarnya.

Sementara itu, Mouin Rabbani, analis Timur Tengah di Arab Center Washington DC, menyebut bahwa isolasi akademik Israel adalah “buah dari kesombongan politiknya sendiri”.

“Israel selama bertahun-tahun menggunakan keunggulan ilmiah sebagai tameng moral. Tapi kini, dunia tidak lagi membedakan ilmuwan dan militer ketika darah anak-anak Gaza tumpah.”

Pernyataan ini selaras dengan laporan The Guardian, di mana jaringan akademik pro-Palestina menuntut penghentian kolaborasi riset sebagai bentuk tekanan moral global.

Tren Penurunan Publikasi Israel 2023–2025

Berdasarkan data Web of Science, tren penurunan publikasi internasional peneliti Israel tercatat sebagai berikut:

Tahun 2023 dengan 25.400 publikasi, tahun 2024 dengan 23.200 atau turun 8,7%, tahun 2025 dengan 18.900 publikasi atau turun 18,5%.

Tren ini menunjukkan dampak boikot secara nyata: akses ke jurnal internasional, konferensi global, dan pendanaan riset menurun drastis.

Universitas yang Memutus Tali Kolaborasi

Boikot bukan hanya simbolik. Beberapa universitas besar telah mengambil langkah konkret:

Universitas Ghent (Belgia) resmi mengakhiri semua proyek bersama dengan institusi Israel yang memiliki afiliasi dengan industri pertahanan.

Universitas Amsterdam (Belanda) menolak permohonan kolaborasi baru dengan universitas di Israel.

CNRS (Prancis) menghentikan program bersama dengan Hebrew University setelah laporan pelanggaran HAM di Gaza.

Harvard Kennedy School (AS) membatalkan kuliah tamu pejabat dari kementerian luar negeri Israel.

Langkah-langkah ini telah menciptakan efek domino di kalangan universitas Eropa. Dunia akademik yang dulu menjadi jembatan diplomasi kini menjadi garis depan moral global.

 Reaksi Dalam Negeri: Antara Penyangkalan dan Ketakutan

Pemerintah Israel menolak menyebut fenomena ini sebagai “boikot”, melainkan “kampanye kebencian antisemit”.
Namun banyak akademisi menilai kebijakan itu sebagai pengalihan isu.

“Pemerintah lebih sibuk membela citra politik Netanyahu daripada menyelamatkan reputasi ilmuwan,” kata seorang profesor ekonomi dari Universitas Ben-Gurion.

Bagi banyak ilmuwan muda Israel, pilihan kini terbagi dua: tetap bekerja di dalam negeri dengan sumber terbatas, atau mencari karier di luar negeri tanpa membawa label institusi asal mereka.

“Kami tak ingin ditolak karena paspor,” kata seorang kandidat doktor yang sedang melamar ke Oxford.

Dunia yang Berubah: Dari Inovasi ke Isolasi

Sebelum perang Gaza 2023–2024, Israel menjadi salah satu dari lima negara dengan rasio publikasi ilmiah tertinggi di dunia. Kini, tren menurun drastis. Konferensi internasional pun mengganti undangan delegasi Israel dengan peneliti Palestina dari diaspora.

Hugh Lovatt, peneliti senior di European Council on Foreign Relations, menegaskan:
“Ini bukan hanya isolasi ilmiah, tetapi isolasi moral. Ketika ilmu digunakan untuk memperkuat pendudukan, maka sains kehilangan ruhnya.”

Cermin Sejarah: Ketika Dunia Pernah Mengisolasi

Fenomena ini mengingatkan pada Afrika Selatan era apartheid, ketika ilmuwan diboikot dan institusi universitas internasional memutus kemitraan. Isolasi akademik menjadi “sanksi moral” global, yang biasanya mendahului sanksi politik dan ekonomi.

BACA JUGA: Gen DNA yang Tak Boleh Dibuka: Ketakutan Yahudi Israel terhadap Asal-Usulnya Sendiri

Antara Boikot dan Harapan

Tidak semua pihak setuju dengan boikot. Beberapa ilmuwan menekankan bahwa isolasi total justru bisa mendorong “sains nasionalistik” di Israel, tertutup dari kritik internasional.

Seorang profesor dari Cambridge menulis di Nature:
“Kita harus memisahkan ilmuwan yang mencari kebenaran dari negara yang menindas. Boikot membabi buta bisa menghancurkan jembatan terakhir menuju dialog.”

Akhir yang Belum Selesai

Hari ini, dunia akademik Israel berada di persimpangan jalan: mempertahankan kebanggaan nasional atau mengakui kesalahan moral. Boikot demi boikot mungkin tidak menghentikan perang, tetapi mengembalikan satu hal yang hilang: nurani dalam ilmu.

Dunia seakan berbisik kepada Israel:
“Kami tidak menolak ilmumu, kami menolak diamnya hatimu.” []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *