BANYAK orang menghabiskan berjam-jam membaca berita viral, gosip selebritas, drama politik, dan konten sensasional di ponsel, tetapi merasa berat membuka Al-Quran meski hanya beberapa ayat. Fenomena ini nyata dan sulit dibantah. Padahal, keduanya sama-sama bisa diakses dari perangkat yang sama. Lalu, apa sebenarnya penyebabnya?
1. Berita Viral Memanjakan Nafsu, Al-Qur’an Menuntut Kesadaran
Berita viral dirancang untuk memicu emosi: marah, takut, penasaran, atau senang berlebihan. Judul bombastis dan isi sensasional membuat otak ketagihan. Sementara itu, Al-Quran tidak datang untuk memanjakan hawa nafsu, melainkan menegur, mengingatkan, dan meluruskan. Bagi hati yang belum siap, kebenaran sering terasa berat.
BACA JUGA: 10 Keunikan Bahasa Arab, Kamu Perlu Tahu, Tidak Heran Dijadikan Bahasa Quran
2. Algoritma Menggiring, Bukan Membimbing
Aplikasi berita dan media sosial bekerja dengan algoritma yang mempelajari kebiasaan pengguna. Semakin sering seseorang membaca konten viral, semakin banyak konten serupa yang ditampilkan. Al-Quran tidak punya algoritma yang “memaksa” dibuka. Ia menunggu kesadaran dan niat dari pembacanya. Akhirnya, manusia lebih sering digiring oleh algoritma daripada dibimbing oleh wahyu.
3. Berita Memberi Ilusi “Update”, Al-Qur’an Memberi Tanggung Jawab
Membaca berita membuat seseorang merasa paling tahu keadaan dunia. Ada sensasi merasa cerdas, kritis, dan “tidak ketinggalan zaman”. Sebaliknya, membaca Al-Quran menghadirkan tanggung jawab moral: ada perintah yang harus ditaati, larangan yang harus ditinggalkan, dan akhlak yang harus diperbaiki. Banyak orang lebih suka merasa tahu daripada merasa harus berubah.
4. HP Selalu di Tangan, Tapi Hati Tidak Selalu Siap
Masalahnya bukan pada teknologi, tapi pada kesiapan hati. Al-Quran membutuhkan ketenangan, kehadiran batin, dan kesungguhan. Sementara berita viral bisa dibaca sambil rebahan, makan, atau bahkan sambil marah-marah. Ketika hati sibuk dan penuh distraksi, yang dicari adalah hiburan, bukan petunjuk.
5. Takut Tersentuh, Takut Tersadar
Tidak sedikit orang yang sebenarnya takut membaca Al-Quran, bukan karena tidak bisa, tapi karena khawatir tersentuh. Ayat-ayatnya bisa membuka kesalahan, menyingkap dosa, dan menggugah nurani. Berita viral aman—ia menyalahkan orang lain. Al-Quran berbeda—ia sering kali menunjuk langsung ke diri sendiri.
BACA JUGA: Apakah Mendengarkan Murottal sama dengan Tilawah Quran?
6. Prioritas yang Terbalik
Waktu adalah cerminan prioritas. Jika seseorang punya waktu berjam-jam untuk scrolling tapi merasa “tidak sempat” membaca Al-Quran, maka masalahnya bukan pada waktu, melainkan pada nilai yang ia anggap penting. Dunia diprioritaskan, akhirat disisakan—kalau sempat.
Lebih sering membaca berita viral daripada Al-Quran bukan sekadar kebiasaan kecil, melainkan tanda arah hidup yang sedang condong. Berita hanya memberitahu apa yang terjadi hari ini, sementara Al-Quran membimbing ke mana manusia akan pergi selamanya.
HP di tangan yang sama bisa menjadi jalan lalai atau jalan hidayah. Tinggal pilihan: apakah ia lebih sering digunakan untuk memuaskan rasa ingin tahu dunia, atau untuk menyelamatkan hati dan kehidupan akhirat. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE




