SELAMA puluhan tahun, perdebatan tentang asal-usul Islam di Nusantara nyaris selalu berpusat pada satu pertanyaan klasik: dari mana Islam datang? Dari Arab, Persia, India, atau Cina? Namun pertanyaan itu kerap menyederhanakan persoalan yang jauh lebih kompleks. Sejarah tidak bergerak melalui satu pintu tunggal. Ia datang melalui banyak jalur, banyak aktor, dan banyak simpul peradaban.
Di antara simpul yang sering diabaikan, atau setidaknya direduksi perannya, adalah etnis Cina Muslim. Padahal, jejak sejarah menunjukkan bahwa komunitas Cina Muslim memiliki peran penting—bukan dalam menentukan awal kedatangan Islam, tetapi dalam memperkuat, mencatat, dan mengintensifkan proses Islamisasi Nusantara, terutama pada abad ke-15 dan ke-16.
Jalur Perdagangan: Arab, Cina, dan Nusantara dalam Satu Nafas Sejarah
Teori Arab yang banyak dianut sejarawan menyatakan bahwa Islam datang ke Nusantara langsung dari dunia Arab sejak abad ke-7 atau ke-8 Masehi. Teori ini diperkuat oleh fakta bahwa pada masa paling awal Islam, interaksi antara Muslim Arab dan Cina sudah berlangsung intens, terutama melalui jalur perdagangan internasional.
Pada masa pemerintahan Kaisar Tai Tsung dari Dinasti Tang (627–650 M), komunitas Muslim telah menetap di Canton (Guangzhou). Catatan Cina menyebutkan keberadaan pedagang Arab dan Persia Muslim yang tidak hanya berdagang, tetapi juga membangun komunitas keagamaan. Pada periode yang hampir bersamaan, jalur perdagangan yang sama membawa pedagang Muslim ke Sumatera—wilayah yang berada di bawah kekuasaan Sriwijaya—dan ke Jawa.
BACA JUGA: Pedagang Arab dan Masuknya Islam ke Nusantara menurut Sir Thomas Arnold
Sumber Cina mencatat bahwa pada tahun 674 M, seorang utusan dari negeri Arab yang disebut Ta Cheh datang ke Kerajaan Ho Ling (Kalingga) di Jawa, yang saat itu diperintah oleh Ratu Shima. Fakta ini menunjukkan bahwa Islam masuk ke Cina dan Nusantara hampir bersamaan, melalui satu jalur perniagaan global yang menghubungkan Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, hingga Tiongkok Selatan.
Perbedaannya bukan pada waktu kedatangan, melainkan pada intensitas pencatatan dan penguatan komunitas. Cina, dengan tradisi birokrasi dan historiografi yang kuat, meninggalkan jejak dokumentasi yang jauh lebih sistematis tentang keberadaan komunitas Muslim.
Cina dan Tradisi Pencatatan Islam Awal
Berita tentang komunitas Muslim di Nusantara pada abad ke-7 dan ke-8 tidak hanya datang dari sumber Arab, tetapi juga dari catatan Cina. Ini menjadi bukti penting bahwa Islam di Cina bukan hanya lebih awal hadir, tetapi juga hidup dan berkembang secara institusional.
Jika di Guangzhou pada awal abad ke-7 telah berdiri Masjid Wa-Zhin-Zi (Masjid Huaisheng), salah satu masjid tertua di dunia, maka di Nusantara pada periode yang sama jejak Islam baru dapat dilacak melalui makam-makam, artefak perdagangan, dan hubungan diplomatik. Perbedaan ini menunjukkan bahwa Cina Muslim telah mencapai tahap komunitas mapan lebih dahulu, sementara di Nusantara Islam masih berada pada fase awal interaksi.
Di sinilah letak kontribusi penting Cina Muslim: menjadi penghubung informasi, pencatat sejarah, dan saksi hidup perkembangan Islam di kawasan maritim Asia Tenggara.
Cheng Ho: Diplomasi Maritim dan Islamisasi Damai
Puncak peranan etnis Cina Muslim dalam proses Islamisasi Nusantara terjadi pada abad ke-15, melalui figur monumental: Laksamana Cheng Ho.
Cheng Ho—seorang Muslim dari Dinasti Ming—memimpin ekspedisi maritim raksasa selama hampir setengah abad (1405–1453). Armada lautnya terdiri dari 63 kapal besar dengan jumlah prajurit dan awak hampir 25.000 orang. Skala ini menjadikan ekspedisi Cheng Ho sebagai salah satu operasi maritim terbesar dalam sejarah dunia, jauh melampaui pelayaran Christopher Columbus.
Majalah National Geographic Indonesia edisi Juli 2005 melaporkan bahwa kapal-kapal Cheng Ho berukuran puluhan kali lipat dibanding kapal-kapal Eropa abad ke-15. Namun misi Cheng Ho bukan penaklukan, melainkan diplomasi, perdagangan, dan stabilisasi kawasan.
Di Nusantara, Cheng Ho dan armadanya singgah di berbagai pelabuhan penting: Tuban, Semarang, Cirebon, hingga wilayah Samudera Hindia. Di Tuban dan Semarang, jejaknya masih dikenang melalui Klenteng Sam Po Kong dan Gedung Batu. Di Cirebon, tradisi lokal mengaitkannya dengan pembangunan mercusuar dan jaringan pelabuhan.
Ekspedisi Cheng Ho tidak hanya menjalin kerja sama ekonomi dan politik, tetapi juga:
- menumpas bajak laut,
- mendamaikan konflik antar-kerajaan,
- memperkuat jaringan pelabuhan Muslim,
- serta memberi perlindungan pada komunitas Islam lokal.
Semua ini menciptakan ruang aman bagi dakwah dan pertumbuhan Islam.
BACA JUGA: Pedagang dan Sufi: Teori Penyebar Islam di Nusantara
Bukan Awal, tetapi Penguat Islamisasi
Penting ditegaskan: teori Cina tidak pernah mengklaim bahwa Islam pertama kali datang dari Cina ke Nusantara. Yang ditekankan oleh teori ini adalah peran Cina Muslim dalam:
1. pemberitaan dan pencatatan komunitas Muslim awal,
2. penguatan jaringan Islam maritim,
3. dan intensifikasi Islamisasi pada abad ke-15 dan ke-16.
Pada masa inilah peran Cina Muslim bertemu dengan dinamika lokal Nusantara, khususnya dalam jaringan Walisongo. Banyak sejarawan mencatat adanya pengaruh budaya, arsitektur, dan strategi dakwah yang selaras dengan pendekatan damai dan kosmopolitan ala Cina Muslim.
Kesimpulan: Simpul yang Tak Terpisahkan
Sejarah Islam di Nusantara bukan kisah satu arah. Ia adalah perjumpaan peradaban: Arab sebagai pembawa risalah, Nusantara sebagai lahan penerima, dan Cina Muslim sebagai simpul penguat—penjaga jalur, pencatat sejarah, dan fasilitator Islamisasi damai.
Mengabaikan peran etnis Cina Muslim berarti mereduksi kompleksitas sejarah itu sendiri. Sebaliknya, mengakui peran mereka justru menegaskan bahwa Islam Nusantara tumbuh dari jaringan global yang terbuka, beradab, dan damai—sebuah warisan yang relevan untuk dibaca ulang hari ini. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

