CATATAN Tiongkok merupakan salah satu sumber eksternal tertua dan paling konsisten dalam merekam keberadaan Islam di Asia, termasuk di Nusantara. Berbeda dengan sumber Arab yang bersifat internal dan normatif, atau sumber Eropa yang sering dibayangi kepentingan kolonial, sumber Tiongkok relatif bersifat administratif, kronologis, dan pragmatis. Karena itu, ketika kronik-kronik Tiongkok mencatat kehadiran Islam dan kaum Muslim, yang direkam bukanlah ajaran teologinya, melainkan dampak sosial, ekonomi, dan politiknya.
Melalui catatan dinasti Tang, Song, Yuan, dan Ming, Islam tampak bukan sebagai kekuatan penakluk, tetapi sebagai realitas peradaban yang hadir melalui perdagangan, etika sosial, dan jaringan maritim internasional.
—
Istilah dan Penyebutan Islam dalam Sumber Tiongkok
Dalam catatan awal, Islam tidak langsung disebut sebagai “Islam”. Orang Tiongkok menggunakan istilah-istilah seperti:
Ta-shih untuk menyebut bangsa Arab dan dunia Islam awal
Hui-hui untuk komunitas Muslim
Fan-ke untuk pedagang asing Muslim
Penyebutan ini menunjukkan bahwa Islam pertama kali dipahami sebagai komunitas manusia dan jaringan dagang, bukan sistem doktrin. Identitas keagamaan dikenali melalui praktik hidup dan peran sosial, bukan melalui kitab suci atau ritual.
—
Kontak Awal: Dinasti Tang dan Dunia Islam
Sejak abad ke-7 M, pada masa Dinasti Tang, Tiongkok telah menjalin hubungan dengan dunia Islam. Catatan Tiongkok menyebut kedatangan utusan dan pedagang dari Ta-shih, yang datang melalui jalur laut dan darat.
Kaum Muslim digambarkan sebagai:
Pedagang jarak jauh
Ahli navigasi
Komunitas disiplin dan terorganisasi
Di pelabuhan-pelabuhan besar Tiongkok seperti Guangzhou, telah terbentuk komunitas Muslim yang diakui secara administratif. Fakta ini penting karena menjadi model awal bagaimana Islam dipersepsikan: sebagai komunitas kosmopolitan yang hidup berdampingan dengan otoritas lokal.
—
Islam dan Jalur Maritim Asia Tenggara
Dalam catatan Tiongkok, Asia Tenggara—termasuk Nusantara—muncul sebagai perpanjangan alami jaringan Islam maritim. Pelabuhan-pelabuhan di Sumatra, Jawa, dan Semenanjung Malaka digambarkan sebagai tempat persinggahan pedagang Muslim dari Arab, Persia, dan India.
Catatan ini menegaskan bahwa:
Islam hadir di Nusantara melalui laut, bukan pedang
Komunitas Muslim tumbuh di kota-kota pelabuhan
Interaksi berlangsung damai dan berjangka panjang
Dengan kata lain, Islam masuk sebagai peradaban niaga, bukan proyek kekuasaan.
