Kikir: Jalan Menuju Kesengsaraan

3 Min Read
Foto: Freepik

ADA orang yang hidupnya tampak berkecukupan.
Hartanya tidak sedikit, usahanya berjalan, namanya dikenal.
Namun entah mengapa, wajahnya selalu tegang dan hatinya resah.

Apakah kekayaan memang menjamin ketenteraman?
Al-Qur’an menjawabnya dengan lembut, tetapi tegas:

 وَاَمَّا مَنْۢ بَخِلَ وَاسْتَغْنٰىۙ

Adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup.
(QS. Al-Lail: 8)

Kikir bukan sekadar menahan harta.
Ia adalah sikap batin—perasaan tidak mau berbagi,
enggan menolong, bahkan berat menunaikan kewajiban yang telah Allah tetapkan.

Lebih dalam dari itu, kikir melahirkan perasaan merasa cukup.
Cukup tanpa Allah.
Cukup tanpa pertolongan manusia.
Cukup tanpa mengakui bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan.

—

Dari perasaan “cukup” itulah, lahir kesombongan yang halus.
Seseorang mulai merasa bahwa hidupnya berdiri oleh kekuatannya sendiri.
Doa mulai jarang.
Syukur menjadi tipis.
Aturan Allah terasa mengganggu kebebasan.

Maka Allah melanjutkan firman-Nya:

وَكَذَّبَ بِالْحُسْنٰىۙ

Dan ia mendustakan balasan yang terbaik.
(QS. Al-Lail: 9)

Ia tidak lagi yakin bahwa ada hari pembalasan.
Surga terasa jauh dan samar.
Akhirat dianggap sekadar cerita penghibur.

Ketika iman kepada balasan itu pudar,
harta pun berubah dari amanah menjadi berhala,
dan dunia menjelma tujuan, bukan jalan.

https://shopee.co.id/product/1343587831/27310804639?gads_t_sig=VTJGc2RHVmtYMTlxTFVSVVRrdENkVHQ3ZkZSUTMrR3pBWmZZNzdrcnRBMGQ5Mk1KZHhtSGtnTWtzVThsYU9vOW9tR2ttNnRJQnBkZzdXbEhLallWVVd0TzlrNHYzQm1QOGxrd1Awcy9PZ0xwMjZMWVZLUXYwa1J6Q0cra0xUbFVWS2VPeGU4dVZFM3R2aVRYV0lrOEgyUzJ1Nk5RVTUxTjVHeVZ0enhPNGRzPQ&mmp_pid=an_11336250108&uls_trackid=54jrahvh02ke&utm_campaign=id_HSaHp71NrV&utm_content=----&utm_medium=affiliates&utm_source=an_11336250108&utm_term=e8n667egvme1

Lalu Allah menyingkap akibat dari semua itu—bukan dengan kemarahan,
melainkan dengan hukum kehidupan yang tak bisa dielakkan:

فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْعُسْرٰىۗ

Maka Kami mudahkan baginya jalan kesengsaraan.
(QS. Al-Lail: 10)

Perhatikanlah:
Allah juga “memudahkan”—tetapi kali ini menuju kesulitan.

Kesengsaraan itu tidak selalu datang berupa kemiskinan.
Ia bisa berupa penyakit yang tak kunjung sembuh.
Kecelakaan yang merenggut ketenangan.
Musibah yang menguras jiwa.
Atau hati yang terus gelisah meski harta melimpah.

Dan puncaknya bukan di dunia,
melainkan ketika semua tabir tersingkap di akhirat.

—

Pada saat itu, Allah menutup rangkaian ayat ini dengan satu kalimat yang menggetarkan:

وَمَا يُغْنِيْ عَنْهُ مَالُهٗٓ اِذَا تَرَدّٰىٓۙ

Dan hartanya tidak akan bermanfaat baginya ketika ia telah binasa.
(QS. Al-Lail: 11)

BACA JUGA:  7 Ciri Orang Pelit

Harta yang dahulu dibanggakan,
yang ditumpuk dengan penuh perhitungan,
yang dijaga dengan kecemasan,
tak dapat menolong sedikit pun.

Ia tidak bisa menebus dosa.
Tidak bisa meringankan siksa.
Tidak bisa menjadi sahabat di saat paling sunyi.

Yang tersisa hanyalah amal—
dan orang yang kikir hampir selalu miskin amal.

—

Maka Al-Qur’an seakan bertanya kepada kita, dengan suara yang amat pelan:

Untuk apa kita menahan apa yang bukan milik kita?
Untuk siapa kita menumpuk, jika akhirnya kita tinggalkan?

Kikir bukan jalan keselamatan.
Ia hanyalah lorong sunyi menuju kesengsaraan—
di dunia dengan kegelisahan,
dan di akhirat dengan penyesalan yang tak berujung. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *