Pembatal Pahala Puasa, Harus Tahu

Umar Faqih
3 Min Read
Foto: Freepik

PUASA bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.
Puasa adalah ibadah hati, lisan, dan seluruh anggota badan.
Kalau hanya perut yang berpuasa, tapi lisan dan hati liar, pahala bisa habis tanpa terasa.

Muhammad ﷺ bersabda:

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Artinya jelas. Secara hukum puasanya sah, tapi secara pahala bisa kosong.

Berikut beberapa hal yang bisa membatalkan atau merusak pahala puasa:

1. Dusta dan Perkataan Kotor

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)

Dusta, ghibah, fitnah, mencaci, menghina — semua ini racun pahala.
Puasa itu latihan jujur dan menjaga lisan.

BACA JUGA: Bekerja Berat, Bolehkah Tidak Berpuasa?

2. Ghibah dan Namimah

Membicarakan keburukan orang lain saat puasa itu seperti merobek pahala sendiri.
Sekali dua kali mungkin terasa ringan, tapi di sisi Allah itu berat.

Sufyan ats-Tsauri رحمه الله berkata:

“Ghibah itu merusak puasa sebagaimana api membakar kayu bakar.”

Kalimatnya keras, karena memang dampaknya serius.

https://s.shopee.co.id/14Qk9mkxt

3. Melihat dan Mendengar yang Haram

Mata dan telinga juga harus puasa.
Menonton hal haram, menikmati musik maksiat, scroll konten tidak bermanfaat berjam-jam — ini menggerogoti pahala sedikit demi sedikit.

Puasa melatih kontrol diri.
Kalau layar HP lebih berkuasa daripada iman, itu tanda ada yang salah.

4. Marah dan Emosi Meledak

Puasa itu latihan sabar.
Bukan alasan untuk mudah tersulut.

Rasulullah ﷺ mengajarkan jika ada yang mengajak bertengkar, katakan:
“Aku sedang berpuasa.”

Artinya: tahan diri.
Karena pahala sabar jauh lebih mahal daripada kemenangan emosi.

BACA JUGA: Makan Gorengan saat Buka Puasa?

5. Tidak Menjaga Shalat

Ini yang paling berbahaya.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa meninggalkan shalat bisa menghapus amal.
Kalau puasa jalan tapi shalat bolong, kamu sedang membangun rumah tanpa pondasi.

Puasa tanpa shalat bukan tanda ketakwaan.
Itu tanda ibadah belum utuh.

Intinya

Puasa bukan cuma sah atau tidak sah.
Yang lebih penting: bernilai atau tidak bernilai.

Jangan sampai kita menahan lapar 13 jam, tapi pahala bocor setiap jamnya.
Ramadhan itu kesempatan setahun sekali. Rugi kalau hanya dapat lapar.

Sekarang pertanyaannya sederhana:
Kamu mau puasa yang sekadar sah, atau puasa yang benar-benar mengubah hidupmu? []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *