SEBELUM nama Batavia dipahat di peta kolonial, sebelum kanal-kanal buatan dan benteng Eropa menjulang di pesisir utara Jawa, wilayah itu dikenal sebagai Jayakarta. Sebuah kota pelabuhan Islam yang hidup, terbuka, dan berdaulat. Ia bukan sekadar simpul perdagangan, tetapi bagian dari jaringan kekuasaan Kesultanan Banten yang sadar betul bahwa laut adalah nadi ekonomi dan politik Nusantara. Namun justru karena itulah Jayakarta menjadi sasaran.
Pada awal abad ke-17, ketika VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) mulai menancapkan kuku kolonialnya di Asia, Jayakarta berdiri sebagai penghalang serius.
Selama kota ini berada di bawah pengaruh Banten, ambisi Belanda untuk memonopoli perdagangan lada dan menguasai Jawa bagian barat tidak akan pernah benar-benar aman. Maka, Jayakarta harus ditundukkan. Dengan cara apa pun.
Jayakarta dalam Orbit Kesultanan Banten
Secara politik dan ideologis, Jayakarta berada dalam pengaruh Kesultanan Banten. Penguasanya—yang dikenal sebagai Pangeran Jayakarta—bukan sekadar penguasa lokal, melainkan bagian dari struktur kekuasaan Islam pesisir yang terhubung dengan ulama, saudagar, dan sultan-sultan Muslim.
Banten sendiri pada masa itu bukan kerajaan kecil. Ia adalah kekuatan maritim Islam yang disegani. Pelabuhannya ramai oleh pedagang dari Arab, Gujarat, Aceh, Turki Utsmani, hingga Nusantara timur. Kesultanan ini memahami satu prinsip utama: perdagangan bebas adalah syarat kemerdekaan.
BACA JUGA: Belanda Setelah VOC Runtuh (1799-1942)
VOC membawa prinsip sebaliknya: monopoli, kontrak paksa, dan senjata.
Ketika Belanda meminta izin mendirikan loji dagang di Jayakarta, Pangeran Jayakarta dan Banten awalnya bersikap terbuka—sebagaimana tradisi pelabuhan Islam yang kosmopolitan. Namun keterbukaan itu segera dibalas dengan pengkhianatan.
Dari Dagang ke Dominasi
VOC tidak pernah puas hanya berdagang. Di setiap tempat yang mereka singgahi, mereka membawa pola yang sama: izin dagang berubah menjadi benteng, benteng berubah menjadi klaim wilayah, dan klaim wilayah berujung pada kekuasaan politik.
Di Jayakarta, VOC mulai memperkuat benteng, menambah pasukan, dan mencampuri urusan lokal. Mereka menekan harga, memaksa kontrak sepihak, dan secara perlahan menggeser peran pedagang Muslim.
Pangeran Jayakarta melihat ancaman itu dengan jernih. Ia sadar, jika dibiarkan, Jayakarta akan bernasib seperti Malaka di tangan Portugis: pelabuhan Islam yang dirampas, dijadikan markas kekuatan asing, dan dijauhkan dari umatnya sendiri.
Maka pilihan pun diambil: melawan.
Perlawanan Jayakarta dan Dukungan Banten
Perlawanan Jayakarta bukan tindakan emosional, melainkan keputusan politik. Dengan dukungan Kesultanan Banten, pasukan Jayakarta mulai menekan VOC. Benteng-benteng Belanda diserang, jalur suplai diganggu, dan posisi VOC dibuat tidak aman.
Konflik ini memuncak pada tahun 1618–1619. Jayakarta dan Banten secara terbuka menantang keberadaan VOC. Ini adalah pesan jelas: Nusantara bukan tanah kosong, dan pelabuhan Islam bukan wilayah bebas jajahan.
Namun VOC tidak datang sendiri. Ia datang dengan modal raksasa, armada laut, dan kebijakan kolonial tanpa moral.
Jan Pieterszoon Coen dan Jalan Kekerasan
VOC menunjuk Jan Pieterszoon Coen untuk menyelesaikan “masalah Jayakarta”. Coen bukan diplomat. Ia adalah simbol kolonialisme brutal yang percaya bahwa kekuasaan harus ditegakkan dengan teror.
Dalam pandangannya, Jayakarta bukan kota berdaulat, melainkan hambatan bisnis.
Maka solusi yang ia pilih bukan negosiasi, tetapi penghancuran total. Pada tahun 1619, VOC melancarkan serangan besar. Jayakarta dibombardir, dibakar, dan dihancurkan. Penduduknya diusir. Struktur kekuasaan lokal dilenyapkan.
Di atas puing-puing itulah VOC mendirikan Batavia.
Bagi Belanda, itu adalah kemenangan. Bagi Nusantara, itu adalah awal penjajahan panjang.
Kekalahan yang Menyingkap Watak Kolonial
Perlawanan Jayakarta kalah secara militer, tetapi peristiwa ini membuka mata banyak pihak—termasuk Kesultanan Banten. Sejak Jayakarta jatuh, Banten tidak lagi melihat VOC sebagai mitra dagang, melainkan musuh politik.
Hubungan Banten–VOC berubah menjadi konflik berkepanjangan: blokade ekonomi, perang terbuka, dan sabotase dagang. Jayakarta menjadi simbol peringatan bahwa kolonialisme tidak pernah puas hanya dengan satu kota.
VOC tidak datang untuk berdagang secara adil, tetapi untuk menguasai rantai ekonomi dan memutus kedaulatan lokal.
Jayakarta dan Ingatan yang Dihapus
Sejarah kolonial sering merayakan berdirinya Batavia sebagai awal “kemajuan” dan “peradaban”. Namun narasi ini sengaja menghapus satu fakta penting: Batavia berdiri di atas kota yang dihancurkan.
Jayakarta tidak runtuh karena lemah. Ia dihancurkan karena menolak tunduk. Ia dibakar karena mempertahankan prinsip perdagangan bebas dan kedaulatan Islam.
Penghapusan nama Jayakarta dari peta adalah bagian dari kolonialisme itu sendiri. Mengganti nama berarti memutus ingatan. Menghilangkan perlawanan dari kesadaran kolektif.
BACA JUGA: Mengapa Si Pitung Melawan Kompeni? Sistem Tanah Partikelir di Batavia
Pola yang Terus Berulang
Perlawanan Jayakarta menyimpan pelajaran yang sangat relevan hingga hari ini. Penjajahan tidak selalu datang dengan senjata. Ia sering datang dengan kontrak, kerja sama, dan janji investasi.
Jayakarta jatuh bukan karena miskin senjata, tetapi karena menghadapi kekuatan global yang tidak mengenal etika. Namun keberanian Jayakarta dan Banten menunjukkan bahwa Islam Nusantara bukan pasif, bukan fatalistik, dan bukan penonton sejarah.
Ia melawan, meski tahu risikonya.
Penutup: Jayakarta sebagai Cermin
Jayakarta adalah cermin masa lalu sekaligus peringatan masa depan. Ia mengajarkan bahwa:
ketika pelabuhan dikuasai asing, kedaulatan akan menyusul runtuh;
ketika ekonomi dimonopoli, politik akan segera dijajah;
dan ketika perlawanan dihapus dari sejarah, penjajahan akan tampak wajar.
Perlawanan Jayakarta di era Kesultanan Banten bukan kisah kekalahan biasa. Ia adalah bab awal perlawanan terorganisir terhadap kolonialisme Eropa di Nusantara—bab yang sengaja diperkecil, dilupakan, dan disenyapkan.
Namun sejarah yang jujur selalu menemukan jalannya kembali.
Dan selama Jayakarta diingat bukan sebagai Batavia, melainkan sebagai kota yang pernah melawan, selama itu pula kesadaran perlawanan tidak akan padam. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
