JIKA keraton adalah jantung kekuasaan kesultanan Islam di Nusantara, maka masjid dan pasar adalah dua organ vital yang memastikan kehidupan kota tetap bergerak. Keduanya tidak berdiri secara acak. Letaknya mengikuti pola yang berulang dari satu kota ke kota lain, seolah menunjukkan bahwa tata kota kesultanan dibangun dengan kesadaran ideologis dan fungsi sosial yang matang.
Para sejarawan tata kota sepakat bahwa kota-kota Islam di Nusantara tidak sekadar tumbuh secara organik, tetapi dirancang untuk menyatukan agama, kekuasaan, dan ekonomi dalam satu lanskap simbolik (Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya).
—
Masjid Agung: Penjaga Barat Alun-Alun
Di hampir seluruh ibu kota kesultanan Islam di Nusantara, masjid utama terletak di sisi barat alun-alun. Posisi ini bukan kebetulan. Barat adalah arah kiblat. Dengan demikian, masjid secara simbolik menempatkan orientasi ilahiah di jantung kota.
Masjid yang terletak di pusat kota dan digunakan untuk shalat Jumat serta shalat hari raya lazim disebut Masjid Agung, Masjid Raya, atau Masjid Jami. Fungsinya melampaui ibadah ritual: ia adalah pusat konsolidasi umat, legitimasi sultan, dan penyebaran kebijakan keagamaan.
BACA JUGA: Peran Sultan dan Istana dalam Islamisasi Nusantara
Jejak masjid-masjid agung ini masih dapat disaksikan hingga hari ini, meskipun sebagian besar telah mengalami pemugaran. Di antaranya:
- Masjid Agung Demak,
- Masjid Agung Cirebon,
- Masjid Agung Banten,
- Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh,
- Masjid Martapura,
- Masjid Sumenep.
Menurut R. Soekmono (Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia), keberadaan masjid di pusat kota menunjukkan pergeseran konsep kekuasaan dari raja-dewa menuju raja sebagai pemimpin umat.
—
Masjid Lebih dari Satu: Jejak Kota yang Hidup
Namun, kota kesultanan tidak hanya memiliki satu masjid. Di beberapa pusat kekuasaan, masjid tumbuh mengikuti denyut kehidupan masyarakat.
Di Banten, selain Masjid Agung, terdapat masjid lain di sekitar kampung Pacinaan, meskipun kini tinggal reruntuhan. Catatan perjalanan pelancong Belanda tahun 1596 menyebutkan bahwa di dekat pasar Banten juga terdapat sebuah masjid. Ini menandakan bahwa aktivitas ekonomi dan ibadah berjalan beriringan.
Di Banda Aceh, jumlah masjid lebih banyak lagi. Selain Masjid Raya yang didirikan pada masa Sultan Iskandar Muda—yang dalam hikayat disebut Baitul Rahman—masjid-masjid lain berdiri hampir di setiap perkampungan Muslim. Hal ini menunjukkan bahwa Aceh bukan hanya pusat kekuasaan, tetapi kota religius yang berlapis-lapis.
Anthony Reid dalam Southeast Asia in the Age of Commerce mencatat bahwa masjid-masjid non-Agung berfungsi sebagai pusat pendidikan, distribusi fatwa, dan penguatan jaringan sosial.
Pasar: Denyut Ekonomi Kota Islam
Jika masjid menjadi penanda spiritual kota, maka pasar adalah penanda ekonomi dan keterbukaan. Hampir semua kota kesultanan memiliki pasar, bahkan lebih dari satu.
Sebagai kota pelabuhan dan pusat perdagangan, kehidupan masyarakat kesultanan sangat bergantung pada aktivitas niaga. Karena itu, pasar menempati posisi strategis, meskipun tidak selalu berdampingan dengan alun-alun.
Di dalam satu kota, pasar bisa tersebar di beberapa titik, terutama di kawasan perkampungan pedagang. Pola ini menunjukkan bahwa ekonomi kota tidak dimonopoli pusat kekuasaan, tetapi menyebar mengikuti jalur perdagangan.
—
Jejak Pasar di Kota-Kota Kesultanan
Di Banten pada abad ke-16, tercatat beberapa pasar besar, di antaranya:
- Pasar Pacinaan,
- Pasar Karangantu, yang terkait langsung dengan pelabuhan.
Di Jakarta pada masa Pangeran Jayakarta, sebuah pasar terletak di sebelah utara alun-alun, menghubungkan pusat politik dengan jalur maritim.
Di Banda Aceh, sumber abad ke-17 menyebutkan adanya dua pasar utama, satu di dalam kota dan satu di luar kota. Pembagian ini mencerminkan pengaturan ekonomi yang terstruktur antara kebutuhan internal dan perdagangan luar.
Sementara itu, di Cirebon, pasar-pasar tua terletak:
- di sudut timur laut alun-alun Keraton Kesepuhan dan Kanoman,
- satu lagi di utara alun-alun Kanoman.
Pasar-pasar serupa juga ditemukan di kota-kota kesultanan lain seperti Somba Opu (Makassar), Banjarmasin, Ternate, dan pusat-pusat kekuasaan Islam lainnya.
Menurut W.F. Wertheim, pasar-pasar ini bukan hanya ruang ekonomi, tetapi arena perjumpaan budaya, tempat pedagang Arab, Cina, India, dan lokal bertemu dan saling mempengaruhi.
BACA JUGA: Islam Membawa Nusantara Menjadi Komunitas Internasional
Kota Islam Nusantara: Ruang yang Dirancang
Dari masjid hingga pasar, dari alun-alun hingga pelabuhan, tampak jelas bahwa ibu kota kesultanan Islam di Nusantara bukan kota tanpa rencana. Ia adalah ruang yang dirancang untuk menyeimbangkan:
- iman (masjid),
- kekuasaan (keraton),
- kehidupan sosial (alun-alun),
- dan ekonomi (pasar).
Kota menjadi cermin dari cara Islam membumi di Nusantara: tidak mematikan tradisi, tetapi mengaturnya dalam kerangka nilai baru.
Masjid menghadap kiblat, pasar menghadap manusia, dan di antara keduanya berdiri kekuasaan yang berusaha menjaga keseimbangan. Di situlah kota Islam Nusantara menemukan bentuknya—bukan sekadar tempat tinggal, tetapi peta peradaban. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE





