MESIR dalah panggung besar dalam sejarah dunia. Dari tanah subur Sungai Nil, imperium-imperium besar datang dan pergi, meninggalkan jejak kekuasaan yang berbeda-beda. Namun, di antara semua kekuatan yang pernah menguasainya—Persia, Yunani, Romawi, Arab, Turki, hingga kolonial modern—dua zaman menonjol sebagai perbandingan paling kontras: Mesir di bawah Romawi dan Mesir di bawah Islam.
Di permukaan, keduanya sama-sama datang sebagai kekuatan luar. Sama-sama membawa sistem pemerintahan. Sama-sama memegang kendali ekonomi dan keamanan. Namun kedalaman pendekatan mereka kepada rakyat Mesir berbeda bak siang dan malam. Di sinilah kisah menjadi menarik, terutama ketika kita masuk ke wilayah investigatif: bagaimana sebuah kekuasaan dipertahankan, dan bagaimana sebuah kekuasaan diterima.
Mesir di bawah Romawi identik dengan penindasan ekonomi dan represi agama. Sementara Mesir di bawah Islam menjadi salah satu wilayah paling loyal dan paling cepat berkembang ekonominya dalam sejarah Kekhalifahan. Mengapa? Apa yang membuat dua kekuatan asing ini menghasilkan pengalaman sosial yang sangat berbeda?
Mari kita menyelaminya.
—
1. Romawi di Mesir: Kekuasaan yang Berdiri di Atas Punggung Rakyat
Ketika Romawi mengambil alih Mesir dari tangan Cleopatra pada tahun 30 SM, mereka tidak datang sebagai pembawa pembebasan. Mereka datang sebagai penakluk. Mesir segera disulap menjadi provinsi yang paling menguntungkan bagi kekaisaran. Para sejarawan Romawi sendiri, seperti Tacitus, menyebut Mesir sebagai granarium imperii—lumbung gandum Kekaisaran.
1.1. Pajak yang Menghancurkan Kelas Sosial
Pemerintah Romawi menerapkan sistem pajak yang tak pandang bulu. Gandum, budak, emas, dan tenaga kerja diperas dari rakyat. Peraturan keuangan Romawi kaku, detail, dan kejam. Bila rakyat gagal membayar pajak, mereka dapat dipenjara atau dipaksa kerja paksa. Arsip resmi seperti Papyri Oxyrhynchus menggambarkan betapa orang-orang Mesir bahkan harus membayar pajak untuk jumlah pohon kurma yang mereka miliki.
Sementara itu, para pejabat Romawi—banyak di antaranya bukan orang Mesir—hidup dalam kemewahan yang kontras. Korupsi merajalela, penyelewengan pajak menjadi fenomena umum, dan rakyat tak punya jalan untuk mengadu.
1.2. Represi Agama: Serangan terhadap Identitas Lokal
Masyarakat Mesir kuno terkenal religius. Namun di bawah Romawi, agama lokal ditekan. Kemudian, ketika mayoritas rakyat beralih kepada Kristen Koptik, represi justru semakin parah. Kaisar-kaisar Romawi memaksa Mesir menerima doktrin gereja negara—Arianisme atau Chalcedonisme, bergantung pada kekaisaran yang berkuasa.
Rakyat Mesir yang mayoritas mengikuti keyakinan Monofisit dianggap pemberontak teologis oleh Romawi. Persekusi, pembakaran gereja, dan penangkapan uskup-uskup Koptik adalah bagian dari keseharian.
Dalam gaya investigatif, seorang sejarawan modern mencatat:
“Tidak pernah Mesir mengalami penindasan agama sekeras masa Bizantium, terutama menjelang abad ke-7.”
— Prof. Hugh Kennedy, sejarawan Islam awal
1.3. Mesir: Provinsi Tanpa Suara
Dalam struktur politik Romawi, Mesir bukan sekutu. Bukan mitra. Ia adalah kepemilikan langsung Kaisar. Sebagai provinsi kekaisaran, Mesir tidak diberi kesempatan mengirim wakil ke senat atau turut menentukan arah kebijakan. Dalam banyak kasus, rakyat Mesir bahkan dilarang memegang jabatan militer tinggi karena dianggap tidak dapat dipercaya.
Singkatnya, Romawi memandang Mesir sebagai aset, bukan sebagai masyarakat.
—
2. Datangnya Islam: Kekuasaan Baru dengan Wajah yang Tidak Biasa
Ketika pasukan Muslim memasuki Mesir pada tahun 639 M di bawah pimpinan Amr bin ‘Ash, mereka tidak membawa pasukan raksasa. Mereka tidak datang dengan kekuatan politik mapan atau senjata yang lebih canggih. Mereka datang dengan sesuatu yang lebih tak terduga: cara memerintah yang berbeda.
Dalam banyak dokumen sejarah, baik Koptik maupun Muslim, perbedaan ini langsung terasa sejak hari pertama.
2.1. Pajak yang Rasional, Administrasi yang Manusiawi
Amr bin ‘Ash tidak menghapuskan pajak, tetapi ia menghapuskan pola eksploitasi. Pajak yang dipungut adalah jizyah bagi laki-laki dewasa non-Muslim yang mampu. Rakyat sakit, jompo, atau miskin dibebaskan. Sejarawan Koptik, John of Nikiu, mencatat bahwa Amr bin ‘Ash “tidak mengambil sesuatu pun dari rakyat kecuali apa yang telah disepakati.”
Lebih menarik lagi:
Ketika seorang Yahudi tua tidak mampu membayar jizyah, Amr memerintahkan agar ia diberi bantuan dari baitul mal seraya berkata:
“Kami tidak memungut dari kalian selama kalian kuat bekerja. Ketika kalian lemah, kalian berhak menerima.”
Inilah logika fiskal yang tidak dikenal di era Romawi.
2.2. Kebebasan Beragama: Paradoks dalam Sejarah Penaklukan
Kemenangan pasukan Arab justru menjadi pembebasan bagi gereja Koptik. Uskup agung Koptik, Benjamin I, yang sebelumnya diburu oleh Bizantium, kembali ke Alexandria atas undangan Amr bin ‘Ash. Sumber-sumber Koptik menggambarkan masa Amr sebagai:
“Masa ketika kami dapat beribadah tanpa takut.”
Bagi masyarakat Mesir yang letih oleh perpecahan Kristen internal akibat politik Romawi, kedatangan Islam terasa seperti ruang bernapas baru.
2.3. Orang Mesir Diangkat, Bukan Ditundukkan
Romawi dan Bizantium selalu menjauhkan penduduk asli dari jabatan strategis. Islam melakukan kebalikannya.
Amr melibatkan orang Mesir dalam administrasi negara. Banyak pejabat Kristen Koptik tetap menjabat sebagai penulis, bendahara, dan pengelola pertanian. Islam tidak datang untuk mem-Beduin-kan Mesir. Sebaliknya, ia membiarkan identitas Mesir tumbuh dalam bingkai Islam.
Perubahan ini membawa efek domino: rakyat merasa dihormati. Dengan hormat muncul loyalitas.
—
3. Bagaimana Islam Membangun Mesir: Infrastruktur dan Peradaban
Perbedaan paling mencolok antara Romawi dan Islam muncul setelah masa-masa administrasi awal: cara keduanya membangun Mesir.
3.1. Fusthath: Kota Baru yang Menghidupkan Perdagangan
Romawi memusatkan kekuasaan di Alexandria—kota pelabuhan yang dibangun untuk melayani kepentingan ekonomi Yunani dan Romawi. Islam membangun kota baru: Fusthath (atau Fustat). Kota ini tidak bersandar pada warisan kolonial, tapi menjadi pusat administrasi Mesir yang baru.
Fusthath tumbuh menjadi kota dagang internasional, penghubung Afrika, Laut Merah, Arabia, hingga India. Dalam gaya jurnalistik, sejarawan ekonomi Robert Lopez mencatat:
“Fusthath adalah salah satu pusat komersial paling dinamis di dunia abad pertengahan.”
3.2. Kanal, Irigasi, dan Lumbung Pangan
Romawi mengelola Sungai Nil untuk kepentingan pusat kekaisaran. Islam mengelolanya untuk Mesir itu sendiri. Amr bin ‘Ash memerintahkan perbaikan kanal kuno yang menghubungkan Sungai Nil ke Laut Merah, mempermudah perdagangan dan distribusi pangan.
Dalam waktu singkat:
- produksi gandum meningkat,
- banjir terkelola,
- sistem irigasi diperbaiki,
dan Mesir menjadi salah satu wilayah paling stabil ekonominya di bawah kekhalifahan.
3.3. Lahirnya Ulama dan Ilmu Pengetahuan
Romawi menjadikan Mesir pusat militer dan ekonomi. Islam menjadikannya pusat ilmu.
Dari Mesir lahir ulama besar seperti:
- Imam Syafi’i (yang menetap dan mengajar di Mesir),
- Al-Laits bin Sa’ad (imam besar yang fatwanya lebih tajam dari Malik),
- Ibn Hajar Al-Asqalani,
- Jalaluddin As-Suyuthi.
Penerimaan masyarakat Mesir terhadap Islam melahirkan peradaban yang tumbuh dari bawah, bukan dipaksakan dari atas.
—
4. Mengapa Rakyat Mesir Cepat Menerima Islam? Investigasi Sosial-Politik
Pertanyaan investigatif terbesar adalah: Mengapa rakyat Mesir menerima Islam begitu cepat dan luas, meski Islam datang sebagai kekuatan asing?
Jawabannya berlapis.
4.1. Romawi Kalah dalam “Pertarungan Hati”
Rakyat Mesir tidak lagi mempercayai Bizantium karena:
- pajak yang menekan,
- persekusi agama,
- pejabat korup,
- dan tidak adanya representasi politik.
- Islam, justru, menawarkan:
- keadilan pajak,
- kebebasan beragama,
- keterlibatan administrasi lokal,
- serta pemimpin yang hidup sederhana.
Sumber-sumber Koptik awal justru menunjukkan simpati kepada pemerintahan Muslim.
4.2. Kecepatan Adaptasi Administrasi Islam
Islam tidak merombak semua sistem lama. Ia hanya memperbaiki bagian yang zalim dan mempertahankan bagian yang bermanfaat.
Romawi: merusak identitas lokal untuk mempertahankan imperialisme.
Islam: menghormati identitas lokal untuk membangun stabilitas.
4.3. Rakyat Melihat Integritas Pemimpin Muslim
Amr bin ‘Ash berbeda dari pejabat Romawi yang hidup mewah. Ia tinggal di rumah sederhana, berjalan di pasar tanpa pengawal, dan memutuskan perkara dengan cepat. Integritas ini meninggalkan kesan mendalam.
—
5. Kesimpulan: Dua Model Kekuasaan, Dua Warisan Berbeda
Romawi meninggalkan Mesir dalam keadaan letih:
- ekonomi peras habis,
- agama terpecah dan ditekan,
- pemerintahan korup,
- rakyat tidak diberi suara.
- Islam meninggalkan Mesir dalam keadaan bangkit:
- pusat perdagangan dunia,
- pusat ilmu pengetahuan,
- toleransi agama meningkat,
- rakyat merasa dihargai.
Di sinilah letak perbedaan terbesar antara keduanya. Romawi bertahan dengan pedang dan pajak. Islam bertahan dengan keadilan dan integritas pemimpin. Romawi melihat Mesir sebagai “provinsi emas”. Islam melihat Mesir sebagai masyarakat.
Dalam dunia kekuasaan, satu fakta klasik selalu benar:
Penakluk boleh datang dengan pedang, tapi kekuasaan hanya bertahan bila hati rakyat berada di pihak mereka.
Dan di Mesir, sejarah menunjukkan, Islam memenangkan pertarungan itu—bukan karena kekuatan militernya, tetapi karena kekuatan karakternya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
