DUEL pembuka antara Ali bin Abi Thalib, Hamzah bin Abdul Muthalib, dan Ubaidah bin al-Harits melawan para jagoan Quraisy berakhir dengan kemenangan di pihak Muslimin. Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, dan Walid bin Utbah tewas dalam duel tersebut. Itu menjadi pembukaan yang buruk bagi pasukan musyrik.
Setelah duel, kedua kubu saling berhadap-hadapan. Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat untuk tetap disiplin dan tidak bergerak sebelum ada instruksi. Beliau bersabda, “Jika kalian dikepung musuh, lemparilah mereka dengan batu. Jangan menghunus pedang kecuali jika terpaksa.”
Strategi pertempuran berlangsung bertahap: dimulai dengan serangan jarak jauh menggunakan anak panah, kemudian lemparan batu ketika jarak semakin dekat, dilanjutkan dengan tusukan tombak, dan akhirnya pertempuran jarak dekat menggunakan pedang.
Pertempuran berlangsung sengit. Ali bin Abi Thalib kemudian menuturkan bahwa pada hari Badar, para sahabat berlindung di sekitar Rasulullah ﷺ. Beliau berada paling dekat dengan musuh dan tampil paling tegar di medan laga.
Secara perlahan, barisan Quraisy mulai goyah. Tubuh-tubuh mereka bergelimpangan. Dalam waktu singkat, sekitar 70 orang dari pemuka dan prajurit Quraisy tewas, dan sekitar 70 lainnya tertawan. Sisanya melarikan diri meninggalkan medan perang.
Di antara yang tewas setelah duel awal adalah Abu al-Bakhtari dan Abu Jahl, tokoh utama penentang dakwah Islam. Dalam kekacauan perang, Bilal bin Rabah berhadapan dengan mantan majikannya, Umayyah bin Khalaf, yang dahulu menyiksanya di Mekah. Umayyah dan putranya akhirnya tewas dalam pertempuran tersebut.
BACA JUGA: 17 Ramadhan 2 H: Malam dan Awal Badar
Menjelang waktu Ashar, tidak ada lagi pasukan musyrik yang bertahan di medan laga. Mereka yang selamat melarikan diri ke Mekah. Di pihak Muslimin, 14 orang gugur sebagai syuhada, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang tertawan.
Setelah pertempuran usai, Rasulullah ﷺ memerintahkan agar jenazah-jenazah musyrikin tidak dibiarkan tergeletak menjadi santapan binatang buas. Mereka dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam sebuah sumur tua yang telah kering, lalu ditimbun dengan tanah. Tindakan itu menunjukkan bahwa sekalipun dalam kemenangan, beliau tetap menjaga martabat kemanusiaan pihak yang telah menjadi musuh di medan perang. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

