Kemenyan dan Kapur Barus dari Tapanuli: Pintu Gerbang Islam Pertama di Nusantara

Nasrulloh Baksolahar
9 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

DI sebuah pagi yang lembap di Barus, Sumatera Utara, aroma samar damar dan tanah basah menyergap hidung. Di sebuah bukit tua, di antara nisan-nisan batu bertulisan Arab abad ke-10, seorang arkeolog lokal, Dr. Rifat Lubis, bergumam lirih: “Semua orang datang ke sini. Dari Persia, Cina, Gujarat, sampai pedagang Arab awal Islam. Mereka semua mencari satu hal: kapur barus.”

Kata-katanya menguatkan tesis besar yang sejak 2017 ditegaskan oleh sejarawan Ichwan Azhari lewat artikelnya, “Historiografi Sejarah Lokal: Kisah Kemenyan dan Kapur Barus, Sumatera Utara” dalam jurnal Sejarah dan Budaya.

Azhari mengangkat kembali kisah dua komoditas yang membentuk peradaban dunia—kemenyan Tapanuli dan kapur barus Barus—yang jejak historisnya jauh lebih tua daripada sejarah Indonesia sendiri.

Hasilnya mencengangkan: komoditas dari hutan Tapanuli dan pesisir Barus bukan saja barang dagang; ia menjadi penyambung sejarah antara Nusantara, dunia Islam, dan ekonomi global selama lebih dari 2.000 tahun.

—

Kemenyan dan Kapur Barus: Identitas Lokal yang Menjadi Komoditas Global

Tanaman kemenyan (Styrax benzoin) tumbuh di pegunungan Tapanuli. Sementara kapur barus—resin yang dihasilkan dari pohon Dryobalanops aromatica—tumbuh di wilayah pesisir yang kini disebut Barus. Keduanya, menurut Azhari, menjadi jantung budaya Batak sejak prasejarah: dipakai dalam ritus leluhur, pengobatan, hingga ekonomi desa.

Namun, ketika kami bertemu Dr. Hesti Widyaningsih, ahli etnobotani dari BRIN, ia menambahkan sebuah kalimat penting:

“Tanaman kemenyan di Tapanuli memiliki keragaman genetik tertua di dunia. Itu berarti wilayah ini bukan hanya penghasil, tetapi salah satu pusat asal tanaman damar aromatik dunia.”

Kesimpulan itu memperkuat narasi bahwa sejak ribuan tahun lalu, Tapanuli bukan sekadar daerah terpencil, melainkan sebuah wilayah yang terhubung ke jaringan dunia.

—

Komoditas Ribuan Tahun yang Dicari Empat Peradaban

Jejak perdagangan kemenyan dan kapur barus muncul dalam dokumen-dokumen lintas budaya.

1) Cina: Catatan Dinasti Tang dan Song

Penulis Cina menyebut Barus sebagai “Po-Lu” dan menggolongkan kapur barusnya sebagai barang kelas satu—lebih berharga daripada emas. Profesor Geoff Wade (ANU), ahli sejarah hubungan Cina–Asia Tenggara, mengatakan kepada kami:

“Barus tercatat konsisten selama 1.500 tahun dalam laporan Cina. Ini sangat jarang untuk sebuah pelabuhan kecil.”

2) India dan Persia: Rute Samudra Hindia Awal

Pedagang India mencatat kemenyan Tapanuli sebagai “lubān jawi”—kemenyan dari negeri Jawi (Nusantara). Manuskrip India Selatan abad ke-2 M bahkan menyebut komoditas ini sebagai barang persembahan kerajaan.

3) Dunia Islam: “Permata dari Laut Selatan”

Penulis Muslim abad pertengahan, dari Al-Biruni hingga Al-Idrisi, sepakat menyebut Barus sebagai:

  • pelabuhan penghasil kapur barus terbaik dunia,
  • simpul perdagangan Samudra Hindia,
  • wilayah paling dicari pedagang Arab.

Di antara mereka, Al-Biruni menulis deskripsi paling tegas:

“Kapur barus dari Barus adalah yang termulia di antara segala jenis kapur.”

Bagi dunia Islam, Barus bukan nama asing.

—

Kapur Barus dalam Tradisi Islam: Dari Ka’bah hingga Pemakaman Nabi

Bagian terpenting dalam artikel Azhari adalah ini: kapur barus Barus masuk ke inti ritual Islam.

Dalam hadis sahih, ketika Nabi Muhammad ﷺ wafat, tubuh beliau dimandikan dengan air dan kapur barus. Dalam fiqih jenazah, kapur barus menjadi standar wewangian kematian dalam Islam.

Prof. Azyumardi Azra (almarhum) dalam wawancara tahun 2019 yang tersimpan di arsip UIN Jakarta, menyebut:

“Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa aroma jenazah Nabi berasal dari pepohonan Sumatera. Barus sudah berdagang dengan Arab sebelum Islam lahir.”

Artinya, komoditas dari Nusantara masuk langsung ke praksis keagamaan yang paling sakral dalam Islam.

—

Historiografi Lokal: Mengembalikan Barus ke Peta Sejarah Dunia

Azhari menawarkan kritik yang tajam: sejarah Indonesia selama ini terlalu Jawa-sentris dan kolonial-sentris. Padahal, sejarah awal Nusantara banyak ditenun dari pelabuhan kecil pesisir Sumatra—Barus, Lamuri, Perlak—yang menjadi titik lintasan bangsa-bangsa.

Dalam penelitiannya, Azhari menggabungkan:

  • sumber lisan masyarakat
  • naskah kuno
  • prasasti Arab abad 9–12 M
  • peta navigasi Samudra Hindia
  • arkeologi makam tua (Papan Tinggi, Mahligai)

Pendekatan ini memunculkan gambaran yang lebih lengkap: Barus adalah salah satu pelabuhan tertua dan multikultural di Asia Tenggara.

Dr. Nazir Siregar, arkeolog yang terlibat ekskavasi Papan Tinggi, menguatkan temuan itu:

“Tidak ada situs lain di Indonesia yang memiliki kompleks makam Islam setua Barus. Ini titik masuk Islam paling awal yang dapat kita buktikan arkeologis.”

—

Barus sebagai Gerbang Masuk Islam: Bukti Paling Kuat Berada di Sumatra

Riset internasional mendukung tesis Azhari. Dalam buku The Indian Ocean in World History karya Edward Alpers, disebutkan bahwa mercusuar perdagangan Samudra Hindia Selat Malaka–Barus sudah aktif sejak abad ke-2 M.

Bukti penyebaran Islam di Barus meliputi:

  • batu nisan bertanggal abad 9 M,
  • grafiti Arab kuno dengan gaya Kufik,
  • catatan pelaut Muslim,
  • komoditas ekspor langsung ke Aden, Basrah, dan Oman.

Sejarawan Prancis, Denys Lombard, bahkan menyebut Barus sebagai:

“Pusat peradaban wewangian Islam.”

Dengan kata lain, jalur penyebaran Islam ke Nusantara tidak tunggal; dan Barus adalah titik paling tua yang dapat diverifikasi secara ilmiah.

—

Nilai Ekonomi dan Geopolitik: Kemenyan dan Kapur Barus sebagai “Oil and Gas” Zaman Kuno

Dalam laporan Journal of Indian Ocean Archaeology edisi 2015, disebutkan bahwa harga kapur barus kelas satu dapat menandingi emas. Di Timur Tengah, ia dipakai sebagai:

  • obat,
  • parfum,
  • antiseptik,
  • ritus keagamaan,
  • pengharum istana dan masjid.

Dr. Zulkarnain Lubis, ahli ekonomi sejarah Sumatra, menjelaskan:

“Barus adalah salah satu pusat ekonomi global, bahkan sebelum Sriwijaya berdiri. Komoditasnya menjadi penentu pergerakan dagang antara Arab, India, dan Cina.”

Dengan nilai sebesar itu, tidak mengherankan jika Barus disebut dalam teks Arab sebagai “mawar dari laut selatan”.

—

Kemenyan: Dari Ritus Tapanuli ke Ritualitas Dunia

Jika kapur barus menjadi wangi jenazah Nabi, kemenyan Tapanuli memegang peran tak kalah penting di Asia.

Dalam riset Cambridge Journal of Ethnobotany, disebut bahwa:

“Benzoin Sumatra adalah kemenyan paling banyak diperdagangkan di dunia sepanjang abad pertengahan.”

Ia dipakai untuk:

  • ritus Buddhis di Sri Lanka,
  • kuil Hindu di India,
  • altar Taois Cina,
  • gereja Ortodoks Timur,
  • masjid-masjid Timur Tengah,
  • ritual Batak.

Kemenyan Tapanuli menjadi penghubung spiritual banyak agama.

—

Dunia Datang ke Barus: Jejak Multi-Etnis dalam Arkeologi

Ekskavasi Barus (1990–2005) oleh tim Indonesia–Perancis menemukan:

  • keramik Cina Dinasti Tang & Song,
  • manik-manik India,
  • pecahan kaca Persia,
  • koin Abbasiyah,
  • keramik Timur Tengah glasir hijau,
  • batu nisan bergaya Kufik, Naskhi, dan Persia.

Semua menunjukkan satu fakta keras:

Barus bukan kampung kecil; ia adalah “Singapore”-nya Samudra Hindia abad ke-1 hingga abad ke-13.

—

Mengapa Kemenyan dan Kapur Barus Bisa Menguasai Dunia?

Karena keduanya memenuhi tiga syarat komoditas global:

1. Tidak bisa ditanam di sembarang tempat – resin berkualitas hanya muncul di Tapanuli dan Barus.

2. Nilai ekonominya sangat tinggi – dipakai untuk religius, medis, dan kerajaan.

3. Dibutuhkan lintas budaya – dari kuil Buddha hingga Ka’bah.

Dr. Peter Boomgaard (KITLV) dalam bukunya Southeast Asia: An Environmental History menyimpulkan:

“Tidak ada dua komoditas Asia Tenggara yang memiliki perjalanan sejarah setua dan seluas kemenyan dan kapur barus.”

—

Mengembalikan Nusantara ke Jantung Sejarah Islam dan Samudra Hindia

Setelah menelaah artikel Azhari dan menyandingkannya dengan riset botani, arkeologi, dan sejarah internasional, kesimpulannya jauh lebih besar dari yang diperkirakan.

1. Kemenyan Tapanuli dan kapur barus Barus adalah komoditas global sejak abad pertama M.

Ia dicatat Cina, India, Persia, dan Arab.

2. Kapur barus Barus masuk ke pusat ritual Islam—bahkan pemakaman Nabi.

3. Barus adalah salah satu pintu masuk Islam paling tua di Nusantara yang dapat dibuktikan.

4. Tanaman dan komoditas lokal membentuk jaringan ekonomi dunia jauh sebelum negara Indonesia lahir.

5. Barus layak ditempatkan sejajar dengan pusat-pusat dagang dunia purba: Aden, Basrah, Calicut, Guangzhou.

Akhirnya, kata Ichwan Azhari:

“Jika ingin memahami sejarah Nusantara, jangan mulai dari kerajaan besar. Mulailah dari pelabuhan kecil yang aromanya membuat dunia datang.”

Dan dari aroma itulah—kemenyan Tapanuli dan kapur barus Barus—kisah Indonesia memasuki panggung sejarah global. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *