DALAM kajian sejarah klasik dunia Islam, Bani Umayyah sering digambarkan sebagai kekhalifahan yang ekspansif—menguasai wilayah dari Andalusia hingga Persia. Namun, jarang dibahas satu wilayah yang sebenarnya berada dalam radar diplomasi mereka: Nusantara, khususnya Sriwijaya, pusat maritim paling kuat di Asia Tenggara abad ke-7–8.
Sejumlah sumber Arab awal serta penelitian kontemporer—terutama yang dilakukan oleh sejarawan Indonesia Azyumardi Azra—membuka kembali kemungkinan bahwa pada abad ke-8 telah terjadi kontak diplomatik dan korespondensi resmi antara khalifah Bani Umayyah dan maharaja Sriwijaya. Hubungan ini tidak muncul dalam buku pelajaran sekolah, namun jejaknya tercecer dalam manuskrip-manuskrip dunia Islam, catatan Cina, serta tradisi pelayaran Samudera Hindia.
Artikel ini menelusuri ulang hubungan diplomasi itu: bagaimana pesan dikirim, apa kepentingannya, siapa tokoh-tokohnya, dan apa dampaknya terhadap sejarah Islam di kawasan kepulauan terbesar di dunia ini.
—
Nusantara dalam Radar Politik Bani Umayyah
Pada abad ke-7 dan 8, dunia Islam berada di bawah kekuasaan Bani Umayyah (661–750). Di masa inilah ekspedisi laut ke Samudera Hindia meningkat. Pelabuhan-pelabuhan Arab di Oman, Yaman, dan Siraf menjadi titik awal pelayaran ke India dan Asia Tenggara. Lalu lintas pedagang Arab dan Persia ke Nusantara bukan hanya rutinitas ekonomi, tetapi juga bagian dari strategi geopolitik.
Mengapa Nusantara penting bagi Bani Umayyah?
1. Sumber komoditas mewah dunia
Kemenyan, cengkih, pala, kapur barus—semua ditemukan di Nusantara. Dalam perdagangan internasional, komoditas ini bernilai sangat tinggi.
2. Jalur laut antara India dan Cina
Sriwijaya menguasai Selat Malaka, satu-satunya pintu laut menuju Cina. Penguasa Jalur Sutra Laut berarti mengendalikan ekonomi internasional.
3. Populasi Muslim awal di Nusantara segera bertambah
Hubungan pedagang Muslim dengan masyarakat lokal mulai kuat sejak abad ke-7.
Maka tidak mengherankan bila catatan-catatan Arab mencatat bahwa Nusantara telah dikenal secara politik oleh kekhalifahan Umayyah.
—
Sriwijaya: Mitra Strategis Dunia Islam
Kerajaan terbesar di Asia Tenggara kala itu bukan Jawa, bukan Sunda, bukan Bali—melainkan Sriwijaya. Berbasis di Palembang, kerajaan ini memiliki armada laut yang sangat besar dan pusat pembelajaran Buddhis internasional.
Catatan Cina, India, dan Arab menggambarkan Sriwijaya sebagai:
- negara maritim superpower,
- pelindung jalur perdagangan,
- pusat intelektual Buddha Mahayana,
- kekuatan diplomasi yang dihormati dari Baghdad hingga Tiongkok.
Dengan latar inilah, Sriwijaya dan Bani Umayyah saling memandang sebagai mitra strategis, bukan sebagai ancaman.
—
Bukti Diplomasi: Ketika Khalifah Menulis Surat ke Jawa dan Sriwijaya
Sejumlah peneliti seperti Paul Wheatley, Tibbetts, al-Biruni, hingga Azyumardi Azra mencatat bahwa diplomasi resmi antara dunia Islam dan kerajaan-kerajaan Nusantara telah terjadi pada abad ke-8.
Dalam beberapa sumber Arab, ditemukan istilah “Zabaj” (زاَبَج), “Zabag”, atau “Sribuza”, yang merujuk pada Sriwijaya atau kerajaan besar di Sumatra–Jawa. Para penulis Muslim awal menggambarkannya sebagai kerajaan besar di timur dengan kekayaan luar biasa.
Namun bukti paling menarik adalah surat diplomasi.
—
Surat Diplomasi Bani Umayyah kepada Sriwijaya
Sejarawan Azyumardi Azra dalam sejumlah tulisan dan kuliahnya menjelaskan bahwa terdapat jejak korespondensi antara khalifah Bani Umayyah dengan penguasa Sriwijaya. Ia merujuk pada catatan Arab klasik yang menyebut pengiriman utusan Sriwijaya kepada khalifah, serta jawaban dari khalifah berupa surat diplomatik.
Beberapa poin penting:
a. Siapa khalifah yang mengirim surat?
Azyumardi Azra menyebutkan bahwa kontak diplomatik itu terjadi pada masa:
Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717–720)
atau
penerusnya di akhir era Umayyah (sebelum 750).
Umar bin Abdul Aziz dikenal memiliki kebijakan luar negeri yang lembut dan terbuka terhadap diplomasi internasional—termasuk dengan kerajaan non-Muslim.
b. Alasan Sriwijaya mengirim utusan
Dalam rekonstruksi Azra:
- Sriwijaya ingin menjalin hubungan resmi dengan kekhalifahan terbesar di dunia.
- Ada permintaan pengiriman dai dan ulama.
- Ada pula niat memperkuat hubungan dagang di jalur Samudera Hindia.
Inilah momen yang kelak menjadi titik awal masuknya jaringan Islam kosmopolitan ke Nusantara.
c. Isi surat diplomasi (rekonstruksi isi pokok)
Catatan-catatan Arab menyebut bahwa khalifah menjawab surat Maharaja Sriwijaya dengan nada:
- ramah,
- diplomatis,
- menawarkan kerja sama dagang,
menawarkan ulama untuk membantu pendidikan agama bagi penduduk yang tertarik masuk Islam.
Azyumardi Azra menyebut bahwa isi surat tersebut sejalan dengan gaya korespondensi Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang juga pernah menulis surat serupa kepada raja-raja Kristen Nubia dan Afrika Timur.
Walau manuskrip asli belum ditemukan, rekonstruksi akademik menunjukkan bahwa diplomasi tersebut benar-benar pernah terjadi.
—
Efek Diplomasi: Meningkatnya Arus Ulama dan Pedagang Muslim
Setelah diplomasi tersebut, catatan pelancong dan geografer Muslim menunjukkan lonjakan dramatis hubungan maritim antara Arab dan Nusantara.
Para ulama dan dai bermazhab Syafi’i dari Irak, Yaman, dan Persia mulai menyebar di:
- Barus (Sumatra Utara),
- Aceh,
- Palembang,
- Kedah,
- Jawa bagian barat dan utara.
Temuan arkeologis berupa nisan bergaya kufi abad ke-9 di Barus dan Aceh memperkuat bukti ini.
Azra menyebut bahwa jalur diplomasi Umayyah—yang kemudian disempurnakan Abbasiyah—melahirkan “jaringan ulama internasional” yang menjadi cikal-bakal Islam kosmopolitan Asia Tenggara.
—
Catatan Geografer Muslim: Sriwijaya dalam Dunia Arab
Sejumlah ilmuwan Muslim menyebut Sriwijaya secara spesifik:
- Ibn Khurdadhbih (abad ke-9)
- Ia menyebut “Zabaj” sebagai kerajaan terbesar di timur dengan armada laut raksasa.
- Al-Mas’udi
- Menggambarkan raja Zabaj sebagai salah satu penguasa termasyhur dunia.
- Al-Biruni
Menyebut Sriwijaya sebagai pusat Buddhisme internasional yang dihormati.
Semua ini menunjukkan bahwa dunia Islam bukan hanya sadar akan keberadaan Nusantara, tetapi juga menghormatinya sebagai kekuatan besar.
—
Diplomasi yang Mengubah Arah Sejarah
Hubungan diplomatik antara Bani Umayyah dan Sriwijaya bukan sekadar pertukaran surat.
Ia membawa dampak jangka panjang:
1. Masuknya Islam ke Indonesia secara damai
Diplomasi membuka jalan lebih besar daripada ekspansi militer.
2. Peningkatan perdagangan internasional
Pedagang Muslim menjadi pelopor hubungan ekonomi lintas Samudera Hindia.
3. Lahirnya jaringan intelektual Islam Nusantara
Dari jaringan inilah 500–700 tahun kemudian bermunculan tokoh seperti:
- Syekh Abdul Rauf Singkel,
- Hamzah Fansuri,
- Yasin al-Fadani,
- para ulama yang belajar di Makkah–Madinah.
4. Mengurangi ketergantungan Sriwijaya kepada Cina
Muncul “poros baru” Cina–Sriwijaya–Dunia Islam.
—
Mengapa Jejak Diplomasi Ini Jarang Dibahas?
Ada beberapa sebab:
1. Dokumen diplomasi era Umayyah banyak yang hilang
Karena keruntuhan mereka oleh Abbasiyah.
2. Sejarawan Eropa abad ke-19 mendominasi narasi Nusantara
Mereka umumnya tidak meneliti manuskrip Arab.
3. Minimnya riset epigrafi dan filologi Arab–Nusantara
Banyak catatan yang belum diterjemahkan.
4. Kurangnya integrasi sejarah maritim dan sejarah Islam
Padahal keduanya saling terkait.
Namun kini, berkat penelitian Azra dan generasi sejarawan baru, rekonstruksi hubungan diplomasi ini semakin jelas.
BACA JUGA: Ketika Islam Pertama Kali Hadir di Nusantara
Kesimpulan: Jejak Diplomasi yang Menjelaskan Banyak Hal
Hubungan diplomasi antara Bani Umayyah dan Sriwijaya bukan mitos. Ia adalah fakta sejarah yang terkonfirmasi oleh:
- catatan geografer Arab,
- catatan pelaut Cina,
- temuan arkeologis,
- rekonstruksi akademik Azyumardi Azra,
- dan kesesuaian konteks geopolitik Samudera Hindia abad ke-7–8.
Melalui diplomasi ini, Nusantara masuk dalam radar peradaban Islam jauh sebelum berdirinya Samudera Pasai, Demak, atau Mataram.
Diplomasi itu menjadi fondasi lahirnya jaringan Islam kosmopolitan Asia Tenggara—sebuah jaringan yang kelak melahirkan ulama besar, pusat dakwah, dan tradisi intelektual yang menghubungkan Nusantara dengan dunia Islam selama lebih dari 13 abad.
Jejaknya memang pudar, tetapi bukan hilang.
Dan dengan menelusuri setiap pecahan catatan, kita bisa melihat bahwa hubungan antara Bani Umayyah dan kerajaan-kerajaan Nusantara pernah menjadi poros penting dalam sejarah maritim dunia. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
